Kehilangan Kata

Melupakan Kata Melupakan Nama

Awalnya aku mendiagnosis bahwa aku mengalami dimensia, sebuah gejala penurunan fungsi otak. Aku mulai melupakan tentang begitu banyak kosakata yang dulu tersimpan, terkadang ketika berbicara aku lupa hendak mengatakan sebuah kata. Aku pun mulai melupakan banyak nama. Seperti harus mengeja ulang nama-nama yang pernah hadir dalam hidupku, nama-nama yang bersinggungan dengan sebagian episode yang telah kujalani.

Pola pikir juga sama. Aku mulai kesulitan untuk mempetakan begitu banyak masalah dalam rentang yang runut. Pikiranku menjadi semakin abstrak. Bahkan hal-hal yang simpel pun aku kesulitan dan tertatih dalam mengejanya. Mungkin ini karma, tentang aku yang cenderung mudah berkata tidak bisa ketika beberapa orang bertanya, karena menjelaskan sesuatu adalah salah satu kesulitanku dari sejak dahulu kala. Keenggananku seolah menjalar, menghukum hidupku, dan menjadikan aku seperti sekarang ini.

Maka ketika sebuah persoalan diajukan, lebih mudah bagiku mencatat segalanya baru kemudian berpikir dari apa yang tertulis. Namun, terkadang hal demikian tidak juga membantu. Satu ketidaksesuaian seringkali membuatku merontokkan seluruh pondasi yang telah aku pikirkan.

Baca Selengkapnya

Mereka Yang Berjuang

Menjadi tenang di tengah kegundahan bukan perkara mudah. Tentang hati yang bergejolak, bergemuruh laksana ombak di tengah badai. Tak ada kapal yang mampu tenang, kecuali doa yang terus dirapalkan untuk seluruh keselamatan perjalanan. Demikian juga hidup. Menjadi tenang di tengah seluruh masalah yang bertubi datang, di seluruh kisruh yang bertubi datang, bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai.

Beberapa hari yang lalu, aku pun gaduh. Hatiku tak tenang, mengetahui seorang temanku berada dalam seluruh kegalauannya, juga kepasrahan. Beberapa kali aku mendengar tercetus rasa ingin menyerah dari bibirnya. Beberapa kali pula aku tak tahu harus berkomentar apa kepadanya. Namun aku bahagia, tidak surut langkahnya menyerah di tengah kesendirian. Jika aku adalah dia, mungkin telah jauh hari aku berjalan mundur dan menutup seluruh pintu. Melarikan diri dari seluruh kebuntuan.

Aku bahagia. Kehidupan dan waktu telah banyak menempanya menjadi tidak mudah menyerah. Menempanya menjadi sosok yang lebih bijaksana daripada biasanya. Tentang manusia yang terus ingin berjuang, menjadi lebih baik dari hari-ke-hari. Sungguh, aku ingin berada di sampingnya, menjadi mereka yang terus menatap segala anak tangga capaian yang mampu ditapakinya.

Baca Selengkapnya

Sebelum Dunia Tertidur

Aku menutup mata namun dunia masih belum juga hendak beranjak pergi. Orang-orang bising dengan hati dan pikiran mereka. Tentang sumpah dan serapah yang mengalir dari jiwa-jiwa yang kering, yang butuh begitu banyak telaga atau ribuan waduk untuk mengenyangkan dahaga mereka. Namun dunia belum juga tertidur.

Mimpi-mimpi terus dipilin menjadi benang lantas berubah menjadi baju. Mereka pakai bagai zirah. Menutupi demi melindungi, namun sejatinya cuma mengikat, menjerat, mematikan bebas jiwa yang sesungguhnya menari tanpa sayap di langit yang jauh dari angan. Melebihi batas impian.

Baca Selengkapnya

Jam Dinding

Jam Dinding Yang Sekarat

Di rumahku, ada satu jam dinding yang tinggal menunggu waktu untuk “pergi”. Letaknya di atas kulkas yang ada di samping tangga menuju lantai dua, tegak lurus dengan mini bar yang menghubungkan ruang utama — tempat kami menonton tv dan wilayah Khansa (keponakanku .pen) dengan pertempurannya — dan dapur. Jam yang merupakan hadiah pernikahan kakak ketigaku dulu.

Kadang, ketika aku hendak menaiki tangga, jam tua itu seperti memanggilku dengan suara deritnya ketika menunjukkan jam-jam yang genap. Suaranya begitu menderit, bahkan nenekku masih terkesan jauh lebih muda daripada jam tersebut jika menilai dari suaranya saja. Suara derit jam itu ibarat sebuah pepatah lama: “hidup segan, mati tak mau“. Namun herannya, sejak 3 tahun lalu suara deritan itu tetap sama tetapi jam itu tidak juga mati. Sungguh semangat hidup yang patut diacungi jempol!

Baca Selengkapnya

Sujud

Menatap Ke Dalam

Mungkin aku adalah manusia paling buruk yang pernah hadir di dunia ini. Tentang langkah yang semakin hari semakin pengkor, tertatih menyusuri seluruh duri dan kerikil yang tersebar. Belum lagi tentang lumpur yang melekat dan menjadi liat, juga lumut yang melicinkan seluruh jalan. Berkali aku tergelincir. Berkali pula aku mengulang seluruh kesalahan oleh langkah yang tergesa. Aku adalah manusia yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin.

Hatta, masih saja aku mengurusi jalan orang lain. Meneriakkan mereka tentang buta yang menutupi. Membisikkan mereka tentang kerikil-kerikil yang menjelma duri.

Aku belum lagi khatam menatap ke dalam, lantas mengapa aku harus membaca yang lain. Seperti engkau membuka beberapa bab sebuah novel lantas mencampakkan dan mencari lembaran baru dari novel yang berbeda. Akhir yang kau cari tak juga ditemukan.

Pertanyaan — tentang siapa aku — terus saja mengalun tanpa henti. Pertanyaan tentang akhir yang dinantiĀ atau tentang tujuan dari semua kisah hidup ini. Sebenarnya, apa yang sedang aku cari?

Baca Selengkapnya