Segala Suntuk

Suntuk itu hadir kembali.

Terus menerus menggempurku. Melelehkan cinta dan empati seolah aku tidak pernah peduli dengan semua itu, tidak pernah peduli!

Mereka keheranan, “Ben, bagaimana engkau bisa berubah demikian cepat? Bahkan cinta tak membuatmu berpaling.

Suntuk membuatku tak menghiraukan mereka. Terlalu lelah aku, telah terlalu lelah. Suntuk telah menyita segala ruang hati, bagai lubang hitam yang menghisap apapun.

Tuhan, bagaimana bisa engkau ciptakan satu rasa dalam diriku yang seperti sedemikian ini!

Dan aku pun berlari mengitari sahara, mengitari semua kutub dan benua. Membawa obor kegelapan dari jutaan tempaan hening. Dan kesunyian menjadi begitu nyata… TAK TERGUGAT.

Tuhan, sampai berapa lama rasa ini tetap ada?

Cinta datang menyembah kepadaku, “gantikan aku dengan rasa sepi itu,” pintanya.

Andai aku bisa,” jawabku.

Dan keheningan telah mengkanker ganas dalam diri ini. Berdiri kokoh dengan status quo-nya.

Segala Suntuk! Sungguh itu ada

Baca Selengkapnya

Surat Untuk Yang Tersakiti

Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.

Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti,

Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita. Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu. Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.

Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini. Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini. Maka maafkanlah aku.

Apakah engkau harus terus memegang kata: tidaklah mudah untuk memaafkan.

Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?

Baca Selengkapnya

Kesombongan Dan Penghargaan

Hidup baru saja memberi pelajaran baru padaku beberapa hari yang lalu, pelajaran; kesombongan dan penghargaan. Suatu pelajaran yang memang awalnya agak mengusik namun setelah kurenungkan mampu memberikanku pengalaman baru, konsepsi dasar manusia.

Jika manusia merasa statusnya meningkat, maka di sana akan timbul sikap ingin dihargai dan sekelumit kesombongan. Aku mengatakan sekelumit kesombongan karena aku sendiri tidak terlalu memahami sejauh mana kesombongan yang terdapat pada manusia-manusia seperti itu.

Jujur, penilaianku ini adalah generalisasi terhadap manusia walau kenyataannya apa yang kualami adalah hanya satu kisah nyata dan dilakukan hanya oleh satu manusia. Namun aku rasa wajar saja jika aku mengeneralisasikannya. Sah! Toh ini tulisanku.

Kisahnya terjadi pada hari minggu, 16 November 2008. Berawal dari kepulanganku ngopi setelah lelah mengadakan pelatihan blogging gratis untuk anak-anak SMU bersama kawan-kawan Aceh Bloggers.

Baca Selengkapnya

Meradang Sepi

Meradang Sepi,
gigilku mengguncang bumi
langitpun patah-patah
“Mengapa kesepian bisa sedemikian hebat?”
dan Tuhanpun terbahak

lampion-lampion telah kumatikan semua
tak pernah ada yang tahu
ssttt… aku meringkuk sendiri
pojok sudut ruang dingin pengap dan lembab
jangan ada yang tahu: aku sedang meradang sepi

Cinta bergelut
memaksaku memayapada
namun aku berontak
“biarkan aku sendiri!”
menikmati keindahan sepi

langitpun gugur
rontoklah semua bintang
dan gunung-gunung berhamburan
ibu hamil melahirkan anaknya
semua orang berontak, berteriak, berlari tak tentu arah
dan bumi telah habis usia
namun aku terpaku diam, sepi sungguh lebih hebat dari itu

kemari… ayo kemari
menikmati secanggir teh dari kesunyian
dan melahap cemilan dari kesendirian
lalu terbaring pulas, setelah kenyang
kita bermimpi tentang kesepian

Owh,
lagi-lagi Tuhan terbahak
dikiranya lucu!
menuliskan jalanku di kitab dengan kosakata sepi
membiarkanku sendiri

Tidak,
telah ada yang salah
aku tidak sepi, aku tidak sendiri
masih ada Tuhan yang terbahak
menertawaiku meradang sepi

Lelaki dan Cinta

Lelaki itu nge-BUZZ Yahoo Messenger ku. Aku kira ada apa, mungkin kami akan membangun topik lagi tentang pergerakan-pergerakan Islam, atau tentang sikap kritis dia mengenai partai yang menginjak ranah kampus akhir-akhir ini. Atau tentang Tarbiyah dan masa depannya.

Ternyata tidak. Kali ini kami berbicara tentang cinta.

Lelaki itu sedang jatuh cinta, sekaligus patah hati. Wanita yang dia cintai juga ternyata aku mengenalnya, seorang wanita yang memang kuanggap baik, kritis, cantik, dan agak manja. Wanita itu bernama… ah sudahlah, tak perlulah ku sebut namanya. Biarkan waktu memainkan peran sebagai penjaga rahasia yang baik, hingga jika tiba waktunya semua akan terungkap dengan indah.

Kadang aku merasa lelaki itu patetik, sama sepertiku. Selalu tersungkur, terjungkal, dan kalah oleh cinta. Dan sekarang, dia mencoba-coba bermain api.

“Apa yang membuatmu menyukainya?” Tanyaku suatu ketika.

“Dia berbeda Ben,” jawab lelaki tersebut. “Tidak seperti wanita pada umumnya. Dia surfive. Dia kritis. Dia memiliki hidup. Dia memiliki jiwa.”

Baca Selengkapnya