Memendam Rindu

Seseorang menuliskan namaku, “Muhammad Baiquni” di Google. Aku hanya tahu saja, apa yang terjadi pada seseorang itu. Aku cuma tahu, tidak lebih.

Nama-nama yang melumat hatinya mengalir pelan lewat ketikan-ketikan jemarinya. Memaksanya untuk melihat, membuka kerinduan, walau sekedar memandangi nama dan tempat seorang lelaki membongkar kata-kata.

Baca Selengkapnya

The Law of Diminishing Utility

The Law of Diminishing Utility. Jujur, aku sendiri kurang paham artinya. Istillah tersebut muncul dari si neng geulis waktu percakapan kami dihari menjelang pagi. Istillah itu muncul begitu saja ketika entah mengapa pembicaraan kami mulai mengarah kepada bidadari, bidadari ketiga, dan seorang lelaki.

Saat aku ceritakan kepadanya bahwa barusan bidadari sms aku, bahwa dia akan menikah 4 minggu lagi.

Apa itu The Law of Diminishing Utility?

Bisa diistillahkan begini: jika kita TERLALU mencintai sesuatu, maka cinta itu akan cepat habis. Contoh, jika kita suka sekali dengan nenas, kalau TERLALU dan KETERLALUAN banyak makan nenas maka kita jadi muak dengan nenas tersebut.

Tetapi menurutku, hukum tersebut bersifat dialektika. Antara YA dan TIDAK atas keumuman yang diutarakannya. Pada satu sisi bisa saja hukum tersebut bekerja, namun kita jangan menafikan adanya banyak ragam anomali dalam setiap sendi kehidupan.

Baca Selengkapnya

Sepi yang Menghujam

Aku sepi menjalar sumsum. Ingin bersamamu hingga akhir zaman. Aku tak kuasa untuk temukan jasad. Maaf, karena cuma sebegini aku mampu cinta.

Kesepianmu adalah kesepianku juga. Kekalutanmu adalah kekalutanku juga. Demikianlah.

Bukankah Tuhan pernah berkata, jika Aku telah cinta maka Aku akan menjadi matamu, Aku akan menjadi kakimu, Aku akan menjadi tanganmu. Sayangnya, aku tak punya kuasa sebisa Tuhan. Aku cuma mampu merasa apa yang engkau rasa. Ketika jenuh melandamu, aku pun rasa. Ketika kekalutan menyertaimu, aku pun ikut gundah. Salahkah?

Baca Selengkapnya

Nan Tak Kunjung Reda

Nan tak kunjung reda. Bingung. Entah bagaimana aku terus memikirkannya saban hari. Ingin berhenti sejenak dari deburan cinta ini, namun dia seperti ombak di pepantai, tak kunjung surut, tak kunjung reda.

Aku mungkin bisa tersenyum. Aku tertidur. Aku membaca. Aku tersujud, namun hatiku tak mampu dipungkiri, selalu mengarah kepadanya. Aneh nian, tak pernah kami saling bertatap wajah, namun mengapa namanya mengalir di sekujur pembuluh nadiku.

Ingatkah dia tentangku? Apakah dirinya memikirkan aku? Adakah aku di dalam satu bait kehidupannya. Aku ingin dia memikirkan aku seperti aku memikirkan dirinya. Aku ingin dia juga tak reda, seperti aku yang tak kunjung reda.

Baca Selengkapnya

Bidadari dan Bidadari Ketiga itu BEDA

Mungkin banyak yang bertanya-tanya dan kebingungan dengan istillah bidadari dan bidadari ketiga. Harus kutegaskan di sini bahwa sebutan itu mengacu kepada 2 orang yang berbeda. Sebutan bidadari tanpa embel-embel ketiga itu sebenarnya tertuju kepada bidadari kedua, yang mengajarkan aku shalat di sepertiga malamku, sedangkan bidadari ketiga adalah seseorang yang sedang kucintai saat ini.

Sekarang hatiku ini hanya tertuju kepada seseorang, yaitu bidadari ketiga. Jadi hubunganku dengan bidadari cuma persahabatan biasa, tanpa ada embel-embel yang lain.

Dengan bidadari ketiga? Ya berteman seperti biasa juga, tanpa ada embel-embel. Namun hati ini tidak dapat dipungkiri bahwa dia memiliki rasa. Aku sendiri tidak bisa menduga kapan rasa ini akan selesai, atau akan terus berlanjut.

Baca Selengkapnya