Kebingungan Mutlak

Dari kemarin aku tidak enak mood, tetapi berusaha tetap menjadi biasa. Perasaan itu sangat mengangguku. Perasaan bersalah. Nantilah akan kuceritakan bagaimana kronologisnya tentang kesalahan yang aku perbuat terhadap dosenku tersebut. Aku sangat kebingungan.

Sebenarnya tidak butuh pendapat orang lain bahwa yang jelas-jelas salah adalah aku, namun aku ingin menuangkan semua rasa kesalku terhadap diriku sendiri. Dan keadaan semakin rumit. Aku adalah tipe cowok yang agak penakut dan hampir dipastikan tidak berani memasang wajah untuk meminta maaf.

Makan rasanya hambar. Aku cuma makan kalau memang sudah teramat lapar dan kakiku menggigil serta kedinginan. Aku ingin bercerita kepada dia namun rasanya dia terlalu sibuk. Jadi lebih baik aku bercerita kepada kawanku yang lain.

Tetap saja tidak membantu sebenarnya. Karena perasaan itu hilang ketika kita bercerita dan akan kembali hadir begitu telepon ditutup.

Nantilah akan aku ceritakan bagaimana bisa semua itu terjadi, namun tidak sekarang. Kondisi psikologisku tidak memungkinkan aku menceritakan secara runut dan serba obyektif. Takutnya yang ada adalah pesan-pesan yang penuh sarat dengan nilai subyektifitas.

Semalam aku memikirkan ini dan aku menangis.

  • Ade

    Tegar, Quni!

  • ikut bingung bacanya. tapi jangan lama lama ya bingungnya…

  • huff.. hanya satu kata untukmu bang, sabar dan positif thinking saja bg…

  • om quni, kalian tdk sediri ada kami

  • Fox

    .q juga ngalami masalah yg sama, sekarang aku gak punya teman sama sekali gara” diriku yang penakut ini takut tuk memperlihatkan wajah penyesalan.
    semua orang bilang .q terlahir untuk hidup senang tanpa dosa,tapi sekarang yang ku dapat karena sebuah takdir