Bersabar Dalam Kerinduan

Aku harus bagaimana jika aku rindu padamu?” tanya seseorang dengan wajah penuh gelisah.

Bersabar. Aku pun demikian,” jawab lelaki itu tak kalah gundah.

Seorang lelaki dan wanita sedang berada dalam fase yang sangat mengerikan. Sebuah episode yang manusia bumi menyebutnya cinta. Episode yang memiliki fase-fase, dan kali ini mereka memasuki fase kerinduan.

Sangat susah sekali menahan apa yang dinamakan dengan kerinduan. Terlebih, ketika dua suara telah saling jujur apa yang tersimpan di dalam hati mereka. Dan terlebih lagi, ketika masing-masing telah membangun pondasi janji ke arah mana jalan yang akan mereka tempuh. Mengharapkan yang terbaik yang akan Tuhan berikan kepada mereka.

Lelaki tidak kalah gundah dengan sang wanita. Beberapa kali perjalanan, lelaki telah hampir pasti menjadi gila. Gila karena nama, gila semesta gila di mana setiap huruf cuma membentuk dua kata: namanya.

Baca Selengkapnya

Janji Seribu Hari

Kepada seorang bidadari, aku telah memberikan janji seribu hari. Kelak, dalam waktu itu aku akan belajar menegakkan punggungku untuk berdiri. Tidak cuma menjadi seseorang yang telah mampu mencukupi kebutuhan nalurimu, tidak cuma untuk kebutuhan sandang, pangan, dan papanmu. Namun, aku berjanji untuk tegak berdiri, juga berarti menjadi seseorang yang menuntun batinmu. Menjadi satu, kita, sama-sama berjalan di jalan yang penuh bara.

Hari-hari menuju seribu adalah hari-hari yang penuh dengan rindu. Kerinduan-kerinduan, saling terpilin, seperti tali-temali serabut yang memilin menjadi kokoh dan kencang yang bahkan mampu menahan kapal-kapal tongkang. Kerinduan juga seperti serabut tipis, yang mampu dipilin menjadi sesuatu tekad yang akan mampu mengikat apapun, ataupun engkau burai dia, cuma menjadi serabut tipis, yang akan lapuk dan cepat putus. Memilin kerinduan adalah keputusan.

Baca Selengkapnya

Layla Majnun

Seorang lelaki sedang jatuh gila. Kali ini dia bukan lagi jatuh cinta. Namun cinta di atas cinta. Dia telah menjadi gila. Sangat gila. Teramat gila.

“Majnun, kamu!” hardik wanita yang sedang dicintainya itu.

“Sudah lama aku Majnun,” pasrah lelaki. “Kamu aja yang tidak tahu.”

Sudah berabad lamanya lelaki menjadi gila. Gila karena jatuh cinta. Dan cinta itu yang membabat habis edisi waras dari kehidupannya. Dalam hatinya, cuma ada goresan satu nama, yang lain telah pudar terhapus. Cuma nama wanita itu. Nama perempuan itu. Bidadari ketiga.

Baca Selengkapnya

Aku Bahagia

Aku bahagia. Bahagia bisa berarti apa saja.

Tadi pagi, sekitar pukul 10.15 WIB aku tiba di Aula Telkom Flexi, menghadiri acara launching buku “Puisi Di Antara Hari” buah karya kak Afrida Arfah. Di sana ada Ibnu Syahri Ramadhan sebagai moderator dan Riza Rahmi sebagai pembedah buku.

Setelah acara selesai, ada pula sesi meminta tanda tangan kepada penulisnya. Di saat itulah si Riza ngomong, katanya ada yang ingin dia sampaikan kepadaku. Aku kira apa, ternyata yang ingin disampaikan adalah bahwa orang yang aku cintai itu saling berkunjung ke blognya dia dan saling membalas komentar.

Mendengar itu aku tersenyum. Aku senang. Sangat senang.

Baca Selengkapnya

Mencintai dan (tanpa) Dicintai

Ketika aku mencintai seseorang, aku ingin yang terbaik bagi kebahagian seseorang itu. Walau itu berarti, dia berbahagia dengan orang selain diriku. Bagiku itu bukan suatu masalah. Malah aku merasa senang, bahagia yang sulit untuk dijelaskan.

Seseorang yang aku cintai pernah bertanya kepadaku, mengapa aku selalu meminta dia untuk menyukai seseorang yang sedang dia cintai? Dalam artian, mengapa aku tidak memintanya untuk mencintai diriku sendiri.

Aku cuma ingin dia mencintaiku dengan setulus hati. Ketika di dalam hatinya aku mampu meraba ada orang lain di dalam sana, aku ingin dia menuntaskan dulu segala kegilaannya. Aku ingin dia mencerna, dia berpuas berjuang untuk cintanya. Saat dia telah lelah, saat dia telah berputus asa, saat itu ada aku di sana. Masih terus mencintainya.

Bagiku tidak masalah, ketika aku mencintai seseorang tanpa orang itu mencintai diriku. Sama sekali bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kami sudah saling berikrar untuk sehidup-semati atas jawaban cinta, ketika itu dalam hati-hati kami muncul pengkhianatan. Itu yang menjadi masalah. Namun, sebelum ucap kata itu tiba, aku ingin segalanya menjadi jelas, terang, dan sejujur-jujurnya.

Aku tidak pernah meminta dia mencintai diriku. Yang aku ingin cuma satu, dia tahu bahwa aku mencintai dirinya.

Baca Selengkapnya