Memungut Kerikil

kerikil
sumber: thewonderful7.blogspot.com

Pernah suatu ketika aku melihat seorang anak dengan hobi yang aneh: memungut kerikil. Karena tidak tahu dengan apa yang dikerjakannya, aku cuma berjongkok heran memperhatikan. Anak itu terus memilah, satu batu diambilnya, diperhatikan, lantas dibuang, batu yang lain pun demikian, sampai kemudian dia menemukan satu batu untuk disimpan.

Dasar anak-anak! Batu yang disimpan segera dibawanya pulang. Dan dalam perjalanan, ada raut kebahagiaan di wajahnya. Senyumnya mengambang. Terus berseri seiring langkahnya surut pulang.

Apalah arti sebuah kerikil, pikirku berhari kemudian. Namun, senyum semringah sang anak yang bahagia, sulit untuk aku lupakan. Sampai aku berkesimpulan: untuk bahagia, tidak perlu sesuatu yang wah. Cukuplah sesuatu yang sederhana untuk disyukuri.

Mengapa kita sering bersedih? Mengapa kita merasa bahwa dunia adalah kumpulan, irisan dari himpunan segala ketidakadilan dan ketidakbahagiaan. Bahkan, terkadang kita terus menguraikan segala alasan yang berujung kepada segala penderitaan kita. Sampai, pada satu titik, kita mulai menjadi mereka yang sering menyalahkan.

Tangan kita menunjuk si A adalah sumber penderitaan. Tak puas, kemudian kita menunjuk si B, si C, dan seterusnya. Bahkan setelah seluruh jemari telah habis menunjuk, tak luput kita membentangkan kertas dan mulai menuliskan nama-nama segala asal dari ketidakpuasan.

Baca Selengkapnya

Hati Yang Berbicara

holding hands
sumber: matthewsparty.com/

Masih ingatkah engkau, saat kita menghitung bilangan tahun. Dan sekarang, hanya menghitung bulan. Lantas kemudian hari, dan di ujung ada haru yang akan tumpah untuk setiap detik penantian.

Tapi, aku tak tahu apa yang menjadikan diam sebagai dinding. Apakah mungkin relief-relief yang kita ukirkan pada tembok-tembok ratapan membuat kita jemu. Atau, karena sibuknya kita mengalihkan segala sesuatu yang berujung rindu. Mencoba menekan sampai ke dalam sumsum tulang. Sampai-sampai, bahkan angin pun tak akan tahu.

Hatta, berminggu-minggu penantian aku rasakan bagai bilangan abad. Yang tidak mampu kuhitung kapan akan menciut menjadi tahun. Dan saat engkau mengabarkan kedatangan, maka sepenuh itu aku menjadi cemas. Apakah rupaku yang dulu kau lihat, masih tetap sama engkau cintai. Karena aku takut, elok rupa pria akan memalingkanmu dari dunia.

Lihatlah olehmu, dengan mata yang ada di kepalamu, tentang ringkihnya tubuhku semakin menjadi. Tentang uban-uban yang semakin lebat bersemai di kepalaku. Tentang mata yang semakin letih dan menjadi sendu. Dan urat-urat yang hadir menonjol di antara lenganku.

Baca Selengkapnya

Perempuan Bergincu Darah

bibir berdarah
sumber: metrobali.com

Sabtu, 28 Februari 2015. Ketika berjalan hendak ke kampus, saat itu aku melihat seorang anak manusia berjenis perempuan melewatiku. Dari kedua matanya ada riak air yang belum lagi habis terselesaikan. Bibirnya telah pecah. Darah banjir diantaranya. Entah, mungkin oleh sentuhan kelewat keras yang mengisi hari-harinya. Di sisinya, ada seorang lelaki yang sebaya dengannya, berjalan dengan wajah tegang.

Mereka berjalan cepat. Bahkan sekarang telah melewati punggungku. Kepalaku berpaling, menoleh ke belakang, dari kedua mulut mereka kembali muncul serapah. Aku memejamkan mata sejenak. Berdoa kepada Tuhan untuk mendamaikan mereka berdua.

Ingin rasanya aku berlari menuju keduanya, bercerita bahwa cinta jauh lebih indah daripada bergumulan yang menciptakan darah. Memisahkan mereka yang sedang dimainkan oleh setan, yang mengalir melewati darah. Memisahkan mereka yang sedang membenci satu sama lainnya. Tapi aku tak bisa! Yang entah bagaimana, langkahku seperti tidak menurut dengan apa yang hatiku titahkan. Dia terus berjalan menjauhi keduanya, membiarkan mereka meneruskan episode drama kehidupannya, dan aku menikmati hidupku sendiri, yang jauh dari masalah.

Baca Selengkapnya

Sebelum Cahaya

Menonton video dan mendengarkan lagu di atas, kadang membuatku menangis. Terutama untuk mereka yang hadir bahkan sebelum cahaya datang. Demikianlah embun. Yang ketika sinar telah menghangatkan, mereka hilang dalam jejak yang tidak tertinggal, tidak pun di dedaunan.

Sering sekali, seumpama embun, hadir dalam kehidupan kita. Hanya saja, kita menjadi abai. Pandangan kita tertutupi, entah oleh ego, ambisi, harapan, atau kenyataan. Mereka yang terus datang sebagai penyejuk, seringkali kita lupakan.

Saat aku mendengarkan lagu ini, aku sering sekali memikirkan kedua orang tuaku. Orang tua yang sering sekali begitu tulus dalam pondasi perjalanan kita, namun hampir selalu kalah oleh segelintir teman, kekasih, atau kehidupan yang datang baru kemudian. Demikianlah kita, menjadi manusia yang lupa rasa. Menjadi manusia yang terlalu sering alpa.

Baca Selengkapnya

Hi Blog!

Baru Hati
sumber: blog.kanjurmarg.com

Hai blog! Lama rasanya kita tidak saling bertegur sapa. Tidak juga aku sering datang ke sini untuk melihatmu seperti dahulu. Tidak ada lagi rasa bahagia saat aku menuliskan segalanya di sini. Aku, seperti merasa bukan lagi aku.

Kau pun diam. Tak memanggilku seperti dahulu. Sangat diam. Kau berubah! Menjadi makhluk mati yang memang mati. Tidak lagi melakukan tarian aneh yang berhasil memanggilku keluar, untuk segera meneteskan air mata saat menulis tiap kalimat yang bertitah di tubuhmu ini.

Kau seperti tidak lagi peduli denganku. Merasa aku telah dewasa, tidak lagi penting untuk berkeluh-kesah. Atau sekedar menangis saat cinta pupus dalam perjalanan takdir. Kau, sekarang abai denganku. Menjadi acuh. Sama seperti orang-orang yang aku benci.

Apakah kau rindu? Denganku tentu. Adakah?

Baca Selengkapnya