Emosi Manusia

Manusia seringnya melupakan logika ketika emosi sedang membara di dalam dada. Dan parahnya, mereka menyesali apa yang pernah didorongkan oleh emosi yang meletup karena faktor logika yang meredup.

Sering sekali kita melihat mereka yang terlalu terbawa emosi lebih sering menutup muka pada akhirnya karena perasaan malu, bersalah, atau gagal. Kita melihat di televisi, seorang pembunuh harus meratapi nasipnya karena emosi dorongan sesaatnya mampu membuatnya membunuh seseorang. Seorang pemerkosa harus menyesali seluruh perbuatannya karena emosi dorongan seksual sesaat yang meletup di dalam dadanya.

Emosi seringnya beriringan dengan napsu. Karenanya, ketika marah kita diminta untuk melakukan wudhu. Mengapa? Selain karena air itu dingin dan menenangkan, ternyata prosesi mengambil wudhu itu didasari oleh sebuah kesadaran, diharapkan implikasi dari kesadaran itu adalah kita kembali menempatkan logika dalam arah berpikir kita.

Sebenarnya, emosi itu adalah perasaan. Manusia wajib memiliki emosi, karena jika tidak, mereka tidak berbeda dengan robot yang tidak memiliki emosi. Hanya sayangnya kebanyakan manusia (termasuk aku) belum mampu mengkontrol emosi mereka secara penuh. Inilah faktor dasar mengapa emosi harus dikekang agar emosi itu tidak malah berbalik menyengsarakan.

Aku adalah anak yang terlahir dari emosi. Emosi cinta ibu dan bapakku terhadap cinta mereka melahirkan aku. Tanpa emosi, aku tidak ada. Tanpa emosi, aku tidak di dunia.

Baca Selengkapnya

Fanatisme

Beberapa temanku adalah orang-orang yang fanatik. Ada yang fanatik terhadap sistem operasi, fanatik terhadap style, ada juga yang fanatik dengan idola yang dipujanya. Sebagian lain fanatik terhadap ideologi yang dianutnya.

Fanatik itu sungguh luar biasa. Kadang orang rela mati, bersitegang dengan apa yang menjadi fanatiknya. Contohnya adalah Harley Davidson, mereka yang fanatik terhadap motor gede itu bahkan rela mentato tubuhnya dengan slogan-slogan, logo, dan nama Herley. Secara branding, Herley Davidson sudah berhasil mengkampanyekan merek mereka tersebut.

Fanatik lain yang aku temui adalah fanatik terhadap sistem operasi. Sebagian ada yang masih abal-abal, namun ada banyak mereka yang benar-benar fanatik terhadap sistem operasi. Yang fanatik terhadap Linux (mereka memang basisnya komunitas), fanatik terhadap Apple (biasanya orang yang ingin dianggap modis), namun jarang aku temui yang fanatik terhadap Windows.

Fanatik yang lain adalah fanatisme kepada idola yang digandrunginya. Salah satu teman terbaikku fanatik terhadap Super Junior. Wuidih, kalau aku hina-hina Super Junior dia akan mencak-mencak, bahkan tidak jarang kami berantam cuma gara-gara aku menghina Super Junior, terutama si Sungmin.

Baca Selengkapnya

Bosan, Tuhan, Budak, dan Manusia

Kadang seseorang bisa menjadi begitu bosan dengan rutinitas harian mereka. Terkadang mereka bosan dengan pekerjaan yang dengannya mulut mereka tersuapi, kadang dengan pasangan yang telah memberi mereka anak. Dan beberapa orang aku ketahui mulai bosan dengan kehidupan, mereka bosan dengan Tuhan. Ada beberapa orang yang semakin hari semakin ramai di kalangan mereka. Mereka percaya bahwa alam mampu hadir tanpa peran Tuhan. Dan manusia mereka anggap berasal dari monyet.

Baiklah. Kita tidak akan membahas tentang mereka. Karena tugas kita adalah berbicara, mengajak dengan sebaik-baik bahasa dan perkataan. Masalah mereka menurut apa yang mereka pikirkan, atau apa yang kita pikirkan, itu adalah urusan Tuhan. Tugas kita bukan memaksa mereka, cuma Tuhan yang mampu memaksa. Tugas kita adalah cuma menyampaikan, apa yang semestinya tersampaikan.

