Cinta Itu Berat

DatulSumpah aku benar-benar mencintainya. Cinta yang dalam yang sedang kurasakan. Aku masih menyimpan SMS tanggal 9 Juli 2007 jam 3:59 pagi saat dia juga berkata suka padaku, aku masih menyimpannya hingga sekarang. SMS yang selama ini kukenang. SMS yang jika kubaca mampu membangkitkan semangatku ditengah keletihan jiwa, SMS yang selalu kumaknai mampu membuatku menempus atmosfir-atmosfir bumi untuk meluncur ke langit ketujuh. Sumpah!

Salahkah aku?

Aku mungkin bukan pria seperti pada umumnya. Aku tak mudah untuk melupakan cinta, tidak mudah. Saat pagi ini tanggal 23 November 2007 jam 6.00 pagi dia sms ingin berteman saja denganku, aku cuma bisa pasrah. Saat menerima itu, aku menggigil, muntah-muntah, tanganku gemetaran, aku serasa sakau. Sungguh, cinta itu amat berat dan dia amat menyakitkan.
Baca Selengkapnya

Episode Monolog

“Aku lelah… teramat lelah.”

Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu, aku tak mengerti dari mana suara itu timbul. Dari bibirnya, atau dari hatinya. Aku sungguh tak tahu.

”Ben, hidup ini rasanya terlalu lama. Terkadang juga begitu singkat.”

Kali ini aku menoleh kepadanya, mencoba lebih fokus terhadap setiap ucapannya, ucapan yang biasa saja namun terkadang sulit untuk ku pahami. ”Mengapa demikian?”

”Lihatlah langit itu,” katanya sembari mengangkat dagunya berusaha menatap langit. ”Berapa lama ia telah demikian, menaungi bumi dan semesta. Apa tak terbersit bosan dihatinya?”
Baca Selengkapnya

Bahasa Langit

Menurutmu, langit mana yang paling indah? Langit pagi atau langit malam.

Langit malam!

Mengapa?

Suka ajah, saat gelap menyapu cakrawala di sana berjejal milyaran bintang. Momen yang indah. Tak seperti pagi, sinarnya terang menyapu benderang bintang. Pada saat itu pagi hanya memiliki satu bintang, matahari. Matahari terlalu sombong, berdiri absolut tanpa ingin diganggu. Aku tidak suka.

Bukankah saat pagi kau akan menemukan awan? Dan burung di angkasa dengan kepak sayap mereka yang kokoh dan kekar. Pernah melihat saat elang membungkus langit? Atau saat awan memutih seperti salju, atau saat tak ada awan ketika langit benar-benar biru.
Baca Selengkapnya

Kita Bukan Pecundang

Judul di atas tidak salah. Memang kita bukan pecundang, kita semua adalah pejuang. Terlepas dari menang atau kalah, kita tetap bukan pecundang. Pecundang hanyalah mereka yang kalah oleh diri sendiri, mereka yang tidak berani mencoba setelah tersungkur untuk kesekian kali.

Sadarkah kita bahwa sesungguhnya kita adalah pemenang kehidupan. Sebelum kita bersekutu dengan ovum, kita telah menyisihkan jutaan pejuang lainnya. Mulai sejak awal ejakulasi, kita bertarung sesama kita, adu cepat, adu tangkas untuk mencapai ovum yang kita kejar. Sungguh, kita adalah satu dari jutaan kontestan. KITA BUKAN PECUNDANG!

Namun terkadang, setelah tulang ini berbalut daging dan dibalut lagi oleh kulit dari epidermis-epidermis yang bersekutu, lantas mengapa kita menjadi pengecut? Kita menjadi takut kalah perang, kita menjadi begitu cengeng, dan hanya mengharapkan euforia. Teman, sadarkah engkau?

Apakah engkau tidak mengingat saat dimana dirimu hanya satu dari sejuta, lantas Kami keluarkan kamu daripada mani-mani untuk menjadi pejuang lalu Kami tentukan sesiapa diantara kamu yang paling berhak untuk maju menjadi pemenang. Dan diantara para pemenang ada yang Kami matikan sebelum menjadi darah dan daging, ada pula yang Kami matikan setelah teriakan pertama, dan ada yang Kami panjangkan umurnya hingga rambut memutih dan Kami jadi dia kembali ke asal. Sungguh, Kami telah menetapkan kamu agar selalu berjuang dan tidak berputus asa dari rahmat Kami. Sungguh Kami berkuasa atas segala sesuatu.