Huff

Aku belum juga tidur, padahal sekarang sudah jam 4:31 Dini hari, tanggal 9 Juli 2008. Sebentar lagi sudah subuh.

Entah mengapa, aku begitu bingung. Tak tahulah mengapa.

Sudah lama ga update blogs ini, seperti ada kerinduan.

Huff… aku masih baik-baik saja.

Tentang Aku Hari Ini

Surat Untuk Cintaku

Itu adalah salah satu tulisanku yang ternyata banyak diambil orang. Surat itu ku buat untuk Sang Puteri dahulu tapi tidak pernah kukirimkan kepadanya. Surat itu kubuat saat imanku masih tetap tegar berdiri dan tidak seperti sekarang ini yang carut-marut.

Aku sendiri tidak menyangka bahwa banyak orang mengambil tulisanku tentang itu. Aku yakin, pasti mereka mengambilnya dari website dudung.net karena ke sanalah aku postingkan tulisanku tentang Surat Untuk Cintaku itu.

Aku sendiri tahu bahwa tulisanku dengan judul Surat Untuk Cintaku itu diambil banyak orang saat mencarinya melalui google. Ada yang mencantumkan sumbernya ada juga yang tidak.
Baca Selengkapnya

Berpikir Dengan Sudut Pandang Berbeda

Datul…

Aku pernah menulis dia dalam beberapa episode kehidupanku. Menuliskan betapa aku mencintainya hingga detik ini. Terkadang aku mengerti, terlalu memperhatikan dan terlalu mengacuhkan bisa menjadi petaka dan prahara. Aku salah.

Terkadang aku berpikir, apakah ada pria lain yang mampu sepertiku? Memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menatapnya kapan dia sakit dan kapan dia bahagia. Memandangnya tanpa jemu tanpa jeda. Memberikan perlindungan. Lagi-lagi aku salah.

Dulu aku pernah bertanya, “Aku tidak dewasa, bagaimana?”

“Cukuplah kamu, aku tidak membutuhkan yang dewasa.”

“Apa yang kau inginkan?” Tanyaku.

“Sebuah cinta yang tulus.” Katanya sembari tertawa kecil.
Baca Selengkapnya

Pengkhayal

“Sumpah, baru kali ini aku menemukan cowo seperti loe Ben.” Sahabatku tiba-tiba berkata demikian saat kami sama-sama sedang menikmati sensasi ketinggian dari puncak gunung, saat kami sama-sama sedang duduk-duduk di tepi jurang.

”Emang kenapa dengan gw sahabat?” Tanyaku tak mengerti.

”Loe tuh tukang khayal! Dan khayalan loe tuh terlalu jauh. Jauh banget!” Lanjutnya.

”Aku?” Tanyaku menegaskan. ”Aku pengkhayal?”

”Yoha… dan khayalan loe tuh kejauhan. Khayalan tingkat tinggi.” Katanya lagi.

”Apa ada yang salah dengan khayalan? Loe tau kan pesawat terbang itu juga awalnya muncul dari khayalan manusia yang ingin terbang. Loe ga lihat sahabat, bagaimana mobil, listrik, lampu, telepon, handphone tercipta? Semuanya berawal dari khayalan. Dari mimpi. Dan apa salah jika aku bermimpi?” Kataku membela diri.
Baca Selengkapnya