Nan Tak Kunjung Reda

Nan tak kunjung reda. Bingung. Entah bagaimana aku terus memikirkannya saban hari. Ingin berhenti sejenak dari deburan cinta ini, namun dia seperti ombak di pepantai, tak kunjung surut, tak kunjung reda.

Aku mungkin bisa tersenyum. Aku tertidur. Aku membaca. Aku tersujud, namun hatiku tak mampu dipungkiri, selalu mengarah kepadanya. Aneh nian, tak pernah kami saling bertatap wajah, namun mengapa namanya mengalir di sekujur pembuluh nadiku.

Ingatkah dia tentangku? Apakah dirinya memikirkan aku? Adakah aku di dalam satu bait kehidupannya. Aku ingin dia memikirkan aku seperti aku memikirkan dirinya. Aku ingin dia juga tak reda, seperti aku yang tak kunjung reda.

Namanya kusebut dalam doa-doaku. Tuhan, ampuni aku yang sedang jatuh cinta. Tuhan, peliharalah kami, lindungilah kami, dan jagalah dia. Jangan biarkan cinta suci yang engkau tancapkan dihatiku ini menjadi salah satu jalan dosa. Tuhan, maafkan aku yang cuma manusia biasa. Tak mampu ku menahan hasrat cinta yang menggebu. Aku seolah tuli, buta, dan bisu.

Rindu. Sekujur tubuhku menggigil rindu. Rindu kepadanya, ingin rasa jumpa. Namun aku tak pernah punya berani di dalam dada. Aku yakin, bertemu dengannya akan membuatku menundukkan mata. Dia bagiku adalah sebaik-baik wanita. Walau terkadang sering aneh tingkahnya.

Nan tak kunjung reda. Entah sampai kapan. Kuharap jangan. Karena engkau berharga, maka akan kujaga. Bidadari ketiga.

  • ijal

    semangat..

  • Ca

    Mungkin, aq cuma cemburu. Maaf.

  • @fifi: yo fi, semangat !!! Masih marah sama Beni. Bidadari ketiga yang jelas bukan orang Aceh fi.

    @Ca: cemburu apa lagi qe? Bentar lagi mo brojol.

  • neng aisyah

    aku juga cemburu 😀

  • loh loh loh, kamu cemburu knapa toh rif?

    Btw rif, kamu yakin sering lelahnya itu akibat penyakit. Mungkin genetika kali rif. Ayah tau Ibumu, atau Kakek nenekmu atau saudara-saudaramu ada juga mengalami hal yang sama tidak?

  • neng aisyah

    ga tau ben, apa aku terpengaruh apa yang kubaca kemarin di kompas ya,,,

    aku kemarin baca artikel judulnya: Bahaya mengobati diri sendiri. Di situ dikenalkan istilah ‘diagnosa eror’ yang kira2 artinya adalah orang awam biasanya menilai penyakit dari gejalanya bukan apa akar masalahnya.

    Nah di artikel tersebut dia kasih contoh yang cocok dengan kondisiku sekarang: kelelahan. Kelelahan itu bisa jadi merupakan gejala dari penyakit lainnya, seperti depresi, hepatitis, jantung, dll. *pokoknya serem-serem contohnya*

    nah, aku jadi berpikir apa mungkin begitu ya,,,,

  • Eka

    Keletihan: keadaan yg dkenali o diri sndri yg individu ini mengalami perasaan kehabisan energi yg blebihn, trs mnerus n pnurunan kapasitas kerja fisik n kerja mental yg tdk dpt dhilangkn dgn istirahat.
    Keletihan bbeda dr kcapaian. Kcapaian adalah sesaat, kdaan smentara krn krg tdur, nutrisi yg tdk tepat, gaya hdp yg monoton, ato pngkatan smentara dlm krja atau tgg jwb sosial.
    Keletihan adlh suatu perasaan yg mresap, subjektif, perasaan hampa yg tdk dpt dhilangkan.
    (Carpenito, 2006).
    Jd, bedakan yg drasa tu lelah yg gmana, letih ato capek?
    🙂

  • dia cuma suka merasa ngantuk dan tidak fokus. Itu masuk ke dalam keletihan atau kelelahan?

  • Eka

    Kok qe yg jwb? 🙂 mencurigakan. . . He2. .
    Klu letih tu terus menerus,bs krn penyakit fisik atau psikologis.
    Klu cuma capek,ya cuma bntar. . Ga terus2. .
    Byk hal laen yg hrs dkaji biar tegak diagnosa/pybb/masalah.
    Baru bs tentukn apa yg hrs dlakukan tuk ngurangi ato cegah tu masalah blanjut. .

    Wallahu’alam. .
    Peace!

  • ijal

    masih wak..tapi dalam bentuk benci sekaligus rindu

    bukan masalah bidadari ketiga orang mana, tapi fi merasa beni belum terbuka/jujur sepenuhnya..waktu fi tanya dulu beni selalu menjauh..beni berasalan karena fi berubah menjadi pemarah (fi pikir, kenapa beni takut fi marah, kalo memang beni ga merasa salah??)..lalu kenapa beni juga berbohong pada fi? beni bilang tidak ingin keluar rumah, tapi fi menemukan beni di warnet si reza?

    kenapa beni seperti lebih percaya liza daripada fi?dan juga selalu membela liza?bahkan beni mengolok2 fi dengan merekaya sesuatu yang kemudian beni klarifikasi sebagai candaan (untuk membuktikan fi itu orangnya terlalu serius)..kenapa setega itu?

    apa aja sebenarnya yg pernah beni katakan ke liza ttg fi dalam bentuk ‘mempromosikan’ fi atau meminta dia untuk mencoba mencintai fi? (fi rasa tindakan beni seperti ini saja sudah sangat sewenang2 terhadap fi)

    sekarang pun muncul cerita aneh.seolah2 fi buang beni?kok bisa?setau fi, fi ga pernah berniat buang beni.sebaliknya, beni menjauh dari fi bukannya itu bentuk membuang fi??fi ajak beni ngopi ga di tanggapi..fi telp ga di jawab..sms ga di balas..tapi ketika beni ajak, bukankah hampir selalu fi penuhi??

    menurut fi, beni masuk terlalu ‘dalam’ dalam relasi fi-liza. beni bahkan (menurut fi) sudah mengintervensi relasi kami itu..dan itu beni lakukan berkali-kali..mgkn beni anggap karena ingin menolong fi, tapi bagaimana bisa di anggap menolong ketika fi sudah katakan pada beni untuk tidak ‘ini-itu’ tapi tetap saja beni lakukan..sehingga fi berprasangka niat beni sudah tidak murni lagi..
    bagaimana ketika di satu sisi beni menjauh dari fi tetapi beni tetap begitu akrab dengan liza?rasanya beni tidak adil sekali pada fi dengan membedakan perlakuan pada fi…

    @rifka : dalam studi empiris (setau ijal), apa2 yang kemudian menjadi temuan studi atau kemudian berlanjut sebagai hipotesa berasal dari ‘gejala’..termasuk yang kemudian di anggap sebagai ‘akar masalah’..bila tidak berasal dari adanya/terlihatnya gejala2 yang berbeda/aneh/unik dari seuatu, bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu itu ‘akar masalah’..?
    barangkali rifka lebih paham..

  • putri tidur

    @ ijal: makasih ijal atas masukannya,,