Menertawai Masa Lalu

Beberapa hari ini aku punya hobi yang unik. Melihat komentar orang-orang di blogku dan melihat tulisan apa yang mereka komentari. Kebanyakan pengunjung di blogku berkomentar tentang tulisanku yang lama, yang lebay, dan menyayat hati.

Menertawai Masa Lalu
http://pipin217.wordpress.com/
Entah kenapa aku merasa geli sendiri dengan masa laluku. Merasa geli, ternyata betapa lebay-nya aku ini.

Salah satu contoh kelebayanku ada pada tulisan “Cinta Itu Berat” — bercerita tentang kisah aku yang patah hati, dulu mungkin saat menuliskannya, membacanya, bertutur tentangnya, hal itu bisa jadi sangat menyayat hati, namun sekarang aku merasa itu terlalu lebay.

Aku mungkin memang kurang mampu menulis hal yang sederhana dengan cara yang sederhana. Misal, aku sedang bahagia dan aku tuliskan saja bahwa aku bahagia. Tidak harus dengan cara mendramatisir keadaan, melakukan antraksi tari-tari India, diiringi musik, di bawah lautan hujan. Harusnya aku bisa menjadi lebih sederhana dalam menyajikan sesuatu.

Aku iri dengan orang-orang yang bisa bercerita secara jernih. Mereka yang tidak menambahkan, melebaykan, atau mendramatisir. Mereka bertutur dengan pure, sebenar-benar penuturan.

Rifka adalah salah satu contoh sosok yang aku iri saat dia menuliskan cerita tentang orang lain. Bahasanya sederhana namun orang-orang mampu dengan mudah menangkap makna dalam ceritanya. Ada satu pesan indah yang berusaha diungkapkan di akhir setiap cerita. Begitu juga dengan Ade Oktiviyari, bahasanya ringan, terkadang lucu dan menggemaskan.

Kadang, ada beberapa tulisan di masa lalu yang ingin saya hapus namun tidak pernah mampu. Bagaimanapun, mereka hadir nyata dalam setiap kehidupan saya, walau banyak tulisan memunculkan sikap pro-kontra bahkan tidak jarang banyak yang tersakiti. Saya menulis kehidupan dengan sudut pandang “aku” yang mungkin tidak setiap orang sepakat.

Begitulah manusia. Saat mereka sedih, mereka mengeluarkan air mata. Saat semua telah menjadi masa lalu, mereka mentertawakannya.

Apa kamu juga begitu teman, ada banyak hal di masa lalu yang teramat begitu kamu tangisi dan di masa sekarang malah kamu tertawai. Kita menjadi anak-cucu Adam yang bangga, telah menyelesaikan banyak perjalanan kita. Seharusnya, jikalau saat ini kita sedang bersedih, kita cuma perlu menunggu, ada masa-masa bahagia yang akan kita lewati dan kembali menertawakan hari-hari yang lalu.

Selalu ada harapan. Selalu ada bahagia dalam seluruh kehidupan kita. Lantas, mengapa kita tidak tertawa, walau mungkin saat ini tangisan yang hadir, yakinlah ada waktu esok untuk kita jeda. Menertawai Masa Lalu.

  • aduh, aku disebut sebut hihihihi

  • Menarik sekali Bang, jd teringat ni ane ama masa lalu ane ama dia, bila dibayang -bayangiin ane jd ketawa mikirinnya

  • Risma

    Saya terkadang juga begitu, kalau nulis terbawa perasaan. Setelah tulisan yang saya tulis saya baca kembali, saya berpikir mengapa tulisan saya begitu lebay. Namun, sejujurnya saya merasa lebih nyaman setelah menuliskan setiap peristiwa yang saya lalui, walau suatu saat nanti ketika dibaca kembali, saya akan tertawa dan malu sendiri πŸ™‚

    Oh ya, bagaimana cara menulis dengan sederhana? Risma nggak faham. Karena saya sering jumpa tulisan yang nyastra sekali. Membacanya membuat saya kagum, tapi otak saya lelah. Hehe, tulisan saya menurut bang Baiquni bagaimana? Kalau tulisan berjenis puisi, saya sangat suka yang nyastra.
    *nggak faham gaya tulisan sendiri

    Iya iya, kalau tulisan kak Rifka, enaaak kali pasa bacanya. Selalu ada pesan diakhirnya. Saya suka cara beliau nulis πŸ™‚ . Trus orangnya juga baiiikk kali πŸ™‚

  • Risma

    Ya nggak lah. Coz saya bukan tipe orang yang suka muji tanpa alasan.