Hi Blog!

Baru Hati
sumber: blog.kanjurmarg.com

Hai blog! Lama rasanya kita tidak saling bertegur sapa. Tidak juga aku sering datang ke sini untuk melihatmu seperti dahulu. Tidak ada lagi rasa bahagia saat aku menuliskan segalanya di sini. Aku, seperti merasa bukan lagi aku.

Kau pun diam. Tak memanggilku seperti dahulu. Sangat diam. Kau berubah! Menjadi makhluk mati yang memang mati. Tidak lagi melakukan tarian aneh yang berhasil memanggilku keluar, untuk segera meneteskan air mata saat menulis tiap kalimat yang bertitah di tubuhmu ini.

Kau seperti tidak lagi peduli denganku. Merasa aku telah dewasa, tidak lagi penting untuk berkeluh-kesah. Atau sekedar menangis saat cinta pupus dalam perjalanan takdir. Kau, sekarang abai denganku. Menjadi acuh. Sama seperti orang-orang yang aku benci.

Apakah kau rindu? Denganku tentu. Adakah?

Tapi aku ragu jika itu memang ada. Kau seperti acuh. Bahkan, saat aku telah ada di depanmu, tidak pula kau datang menyapa. Tidak pula membukakan aku pintu. Aku memang tuan rumah, tetapi apakah tidak sebaiknya kau bukakan aku pintu agar mudah aku memeluk lantas menitahkan apa yang sedang berkecamuk di dalam hati. Meminta tubuhmu untuk menjadi lukisan untuk setiap sabdaku.

Maka lebih baik aku diam. Kembali menjadi terasing. Dan tak akan ada yang peduli. Bahkan jika aku membusuk di jalan, tak pun seorang melirik. Maka biarlah demikian. Sungguh, biar demikian. Semoga bukan makhluk yang memperhatikan aku, tetapi Tuhan.

Pejamkan matamu. Pejamkanlah. Aturlah napasmu, maka aturlah. Hirup dia sepenuh sadar dari kedua hidungmu, dan hembuskan pelan apa yang telah engkau simpan dari perut melalui mulutmu. Hembuskanlah dengan pelan.

Ini aku. Kembali. Dalam dunia hampa lagi gelap. Karena hitam, meniadakan perbedaan.

  • Tak disangka, blog begitu menginspirasi. Saya sama sekali tidak pernah menduga ada bahasan tentang blog seperti ini. Personifikasi blog anda sungguh mengingatkan pada hubungan saya dan istri saya sendiri. Hampir 24 jam sehari kami bertemu namun interaksi kami mungkin hanya 24 menit (ini juga sudah saya mark up…he he). Betapa banyak kerugian kita dalam mengarungi dimensi waktu ini.

    • Komunikasi mungkin tidak harus selalu verbal. Yang penting hati selalu tertaut. Dan jangan lupa, selalu menjaga keharmonisan kapan dan di mana saja 🙂

  • Setuju sekali mas. Nah kendalanya adalah adanya knowing-doing gap so i must change step by step

  • informasi yang bagus sekal,memang sebagai makluk sosial harus saling menegur,jangan merasa orang lain tidak penting

  • info yang bagus memang kita harus bertegur sapa