Belajar Dari Beruang

Barusan aku curhat sama Bang Pmen, tentang tradingku. Bang Pmen orang yang terlalu baik, malah memberiku modal $50, namun sayang harus kuhabiskan di meja trading. Mungkin memang aku yang tidak berbakat membaca bagaimana pasar berjalan dengan semestinya.

Kemarin aku sempat begitu senang, bagaimana tidak aku berhasil membukukan lebih dari 500 pips. Dari modal $4 aku berhasil menguangkan sekitar $20. Namun itu masih dalam bentuk khayal, karena belum ku close.

Aku mengira GJ (GBP/JPY) akan terus merosot. Namun keadaan berbalik. Sekarang duitku tinggal $6 lagi, begitu menyedihkan.

Ketika aku curhat tentang hal itu kepada Bang Pmen, dia memberikan aku satu url websitenya yang dulu, http://renungan-kita.blogspot.com

Belajar Dari Seekor Beruang

Baca Selengkapnya

Negeri Letih

Sebuah negeri diciptakan Tuhan di hati-hati tiap manusia. Manusianya menyebutkan letih, lelah, penat, capek walau dengan berbagai bahasa disimbolkan namun tujuan penjelasan makna tetap sama: Letih.

Tak ada manusia yang tak pernah merasakannya. Bahkan diujung kesabaran seorang nabi pun, letih telah hinggap. Keletihan seorang rasul dalam mengembalikan umatnya ke jalan yang lurus akan menyebabkan umatnya yang durhaka terserang bala. Demikian mengerikan efek suatu keletihan, namun tak ada yang pernah menduga.

Negeri letih itu sekarang menghinggapiku. Membuatku seujung kuku daripada batas menjadi gila. Sungguh, aku kelelahan.

Bagaimana jiwa ini mampu terus menahan dari godaan-godaan iblis, setan, dan kroco-kroconya yang terkutuk. Bahkan manusia pun ada yang menjadi iblis, belum lahir hatiku yang berontak ingin juga menjadi iblis. Mungkin cuma imanku saja yang terus menerus menutup pintu agar tak lemah aku dalam pertempuran tanpa pemenang ini.

Bagaimana manusia menghadapi gempuran dari negeri letih? Tak ada yang menduga.

Baca Selengkapnya

Baiquni itu…

Banyak yang tidak tahu siapa sebenarnya sosok jiwa yang berada di balik raga seseorang yang bernama Muhammad Baiquni.

Baiklah, mungkin bisa kujabarkan sedikit siapa dia itu, jiwa yang bersemayam di balik raga sosok yang dikenal orang-orang dengan panggilan Beni.

Kata Iblis, “Baiquni itu temanku…

Kata Malaikat, “Baiquni itu selalu berusaha untuk menjadi lebih baik!

Kata Tuhan, “Baiquni itu hambaku

Kata Winda, “Baiquni itu tidak jelas dari A-Z, tak terdefinisi

Kata bang Fadli, “Homo !!!” (sebenarnya dia itu yang homo -_-‘)

Kata para wanita, “Baiquni, pliss deh…

Baca Selengkapnya

Tuhan, Aku Lelah

Tuhan, Aku lelahTerkadang aku menjadi begitu lelah, terutama dalam menata hati. Ada banyak bagian yang begitu susah kumengerti, ntah bagaimana Tuhan menjadikannya hingga begitu rumit untuk kupahami.

Bukan hanya perasaan cinta yang harus kutahan agar tak menggebu, atau perasaan sedih yang harus ku urai agar tak menyepi aku dalam lubang hitam pekat tak bermassa. Banyak hal yang masih tak kumengerti tentang rasa, tentang emosi, dan tentang jiwa. Waktu dua puluh tahun belum cukup bagiku memetakan sifat-sifat dasar manusia.

Lelah, aku begitu lelah. Ingin berbaring sejenak untuk melepas penat, namun rasanya akan sangat sulit. Berbaring hibernasi puluhan abad pun tetap tak akan mampu mengangkat rasa letih ini. Rasa yang begitu membuatku menghela nafas panjang. Aku capek!

Tuhan, aku lelah. Aku merasa Engkau mengerti, namun mengapa terus menunda mencabut akar jiwa ini? Tugas apalagi yang belum tuntas?

Baca Selengkapnya

Hidup Itu Tidak Seperti Bola

Hidup itu tidak seperti bola. Hidup itu seperti trapesium, memiliki wajah yang berbeda jika dipandang dari sisi yang berbeda. Hidup itu unik, yang kita anggap menyakitkan belum tentu adalah rasa sakit. Rasa sakit cuma ada dalam pikiran kita, rasa benci, rasa kesal, emosi-emosi yang meletup itu hanya ada dalam bayangan kita.

Hidup itu anugerah. Walau Tuhan sering berkata, “hidup tak lebih dari senda-gurau,” namun hidup adalah anugerah Tuhan. Hidup adalah cara Tuhan bercanda dengan manusia. Maka tertawalah, karena Tuhan selalu tertawa.

Seorang teman pernah menangis, “Tuhan itu tidak adil!

Dia merasa hidup tak lebih dari seribuan ujian. Tak pernah merasa puas dan tak pernah ingin kalah dengan orang-orang. “Aku terus mengalah, namun mengapa Tuhan terus membuat aku begini?

Setiap manusia juga pernah seperti dirinya, berada dalam puncak kritis yang membentuk palung dalam. Palung yang menyentuh paling dasar sifat kebencian, dan semua kebencian terarah kepada Tuhan.

Baca Selengkapnya