Keputusan Besar

Adakah yang lebih indah daripada engkau mencintai seseorang dan orang tersebut juga mencintai dirimu? Sungguh aku sedang mencintainya dan aku pun merasa dia sedang mencintai diriku. Dan dia serius dengan cintanya ketika gamangnya dia hendak bertanya kepada siapa tentang aku. Aku seutuhnya. Aku sejujurnya.

Tetapi cinta juga harus dibarengi dengan konsekuensi. Cinta harus pula memikul tanggung jawab. Kedua kami belum lah lagi mampu untuk itu.

Pertama sekali sebuah email tentang rasa masuk ke dalam inbox-ku, aku seperti melayang ke surga. Aku menangis. Aku tidak mampu mengukir kata untuk menjawabnya. Aku cuma bisa kata: “aku juga.

Kilatan mimpi-mimpi terbang menembus awan. Orang-orang bumi sering mengatakan: itu kebahagiaan. Aku merasa sangat bahagia dengan hari itu. Aku merasa mimpi-mimpi yang aku kalkulasikan akan segera menjadi nyata.

Bagiku, mencintai dan dicintai bukanlah sebuah beban. Bukan sesuatu yang harus dibenci dan diasingkan. Adalah bagaimana kita bisa mengontrolnya.

Seorang teman entah mengapa tiba-tiba bertanya: “Menurutmu, apakah sesuatu yang melesat di dalam hati itu, anugerah dari Tuhan atau godaan setan?

Aku jawab, “tergantung dirimu. Menjadikan dia sebagai anugerah Tuhan, atau menjadikan dia sebagai salah satu anak panah godaan setan

Setiap orang tidaklah sama. Ada yang bersenang-senang dengan rasa itu, ada pula yang melihatnya sebagai sebuah tanggung jawab besar. Dan orang yang sedang kucintai itu adalah mereka yang rasionalis. Dia yang melihat cinta tidak cuma sekedar hubungan antara lelaki dan wanita, namun juga membutuhkan konsekuensi, membutuhkan tanggung jawab, dan tiada melenakan tekad yang telah dibangun sejak awal.

Entah mengapa, aku semakin mencintainya.

Namun, tidak kupingkiri. Ini seperti badai, dan semakin membadai. Cinta, letupan-letupan hati, segala hal yang menyesakkan dada dan kerinduan yang akut. Aku dan dia sama. Kami sama-sama sedang mengalami.

Dan badai tidaklah sesuatu yang indah. Seseorang ingin mengakhiri badai ini. Dan aku bukanlah orang yang berani untuk itu. Aku tiada memiliki keberanian, untuk pergi dari orang yang aku cintai. Tetapi seseorang harus membuat keputusan. Kami belum lagi siap untuk sebuah konsekuensi.

Seperti letusan gunung berapi, segala hal beranjak reda setelahnya.

Dia memintaku agar tidak terlalu berkomunikasi dengannya. Aku tahu mengapa. Hal-hal tentangku akan membuat dia semakin gila.

Aku sangat menghargai keputusannya itu, walau secercah sakit teramat terasa di hatiku ini. Namun, setiap orang tidaklah sama. Hal yang mampu kutanggung, belum pasti mampu ditanggung oleh orang lain. Dan banyak hal yang harus kita hargai dari keputusan seseorang, terutama dari mereka yang sangat kita cintai.

Aku tak pernah ingin dia sakit. Menjadi gila, dan merana.

Bukankah sudah pernah kukatakan: Aku, tiada akan pernah menyakitimu. Karena engkau berharga, maka akan kujaga..

Aku pun menumpahkan semua rasaku pada seorang teman yang kupercaya. Dia yang begitu dewasa, sama random, dan stupid, begitu akunya. Dia yang berusaha mempertahankan iffahnya. Seseorang yang berikutnya aku tahu memiliki karakteristik dan pengalaman yang sama dengan dia. Seseorang yang mencintai lelaki berhuruf 11 dan aku yang sedang mencintai wanita berhuruf 11.

Kepada wanita itu, aku bertanya: bagaimana aku harus berbuat? Apa yang bisa aku lakukan untuk seseorang yang sangat aku cintai itu?

Katanya: lakukanlah seperti apa yang dia minta.

Mengapa begini ya? Padahal aku mencintai dia dan dia juga mencintai diriku. Ini kan tidak mendekati zina.

Hati sudah bermain dan itu sangat sensitif. Zina hati lebih mengerikan daripada zina fisik. Tapi percayalah awalnya memang agak sulit.

Apa masih ada harapan?

Jika Allah mempersatukan.

Setelah berdiskusi. Sebuah keputusan besar aku ambil: Aku mencoba meremove facebooknya, aku takut status-statusku akan muncul di berandanya dan itu akan membuatnya mengingat diriku. Account Yahoo messengernya pun aku hapus, aku juga takut, aku yang ada di ym-nya akan membuatnya mengingatku.

Aku berharap dia kembali tenang. Seperti semula. Tidak tersakiti. Dan badai segera mereda.

Bukankah juga sudah aku katakan, aku mengharapkan yang terbaik diantara kita.

Incoming search terms:

  • subhanallah…
    bahagia sekali bisa menjaga hati seperti itu. semoga ttp istiqomah. semoga nanti indah pada waktunya…
    luar biasa.

  • tetapi hati ini teramat sesak mas. Sangat sesak. Teramat sesak.

    Mengingatnya kadang membuatku berurai air mata.

  • P&I

    Manusia Bumi bilang, itu bukan cinta namanya. Karena cinta butuh kesungguhan. Buktikan bahwa itu benar-benar kerinduan, benar-benar sesak tak terkira, benar-benar ketidak nyamanan yang membahagiakan.

    bro, jika hanya masalah kesiapan rizki, tuhan telah siapkan itu untuk mu jauh-jauh hari. Kesiapan Jasmani dan rohani, sudah tertulis dilauhul mahfudz, kau hanya perlu berusaha.

    Hanya tinggal mengambil keputusan besar…yang benar…

  • Pingback: baiquni.net » Blog Archive » Catatan Kaki()

  • Pingback: baiquni.net » Blog Archive » Perasaan Yang Aneh()

  • Pingback: Facebook()