Sebongkah Letih

Letih ini menghimpitku
antara segempal atau sehasta
tak beraturan terurai mengacak nadi
bibir membiru aku keracunan
letih… teramat letih

Mengapa tak mendebat?
Mengapa cuma diam?
Mengapa cuma hening saat dirimu dipaksa?
Takutkah?

Teramat lama…
Letih yang terus berdenyut dari awal kehidupan
Setelah mati ribuan kali dan hidup ribuan
Letih itu tetap tersimpan di tempat yang sama

Tuhan,
kapan kau hancurkan dunia ini?
Hingga letih pun hancur
bersama dunia yang terhapus.

Baca Selengkapnya

Berbicara Aku Sahabat

Suatu hari ketika sedih itu datang,
hati membisikkan kalimat ini padaku:
“Jika hidup adalah kumpulan airmata,
maka biarkan ia jadi danau
dan pahala dalam hatimu…”

( Windri Septi Januarini )

Rehat sejenak, ternyata aku memiliki teman-teman yang peduli padaku. Ternyata aku tak sesepi yang kuduga. Aku masih memiliki sahabat.

Untuk urusan dunia, aku memiliki R.A Dyah Hapsari Rahmaningtyas atau lebih sering dikenal Aik sebagai teman curhat. Seseorang yang mendebatku dengan cara konyol dan tingkah tololnya. Seseorang yang berkata sesuatu yang hampir belum ku dengar, “Ben, bukan mereka yang meninggalkanmu, tetapi kamulah yang meninggalkan mereka. Kamu membangun tembok tebal yang mengelilingi hatimu.

Untuk urusan hati, aku memiliki Wendri sebagai tumpuan. Seorang teman dimana segera aku menjadi begitu ringan dengan kata-kata tulusnya. Seseorang yang pernah mengijinkan aku menangis dimana semua manusia menentangku untuk meneteskan airmata. Seseorang yang pernah berkata, “Pada mulanya adalah kaki, lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu. Pada mulanya adalah hati, lalu perjuangan dari ragu ke ragu. Windri ga bisa ucap apa-apa, kecuali menangislah beni, apa yang akan terucap jika air mata berbicara lebih dari segalanya. Pria juga memiliki kelenjar air mata kan? MENANGISLAH. Kamu tidak salah!

Aku juga memiliki seorang Nidya Ratih Anjarini. Seorang teman yang sering bertanya tentang persoalan-persoalannya kepadaku, membuatku menjawab, dan membuatku merasa bahwa ternyata aku cukup berguna bagi dunia ini walaupun hanya seserpihan debu.

Lelaki, aku juga memiliki dia sebagai teman. Seorang teman yang kurasa bijaksana dan dewasa walaupun terkadang mampu ku lihat setitik iblis dalam pemikirannya.

Ternyata aku tidak sendiri. Ternyata aku masih memiliki teman. Namun jiwa ini tak mampu dibohongi, aku tetaplah dalam ruang sunyi hitam itu. Aku tetap dalam kehampaan sempurna.

Aku ingin segera berubah.

Kepada Afif, atau sang Novelis Yusaku yang menjadi psikolog-ku, aku sering bertanya. Sesekali berkonsultasi dan menimba ilmu, ternyata belum semua sisi kehidupan mampu kumaknai. Ada banyak sisi lain yang belum kutahu itu apa. Atau mungkin itu cuma kendala bahasa.

BERBICARA AKU SAHABAT
Baca Selengkapnya

Dada Kiriku Sakit

Ne sedang ngenet, entah napa tiba-tiba dada kiriku sakit.

Awalnya aku merasakan ini saat ikut USM ITB di Bandung (kagak lewat 🙁 ). Waktu jalan-jalan ke pasar, mungkin karena terlalu berat ransel yang ku bawa, dada belakangku sakit, lalu menyebar ke dada sebelah kiri. Sakit banget rasanya.

Periksa ke dokter, trus dikasi obat. Sembuh.

Dokter saranin seh aku sebaiknya di check up, tapi ga jadi. Dia curiga aku kena penyakit jantung.

Kata ayahku, aku cuma masuk angin. Mungkin juga seh.

