Sebelum Cahaya

Menonton video dan mendengarkan lagu di atas, kadang membuatku menangis. Terutama untuk mereka yang hadir bahkan sebelum cahaya datang. Demikianlah embun. Yang ketika sinar telah menghangatkan, mereka hilang dalam jejak yang tidak tertinggal, tidak pun di dedaunan.

Sering sekali, seumpama embun, hadir dalam kehidupan kita. Hanya saja, kita menjadi abai. Pandangan kita tertutupi, entah oleh ego, ambisi, harapan, atau kenyataan. Mereka yang terus datang sebagai penyejuk, seringkali kita lupakan.

Saat aku mendengarkan lagu ini, aku sering sekali memikirkan kedua orang tuaku. Orang tua yang sering sekali begitu tulus dalam pondasi perjalanan kita, namun hampir selalu kalah oleh segelintir teman, kekasih, atau kehidupan yang datang baru kemudian. Demikianlah kita, menjadi manusia yang lupa rasa. Menjadi manusia yang terlalu sering alpa.

Sesekali, berdirilah di depan pintu kamar mereka. Pandangi wajah mereka yang tertidur pulas. Menidurkan letih yang memberatkan punggung, demi kita yang mereka sayang dan kasihi. Mereka yang di luar sana dicaci, dimaki, diperintah, namun tetap diam, dan berharap ada sesuap nasi yang akan dibawa bagi anak mereka yang telah menunggu.

Terlalu sering kita merasa telah menjadi dewasa. Sering kali pula kita menganggap telah memahami segalanya. Maka menjadi perlu kita untuk menentang setiap kehendak kedua orang tua kita. Menganggap mereka terlalu kuno untuk mampu membaca masa depan sekarang ini. Bahwa ilmu yang mereka bawa dari dulu adalah hal yang usang. Demikianlah kita manusia, menjadi sosok yang angkuh. Melupakan segala jasa, mengabaikan segenap budi yang telah tertoreh.

Herannya, kita lebih mendengarkan teman-teman kita, kekasih, atau bahkan atasan. Padahal, yang hadir saat bahkan tulang belum mampu berdiri adalah kedua orang tua kita. Merekalah yang menyuapi, memegang erat kedua tangan, memeluk saat terjatuh, dan mencium untuk menidurkan. Semakin dewasa, kita semakin malu untuk menerima hal yang serupa. Bahkan menjadi terus durhaka.

Sekali lagi. Pandangilah wajah keduanya. Jangan sampai, kita hanya mampu memandang untuk terakhir kali, saat wajah itu semakin larut dalam tanah yang mengubur. Jangan sampai sesal itu kau bawa sampai mati!

Bukankah juga Tuhan telah memerintahkanmu hal yang serupa. Berkasih sayang engkau kepada keduanya. Bahkan, jika mereka memintamu melakukan hal yang tercela, maka bantahlah keduanya dengan kebaikan. Dan jangan pernah meninggikan suara kepada keduanya, tidak pula berucap “Ah” untuk menolak mereka. Daripada kepada seluruh atasanmu, bahkan seluruh orang yang engkau hormati, sesungguhnya kedua orang tuamu lebih layak untuk mendapatkan itu daripada mereka.

Jika hidupmu telah gemilang. Begitu bersinar dan benderang. Maka jangan lupa, bahwa mereka yang telah hadir bahkan sebelum cahaya.

  • Wah keren.. jadi nostalgia. Lagu Letto sebelum cahaya ini punya cerita tersendiri dengan seseorang dalam hidup aku.. sudah jadul sih tapi masih enak didengar. hehe.
    Sukses selalu ya ! salam 🙂

    • Iya, mungkin bisa termasuk lagu yang tak lengkang zaman, ya?

      • Benar! simpel, enak didengar, terus liriknya mudah tertanam di ingatan..

  • artikel yang menarik