Suara Yang Tertahan

Ada banyak hal yang ingin aku lepaskan di dalam diriku, namun selalu kutahan. Kemarahan yang bertumpuk, selalu saja aku tahan. Kebosanan, juga aku tahan. Rasa tidak suka kepada seseorang juga aku tahan. Aku menahan segalanya sendiri agar orang-orang di sekelilingku tidak sakit hati. Aku tidak ingin mengumbar egoku, mengumbar rasa yang mungkin saja melegakan namun ternyata menyakiti semua orang. Aku tidak ingin seperti itu.

Aku bosan. Aku marah. Aku kesal. Aku ingin segalanya segera usai. Namun, aku tidak berani jujur kepada setiap orang, karena perasaan yang hinggap itu cuma sementara. Ada kalanya kita butuh rehat sejenak, mencoba menjauh dari semua yang berada di dekat kita agar kita mampu mengambil jarak. Agar kita memiliki kerinduan ketika telah bersama mereka kembali.

Namun, rindu tidak juga datang. Keadaan semakin luntur. Yang tersisa cuma rasa bosan.

Andai kita mampu jujur sesama kita, bahwa kebosanan bukanlah suatu aib. Andai aku, mereka, dia, dan mungkin kamu bisa saling jujur antara sesama kita. Tentang rasa bosan dan penat di antara kita, dan kita mencoba saling terbuka tentang rasa bosan itu. Dan tak perlulah rasa sakit hati mendarah di dalam dada ketika kita tahu bahwa ternyata kitalah yang menjadi obyek rasa bosan tersebut.

Seseorang terkadang rindu dengan suasana baru. Kehidupan baru. Atau boleh jadi, rindu terhadap kumpulan cerita romansa masa lalu. Untuk itulah kita mengenang bahwa terkadang dengan mengingat, rasa bosan akan hilang dengan sendirinya.

Aku merasa sangat bosan. Saat ini. Sekarang juga.

Masa lalu yang aku coba bayangkan, atau masa depan yang aku coba khayalkan, tidak memberi faedah terhadap rasa bosan yang menyerang. Aku mengerti, darimana asal bosan itu hadir. Tetapi, aku tidak bisa katakan dengan sejujur-jujur perkataan mengapa dia mampu hadir, dan mengapa aku tidak sampai hati untuk mengatakan kepada dia yang menjadi sumber bosanku. Aku paham, ini adalah perasaan temporer.

Aku bukan pemain catur yang handal. Yang mampu me-reka dengan bijak sepuluh langkah ke depan dalam hidupku. Bukan pula seorang plainer, yang mampu merencanakan kehidupan berpuluh-puluh tahun ke depan hendak menjadi apa. Aku cuma seorang manusia yang berjalan sesuai dengan jalannya. Aku mengikuti ke mana arah jalanku menuju, karena toh, setinggi-tinggi aku terbang, aku akan kembali pula kepada Tuhan.

Aku tidak pernah berani mengambil keputusan. Ketika ucap kata kebosanan aku ceritakan, apa yang akan terjadi dengan hati setiap orang yang mendengarkan. Aku lebih senang berbicara dengan bahasa bersayap. Orang-orang menjadi tidak paham, bahwa merekalah yang sedang aku ceritakan. Di depan mereka, di hadapan muka mereka, aku ceritakan tentang diri mereka sendiri. Dan mereka masih mampu memberikan saran tentang apa yang harus aku lakukan, tanpa mereka mau mengeja saran yang sama dalam kehidupan mereka.

Kehidupan adalah siklus. Sebuah putaran tanpa pangkal dan ujung. Hari ini engkau membenci, esok mencintai, esok menyakiti, esok menghargai, esok engkau ingkari, esok khianati, esok sebenci-benci, esok kembali mencintai.

Beberapa manusia adalah lakon yang tidak memiliki suara tertahan. Mereka berjalan dengan kebencian di sekeliling mereka. Mereka lebih menghargai diri mereka sendiri dibandingkan menghargai orang lain. Kadang aku merasa sangsi, apakah mereka itu yang disebut dengan kebebasan. Mereka bebas dengan rasa bosan di dada mereka lantas mereka keluarkan. Pada lakon yang lain, mereka merutuki diri mereka sendiri terhadap rasa bosan yang mendera. Mereka meringkuk dengan mengaduh kepada orang lain.

Aku tidak bisa seperti mereka. Tidak mampu menyuarakan rasa bosanku terhadap mereka yang menjadi sumber bosanku. Tidak pula mampu meringkuk mengaduh kepada orang lain terhadap mereka yang ingin aku umbar mengapa menjadi rasa bosanku. Aku tidak mampu.

Apakah aku adalah lakon yang paling buruk. Mereka yang terperangkap tanpa menemukan pintu keluar. Lakon yang cuma mampu membisu. Lakon dengan hidup: SUARA YANG TERTAHAN.

Incoming search terms:

  • dea

    ketemuan yok ben bareng anak-anak FLP, biar nggak bosan. lama nggak jumpa beni.

  • dea

    belom. besok insyallah.

  • Pasti tulisan ini lahir dari pemikiran yang panjang.. Tentang penggalan penggalan hidup dan kehidupan, tentang suara suara yang tertahan..

  • cuma sedang di puncak kebosanan masbro

  • keren banget nih tulisan , si penulis kyknya pujangga yang sedang bosan .. “Aku lebih senang berbicara dengan bahasa bersayap” <— nice word šŸ™‚

  • btw makasih mas sudah mampir, puisi yg mas kasih sgt indah dan sudah saya balas šŸ™‚

  • mas, tulisannya bagus. saya punya teman yang gaya tulisannya mirip2 sama situ. tapi dia perempuan. btw, udah mulai nulis dari kapan?

  • mas Nur, saya mulai menulis sejak saja sudah bisa membaca. Sebelum bisa membaca juga sudah mulai mencoba menuliskan abjad :D, Hehehhe…

    Wah, siapa mas yang punya tulisan mirip gaya bahasa saya? Kenalin donk.

  • terimakasih mas Ichsan udah mampir. Kalau saya jarang bikin puisi, kadang suka susah buat merangkai kata-katanya

  • Sya

    Wah keliatannya tingkat kebosanannya udah memuncak ya.
    Refreshing aja mas šŸ™‚

  • kadang memang saya moodnya suka rusak mbak/mas šŸ™‚

    • lia

      izin share ya !!

  • Ah, nikmati saja apa yang ada saat ini.

  • ini juga sedang berusaha dinikmati

  • Sle

    Eleh!

    Yg penting, wisuda tahun ni qe ya! Amin.

  • IHH KENAPA JD MIKIRIN WISUDA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  • Pingback: Facebook()

  • Wielim

    Great…like tis….ijin share y thanks