Tahun Baru dan Perubahan

Mereka yang bijak tidak perlu tahun baru untuk berubah

— Muhammad Baiquni —

Tahun Baru 2014
sumber: flickr.com

Seorang teman berkata, dia akan mulai berubah, nanti, tepat setelah letusan pertama kembang api tahun baru ini diledakkan. Ketika riuh terompet di tengah malam pergantian tahun dibunyikan. Saat orang berteriak “HAPPY NEW YEAR!“, ketika mereka bersorak, berlompat, berpelukan. Atau boleh jadi, ketika beberapa orang lebih nyaman menyewa hotel dan melalui tahun baru bersama pasangan. Saat itulah teman saya akan berubah. Demikian janjinya.

Saya menyeringai saat itu. Apakah harus menunggu pergantian tahun untuk berubah? Terkadang kita menjawab: IYA. Butuh momen, seperti butuhnya kita terhadap batu pijakan untuk melompat. Tetapi, tidak harus selalu.

Mereka yang bijak tidak butuh momentum untuk berubah. Setiap detik adalah momentum mereka agar berubah. Begitu menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, mereka akan terus melakukan perubahan. Begitu seterusnya, hingga segalanya berjalan mendekati sempurna.

Baca Selengkapnya

Seribu Tahun Penantian

Terowongan Terpanjang
Sumber: kidnesia
Seribu tahun. Akhirnya aku menemukanmu.

Dulu sekali. Dulu yang jika diulang terasa begitu singkat. Apa engkau ingat? Ketika saat tangan kita terlepas, padahal jurang itu begitu dalam dan curam. Aku melepaskan genggamanku terhadapmu. Menolak engkau ikut terseret ke dalam pusaran mautku. Ketika bias tetes air matamu malah menyentuh pipiku. Dan dari kabur matamu yang berair, samar, engkau melihat senyumanku. Ingatkah?

Dalam senyum terakhirku. Berdetik sebelum bumi meremukkan seluruh tulang dan sendiku. Teriakku untuk menemukanmu. Di dalam perjalanan hidupku yang tak akan berhenti. Tak ada usai. Aku menolak seluruh nirwana. Menolak menyelesaikan segalanya, demi engkau yang ingin aku temukan kembali.

Perjalanan kadang memang tidak sesuai bayangan. Apa yang telah aku impikan, berbeda jauh dengan apa yang bumi takdirkan. Beratus kelahiran, aku gagal menemukanmu. Kecuali sekarang.

Engkau. Sedetik pun, tak ingin aku melepaskanmu!

Baca Selengkapnya

Beri Aku Luka

It’s because I can feel pain that I was able to grow stronger.

— Sun Ken Rock —

Sun Ken Rock
Sun Ken Rock
Itu salah satu percakapan antara Sun Ken Rock dengan seorang lawannya. Aku membacanya di situs mangahere.com. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari di dunia ini, termasuk dari sebuah komik. Dan dialog tersebut sangat terasa bagi saya, sebagai salah satu fans setia komik Sun Ken Rock.

Manusia sering membutuhkan luka untuk belajar menjadi dewasa. Memang tidak menjadi keharusan, sebagian bisa dipelajari dari pengalaman hidup orang lain, namun untuk beberapa kasus, pelajaran cuma mampu didapatkan dari sejumlah luka.

Filosofi ini sering aku dapatkan ketika mengikuti ujian. Ketika ujian diberikan, pikiran terfokus berkonsentrasi untuk mencari sejumlah jawaban. Merunut ulang setiap apa yang telah dipelajari, membayangkan, membangun diagram dan sejumlah peta pemikiran. Biasanya, jika kita belajar ketika ujian sedang berlangsung, pelajaran itu akan lebih mengena. Atau, misal kita menyontek saat ujian, mungkin jawaban contekan itu akan terus terngiang.

Pelajaran dari luka yang menganga akan terus diingat sepanjang masa.

Baca Selengkapnya

Tuhan Yang Mahabaik

Tuhan Mahabaik
sumber: jawaban.com
Andai kita, manusia, mau sebentar saja berhenti kemudian menyimak semua apa yang telah kita alami. Di sana kita menjadi sadar, Tuhan telah begitu baik kepada kita. Teramat baik. Kelewatan terkadang.

Bagaimana tidak baik coba? Saat sehasta-demi-hasta, berjengkal-jengkal, bahkan melewati depa, kita berlari jauh meninggalkanNya, namun Dia tetap mengutus seseorang untuk membawa kita kembali ke jalan yang benar.

Tidakkah kita melihat? Saat suatu negeri telah begitu rusak. Apakah Tuhan langsung menghukumi mereka?

Tidak temanku, sungguh sekali-kali tidak demikian apa yang Tuhan perbuat. Sebelum Dia membalikkan bumi-bumi, Dia terlebih dahulu mengutus para nabi dan rasul. Berbicara dari lisan yang paling suci dan sabar, tentang kehendak Tuhan yang telah mereka langgar. Berbicara dengan sebaik-baik ucapan, bahwa Tuhan teramat mencintai mereka. Hingga waktu yang telah ditentukan tiba.

Baca Selengkapnya

Ablasio Retina

pandangan mata ketika ablasio retina
pandangan mata ketika ablasio retina
Mulai tanggal 22 Agustus 2013 yang lalu, saya telah kehilangan separuh penglihatan saya pada mata kanan. Awalnya cuma kabut asap pada mata, saya duga itu karena kacamata, tetapi selepas kacamata dilepaskan, efek kabut asap itu masih tetap ada. Saya masih berpikiran positif, mungkin ada cairan di mata saya atau apalah itu, atau mungkin karena saya baru bangun tidur saja. Saya belum berpikiran buruk ketika itu, tidak pula menduga ini akan menjadi suatu hal yang serius.

Jumat, pagi hari, kabut asap mulai berubah menjadi setengah bulan yang membuat mata saya kehilangan cahaya. Awalnya setengah bulan itu cuma bertengger menutupi sepertiga penglihatan, namun dengan cepat, saat sore hari, ketika saya hendak dioperasi, setengah bulan itu telah menjelma menutupi separuhnya.

Lepas shalat Jumat, siangnya saya dan teman saya — Faza Satria Akbar — berangkat ke Rumah Sakit Cicendo. Saya masih belum tahu, bahwa satu-satunya pengobatan untuk kasus mata saya adalah operasi. Di sana, saya mendaftar kemudian menunggu. Saat giliran saya diperiksa, dokter memeriksa mata saya dengan teliti. Dokter di sini sangat ramah, pelayanannya pun bagus, ketika dokter bilang saya harus dirujuk ke ahli retina, saya mulai khawatir, terlebih tindakan harus segera dilakukan atau besar kemungkinan saya akan cacat permanen. Dokter memberikan beberapa rekomendasi ahli retina yang tersedia di kota Bandung.

Untung Faza mengerti benar jejak rute angkot di kota Bandung. Saya sangat terbantu saat itu. Maka, kami pun berangkat ke salah seorang dokter ahli retina rujukan dari dokter Cicendo tersebut.

Baca Selengkapnya