Tanpa Arti

Bagi dunia, aku bukan apapun.
Bagi seseorang, aku bukan siapapun.
Bagimu, aku ini apa?

Tak pernah ada manusia yang menganggapku lebih atau berarti. Aku ini seperti sampah, dibuang saat tak lagi dibutuhkan. Atau seperti anjing. Atau lebih buruk dari itu.

Lihatlah, berapa dari mereka yang menganggapku berarti? Bahkan seseorang yang aku merasa dia mencintaiku dan aku mencintainya, dia menganggapku tak lebih dari seorang penganggu.

Begitu burukkah aku?

Apa tak cukup arti sebuah kesetiaan? Apa tak cukup arti beribu pengorbanan? Lalu mau-mu apa?

Aku adalah tak berarti. Aku bukan siapapun untuk mampu mengubah apapun. Bagai sehembus nafas, menjadi terlupa saat hembus berikut. Menjadi sesuatu yang wajib untuk ditinggalkan setelah semua hal yang terjadi. Menjadi sesuatu yang wajib untuk dilupakan setelah semua terekam mindala.

Aku ini seperti sebongkah batu. Seperti berhala yang pantas untuk ditumpas. Berhala busuk yang tak ada arti, bukan seperti sesembahan kaum pagan yang menjulang dalam kuil-kuil gemerlap yang dikerubuti ribuan.

Pernahkah kamu memperhatikan sampah? Teronggok kaku tak tersentuk setelah segala manis habis ditelan, menjadi sepah yang tak pantas ada bahkan untuk sekedar dikenang.

Aku bukan apapun untuk siapapun. TANPA ARTI.

Sakit

Dengan hari ini, berarti kurang lebih sudah satu minggu kepalaku pusing-pusing. Dan aku juga meraba, di belakang telingku sebelah kiri muncul benjolan yang awalnya kecil menjadi agak besar.

Aku tak tahu ini sakit apa.

Aku sudah tanya ke Kak Iti, kakakku yang sekarang sedang mengambil spesialis pulmo di Jakarta. Aku telah mencoba berkonsultasi dengannya. Dia menyarankan aku ke THT.

Agak malas seh pergi ke dokter. Huff…

Ternyata Aik juga pernah mengalami hal yang serupa denganku. Kata Aik, benjolan itu akan semakin membesar dan tidak cuma tumbuh satu. Aik juga merasakan rasa pusing yang hebat ketika itu. Kata tantenya Aik yang pinter, katanya Aik terlalu banyak beban.

Mungkin aku juga seperti Aik, terlalu banyak beban.

Kalo dipikir-pikir, aku dan Aik terkadang memiliki banyak kesamaan. Aku jerawat di hidung, eh dia juga jerawat di hidung. Aku flu dia juga flu. Hu uh, si Aik cuma others can only fallow deh.

Kira-kira apa aku mati ya dengan penyakit ini? Huff, masih banyak dosa!

Moga-moga ini bukan berarti apa-apa. Bukan tumor atau kanker atau penyakit berbahaya lainnya. Semoga saja.

Teman-teman, doain aku baik-baik aja yah.

Ben, dah ke rumah sakit? Kok blom, katanya sakit. Di sini banyak kanker pada usia mula lho. Periksa terus.” Itu sms kakakku terakhir. Moga-moga aja kejadiannya tidak seburuk itu.

Amien…

Salam Perpisahan

Entah mengapa, rasanya cukup sampai di sini aku melangkah. Mungkin aku memang telah terlalu lelah. Mengejarmu, membangun mimpiku, memintamu menjadi pendampingku.

Aku juga tahu, kamu pasti telah bosan denganku bukan? Sudahlah, tak perlu mengeja perasaanku. Lebih baik kamu pikirkan tentang dirimu sendiri, tak perlu ragu untuk ucapkan salam perpisahan, mungkin takdir kita hanya cukup sampai di sini.

Andaikan aku dukun, aku cuma menginginkan satu keistimewaan. Aku ingin melihat paling dasar hatimu. Aku ingin melihat nama seseorang yang sedang engkau sembunyikan itu. Aku cuma menginginkan itu.

Aku pengganggu. Bukankah itu yang sedang engkau alami wahai Taman Surga-ku? Terlalu pengganggukah aku sehingga engkau mendiamkan aku tak menggubris. Engkau campakkan aku dalam keheningan dan kesunyian. Engkau campakkan aku dalam jutaan kemelut rindu.

Maaf karena aku telah jatuh cinta padamu.

Maaf bila rasa ini tak mampu kubendung.

Maaf jika cintaku ini hanya membuatmu sakit perut dan mual ingin segera meninggalkan aku.

Maaf bila aku tak mampu menyembunyikannya.
Baca Selengkapnya

Kesepian Part 2

Andai aku memiliki teman yang mampu mengerti bagaimana rasa kesepian itu. Bukan kesepian biasa yang mampu hilang dengan sendirinya. Kesepian ini begitu menggugat, meminta untuk diperhatikan atau jiwa menjadi taruhan.

Tak ada yang mengerti aku di dunia ini. Tak pernah ada.

Aku berjalan sendirian di dunia ini dalam jiwa yang sepi dan hampa. Aku tidak membutuhkan kekasih teman, aku membutuhkan seorang sahabat. Seorang sahabat yang mampu membawa cahaya dalam ruang pengap gelap hatiku ini.

Bukankah kamu tertawa Ben?” Tanya seorang teman. “Lantas, mengapa sepi masih melanda.

Andai engkau mampu mengerti teman. Andai engkau mampu mengerti…
Baca Selengkapnya

Kesepian

Sepi… Sepi…

Sepi itu memuncak menjadi semakin tak kumengerti. Adakah dia menjadi pemicu? Aku sungguh tak mengerti.

Rasa sepi itu begitu terasa, menggigit, dan hampir-hampir aku setengah mati.

Ahh, andai ada yang mampu memahami. Andai…

Bahkan Wendri pun tidak, bahkan teman-temanku yang lain.

Takdirku untuk selalu sendiri. Atau memang aku yang menutup diri?

Rasa sepi yang tak akan terbantahkan, bahkan Taman Surga tak mampu mendebatnya. Tak seorang pun. TAK SEORANG PUN!

Teman, andai engkau mengerti. Andai engkau mengerti…