Bosan Itu Datang

Pada beberapa orang aku bertanya, “apa yang kalian lakukan ketika rasa bosan datang menyerang?

Beberapa memberikan saran:
– coba lakukan hal-hal yang baru,
– ajak teman-temanmu bermain,
– tidur lantas berkhayal tentang keindahan,
– membaca terjemahan bahasa Inggris,
– memasak,
– dll.

Intinya adalah lakukan sesuatu yang membuatku tidak bosan. Sayangnya ketika bosan aku cenderung malas, dan merasa mudah sekali menyerah. Aku pun mencoba meng-sms beberapa teman, namun sepertinya mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak ada yang bisa diharapkan.

Tidak ada? Tidak juga. Beberapa dari mereka yang sudah memberiku saran, mereka walau tidak disadari telah membongkar sedikit rasa bosan itu untuk pergi. Aku menemukan kehangatan dari percakapan dengan mereka. Aku menemukan kesenangan, walau cuma sms balasan ringan tentang apa yang mereka lakukan.

(lebih…)

Sempurna Itu Sederhana

Sempurna itu sederhana. Bagiku, sempurna itu adalah: “aku ingin ketika aku bosan, seseorang ada di depanku di mana aku bisa bercerita tentang segala hal kepadanya untuk mengusir setiap bosan yang melanda“.

Sayangnya, sempurna itu tidak ada.

Orang-orang yang kita cintai atau mengaku mencintai kita, mereka hidup dalam dunia dan perspektif mereka masing-masing. Mereka tidak selalu ada ketika kita membutuhkan mereka. Mereka tidak benar-benar ada ketika kita mengharapkan mereka. Masing-masing dalam ego kemanusiaannya ingin diperhatikan daripada memberikan perhatian. Itulah watak manusia.

Dulu ada seseorang yang memperhatikan aku dengan begitu sempurna namun aku menyia-nyiakannya. Sekarang dia telah memiliki seseorang yang memang pantas untuk dia cintai. Dan sekarang aku berusaha memberikan apa yang aku bisa kepada seseorang yang lain, yang aku duga mampu memperhatikan diriku, namun hidup tidak selamanya statis dan berjalan linier. Seringnya, hidup itu dinamis dengan naik-turun kehidupan yang cukup fluktuatif.

(lebih…)

Suara Yang Tertahan

Ada banyak hal yang ingin aku lepaskan di dalam diriku, namun selalu kutahan. Kemarahan yang bertumpuk, selalu saja aku tahan. Kebosanan, juga aku tahan. Rasa tidak suka kepada seseorang juga aku tahan. Aku menahan segalanya sendiri agar orang-orang di sekelilingku tidak sakit hati. Aku tidak ingin mengumbar egoku, mengumbar rasa yang mungkin saja melegakan namun ternyata menyakiti semua orang. Aku tidak ingin seperti itu.

Aku bosan. Aku marah. Aku kesal. Aku ingin segalanya segera usai. Namun, aku tidak berani jujur kepada setiap orang, karena perasaan yang hinggap itu cuma sementara. Ada kalanya kita butuh rehat sejenak, mencoba menjauh dari semua yang berada di dekat kita agar kita mampu mengambil jarak. Agar kita memiliki kerinduan ketika telah bersama mereka kembali.

Namun, rindu tidak juga datang. Keadaan semakin luntur. Yang tersisa cuma rasa bosan.

(lebih…)

Bosan, Tuhan, Budak, dan Manusia

Kadang seseorang bisa menjadi begitu bosan dengan rutinitas harian mereka. Terkadang mereka bosan dengan pekerjaan yang dengannya mulut mereka tersuapi, kadang dengan pasangan yang telah memberi mereka anak. Dan beberapa orang aku ketahui mulai bosan dengan kehidupan, mereka bosan dengan Tuhan. Ada beberapa orang yang semakin hari semakin ramai di kalangan mereka. Mereka percaya bahwa alam mampu hadir tanpa peran Tuhan. Dan manusia mereka anggap berasal dari monyet.

Baiklah. Kita tidak akan membahas tentang mereka. Karena tugas kita adalah berbicara, mengajak dengan sebaik-baik bahasa dan perkataan. Masalah mereka menurut apa yang mereka pikirkan, atau apa yang kita pikirkan, itu adalah urusan Tuhan. Tugas kita bukan memaksa mereka, cuma Tuhan yang mampu memaksa. Tugas kita adalah cuma menyampaikan, apa yang semestinya tersampaikan.

Dan aku bosan. Aku mulai bosan dengan rutinitasku yang cuma hampir 24 jam berada di kamar bahkan tidak menjejakkan kaki ke pintu terluar atau pagar dari areal rumah ini. Sungguh aku bosan untuk terus berada di kamar. Aku ingin pergi, sama seperti orang pada umumnya: menikmati udara dan sinar mentari.

Aku bosan dengan laptopku yang cuma 1 jam aku matikan di antara 24 jam perputaran waktu sehari-semalam. Aku bosan dia tetap hidup dan terus bercahaya. Aku ingin di padam, lantas semua lampu juga aku matikan. Aku ingin nyenyak tertidur tanpa harus bangun dengan perasaan pelik dan gundah.

(lebih…)

Aku Membosankan

Aku membosankan. Aku rasa, demikianlah aku.

Habis Isya tadi, begitu pulang, aku merasa sangat bosan. Dari sore tadi aku juga sangat bosan. Jujur, aku tidak tahu mengapa. Dan mengapa kita merasa bosan? Karena diri kitalah yang membosankan.

Aku mengetikkan hal tersebut di status facebook. Rata-rata teman mencoba menyemangati aku bahwa aku bukanlah orang yang membosankan. Beberapa bercerita bahwa mereka senang berada di dekatku, dan menunggu lawakan-lawakanku berikutnya. Bahkan seseorang sempat mengirimkan sebuah pesan, bertanya, apa yang terjadi padaku sebenarnya.

Tidak ada terjadi apa-apa selain aku mulai mengerti bahwa aku ini membosankan.

(lebih…)