Sekarang, sakit ini datang lagi. Sakit banget…

Jantungku seperti ditusuk. Tetapi kali ini berbeda, datangnya sakit itu tidak seperti dulu, yang mana sakitnya dari punggung lalu menjalar ke jantung.

Sekarang, sakit ini langsung menohok ke dada.

Mudah-mudah cuma masuk angin.

Amien…

Belajar Melupakan

Ijinkan aku belajar melupakanmu. Aku yakin, kau pasti menginginkan aku mempelajari itu. Namun aku ragu, benarkah tidak ada setitik cinta pun di hatimu terhadapku. Setelah semua kenangan yang kita ciptakan. Setelah semua memoriku terisi oleh namamu.

Maafkan aku jika membuatmu tersakiti. Katakan saja jika memang iya, karena aku bukan orang yang mampu mengerti letak dimana salahku.

Mengapa hanya diam. Mengapa hanya mengacuhkan. Atau memang begitu caramu untuk mencampakkan?

Aku sadar. Mungkin dalam perjalanan panjang kita pun engkau telah tersadar. Aku tak pantas untukmu. Aku hanyalah serpihan debu yang tak berarti, sedangkan engkau laksana puteri bagiku. Jujur, aku selama ini tersilau.
Baca Selengkapnya

Ucapkanlah Sayang

Hancurkan tembok tebal itu
Ucapkan lah sayang kepada semua
Biarkan cinta mengalir
Maka senyum kan kembali bersemi

Malam ini dengan semua sisa pulsa, ku kirimkan sms dengan ucapan “Aku sayang kamu” kepada semuanya. Kepada semua temanku.

Aku ingin menghancurkan tembok hati ini. Tembok yang baru mampu ku raba setelah seorang Aik berkata, “Ben, bukan mereka yang meninggalkanmu tetapi kamulah yang meninggalkan mereka. Kamu membangun tembok tebal yang mengelilingi hatimu.

Aik, aku akan menghancurkan tembok ini sekarang juga. Aku ingin tetap tersenyum seperti dulu, saat aku masih sebagai manusia.

Ucapkanlah sayang dan hancurkan tembok tebal itu.

Dulu, aku sengaja membangun tembok itu. Aku hanya ingin melihat seseorang yang berusaha menghancurkan tembok itu dari dasar hatiku. Aku hanya ingin mengetahui, seseorang yang benar-benar membutuhkan aku sehingga dia menggugurkan tembok tebal itu.

Lama, teramat lama. Namun tak ada yang mampu. Tak ada yang berusaha membongkarnya. Tembok itu terus menebal dan berlumut. Menjadi racun dalam jiwaku, dalam diriku. Dan aku pun mati suri.

Tanpa sadar aku telah membangunnya. Yah, aku membangunnya tanpa sadar.

Aku menjadi tak peduli berapa orang yang akan meninggalkan aku. Aku menjadi begitu egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Bahkan saat aku memikirkan mereka, sebenarnya aku memikirkannya untuk diriku sendiri.

Aku tak peduli mereka akan meninggalkanku, sungguh tak peduli karena aku tak membutuhkan mereka. Persetan dengan cinta dan tetek bengeknya, persetan dengan itu semua. Aku seolah peduli dengan mereka padahal tak ada sedikitpun rasa peduli. Aku melakukannya untuk diriku sendiri.

Kini, aku ingin menghancurkan tembok tebal itu. Aku ingin menghancurkannya!!!

Aku ingin menghancurkannya setelah sekian lama tembok itu berdiri. Setelah tembok itu mematikan aku sebagai manusia. Namun aku kecewa, tak ada yang mencoba menghancurkan tembok itu dari dasar hatiku. Ternyata aku harus menerima, bahwa sama sekali tak ada yang peduli denganku.

Sudahlah, tak perlu mengeja itu. Kini saatnya untuk menebar sayang. Tak peduli apa ada yang peduli padaku, tak perlu ku pedulikan! Cukuplah aku yang menyayangi mereka, cukuplah itu saja!

Hancurkan tembok tebal itu
Ucapkan lah sayang kepada semua
Biarkan cinta mengalir
Maka senyum kan kembali bersemi

Baca Selengkapnya