Dan aku bosan. Aku mulai bosan dengan rutinitasku yang cuma hampir 24 jam berada di kamar bahkan tidak menjejakkan kaki ke pintu terluar atau pagar dari areal rumah ini. Sungguh aku bosan untuk terus berada di kamar. Aku ingin pergi, sama seperti orang pada umumnya: menikmati udara dan sinar mentari.

Aku bosan dengan laptopku yang cuma 1 jam aku matikan di antara 24 jam perputaran waktu sehari-semalam. Aku bosan dia tetap hidup dan terus bercahaya. Aku ingin di padam, lantas semua lampu juga aku matikan. Aku ingin nyenyak tertidur tanpa harus bangun dengan perasaan pelik dan gundah.

Baca Selengkapnya

Briptu Norman VS Justin Bieber

Ada dua kesamaan menarik antara Briptu Norman dan Justin Bieber, yaitu mereka sama-sama terkenal melalui jalur yang sama: YOUTUBE !!!

Namun sekarang mereka menjadi kentara. Tadi sore saya melihat di Global TV di acara Fokus Selebriti tentang Justin Bieber yang melakukan “kunjungan kerja” ke Indonesia. Bieber melakukan tour show dan salah satu negeri tujuannya adalah Indonesia, dia datang bersama Gomez pacarnya yang cantik bukan buatan. Dan lepas show mereka langsung tembak ke Bali, pulau dewata yang namun majalah Time berkata “Pulau Neraka”.

Justin Bieber membiarkan para fansnya menangis tersedu yang meminta bertemu dengan pujaan hati sang idolanya tersebut. Namun Bieber menampik. Mereka cuma membayar untuk melihat Justin Bieber show, bukan untuk jumpa fans. Saya sendiri saat itu merasa kasihan dengan para fans Bieber tersebut, kasihan dengan ketotolan mereka yang rela nangis darah karena Bieber sama sekali tidak menghargai keberadaan fans tersebut.

Saya juga menertawakan bahwa hal tersebut tidak sedikit pun membuat para fans itu tersadar bahwa Bieber sama sekali tidak menghargai mereka. Bieber cuma memanfaatkan mereka. Jujur, saya suka dengan lagu-lagu Justin Bieber namun tidak dengan sosok Bieber. Tidak ada yang saya idolakan dari sosok Justin Bieber yang cuma memiliki sifat kekanakan dan terlalu egois. Bieber sama sekali tidak pantas saya idolakan.

Baca Selengkapnya

Briptu Norman Tidak Lucu Lagi

Briptu Norman di media
dicomot dari blogartis.net
Tentu masih segar di dalam ingatan kita tentang tingkah polah Briptu Norman sang polisi yang menyanyikan lagu Chayya-chayya kemudian dipopulerkan di Youtube. Video Briptu Norman menjadi terkenal di sejagat dunia maya dengan judul Polisi Gorontalo Menggila. Tingkah polah polisi yang satu itu tentu sangat menghibur kita semua, termasuk saya tentunya.

Tetapi sekarang Briptu Norman tidak lucu lagi. Semenjak aksinya di panggung hiburan, bahkan show di mana-mana, saya merasa aksi Briptu Norman itu hambar. Terlebih, setiap beraksi Briptu Norman selalu menggunakan seragam dinas kepolisian. Entah mengapa, saya merasa kesatuan dinas kepolisian seperti agak dilecehkan. Seragam yang biasanya membuat setiap orang segan sekarang tidak lagi seperti dulu. Bukan berarti itu lebih baik, malah menurut saya lebih buruk.

Mungkin kepolisian ingin melepas citranya yang angker, doyan korupsi, dan tidak ramah masyarakat. Karena semboyan polisi adalah “Melayani Masyarakat” sehingga pihak kepolisian merasa berkah dengan hadirnya Briptu Norman. Bahkan menurut kabar senter yang beredar, sang polisi penggila India itu akan disekolah di sekolah Akting.

Baca Selengkapnya