Kita Tidak Butuh Pengecut di Sini

Memaki, menghina, berteriak di balik tirai adalah tindakan seorang pengecut. Maaf kawan, kita tidak membutuhkan pengecut di sini.

Setiap kesalahan harusnya memiliki hak tanya dan hak jawab. Setiap orang boleh bertanya: “mengapa kau menjadi sedemikian menyimpang?” Dan yang ditanya pun memiliki hak jawab, alasan kenapa dia melakukannya.

Tetapi, jika makian hadir, penghinaan, apakah itu sebuah tanya? Terlebih kepada seorang pengecut yang bertanya di balik tirai, kepada siapa hendak hak jawab itu dilayangkan.

Jika engkau lelaki, jadilah pejantan. Jangan terus hidup di balik bayang.

Teman. Ini adalah dunia. Kita nyata di sini. Semua orang memiliki andil, namun kita tidak butuh pengecut di sini.

Baca Selengkapnya

Kemarau dan Hujan

Kata orang, “kemarau semusim bisa terhapus oleh hujan sehari.”

Sebentar lagi mau musim pemilukada di Aceh, kita saksikan berbagai orang bertarung mengiklankan dirinya bahwa merekalah yang terbaik yang layak dipilih. Dan masyarakat seperti terhipnotis dengan hal tersebut, walau cenderung kebanyakan mulai apatis dengan apa yang terjadi pada negeri ini.

Saat puncak, orang-orang seperti lupa, apa yang telah dikerjakan 5 tahun lewat oleh partai-partai yang mereka pilih. Oleh orang-orang dengan wajah yang terus berganti, namun watak, kelakuan, tingkah laku, tabiat yang tetap sama. Namun, hampir setiap orang lupa. Bahwa kemarau yang mereka rasakan, terhapus oleh hujan iklan kampanye bakal calon yang mengguyur datang.

Begitu pula hal sebaliknya terjadi, “Setitik nila, rusak susu sebelanga.”

Baca Selengkapnya

Menilai Secara Adil

Menilai secara adil adalah salah satu bentuk tersendiri yang sulit untuk ditempuh. Sering kali ketika kita telah membenci seseorang, kita tidak mampu adil dalam menilai. Terlalu banyak distorsi yang terjadi saat kita menilai orang yang kita benci.

Dalam pergaulan, saya bertemu dengan orang-orang yang membenci orang lain. Di mata mereka, setelah datangnya kebencian maka hal-hal yang terbaik yang tercetus dari mereka-mereka yang dibenci pun tidak dianggap, malah dikategorikan sebagai salah satu kemunafikan. Mereka yang dibenci adalah orang-orang yang memang terlahir untuk salah.

Begitu pula sebaliknya. Ketika kita mencintai seseorang, maka kita memandang segala hal dengan sebelah mata. Mata seseorang yang sedang jatuh cinta sering kali buta, tidak mampu menilai letak kesalahan seseorang. Hal yang seharusnya salah dibenarkan dan yang memang benar lantas diagungkan.

Selanjutnya, manusia sering kali bingung dalam menilai secara adil bila itu berkaitan dengan dirinya. Ego manusia bekerja bagaimana dia tetap survive terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Karenanya tidak jarang kita melihat orang yang masih saja membenarkan segala kesalahan-kesalahan yang terjadi oleh pribadinya. Seringnya, kesalahan-kesalahan itu adalah bagian paling fatal yang seharusnya tidak diperbuat.

Tuhan pernah berkata. Kata-Nya pada suatu ketika, “Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.

Baca Selengkapnya

Tak Ada Yang Abadi, Ini Pasti Berlalu

Seorang bijak pernah meminta kepada seorang tukang cincin untuk mengukirkan sebuah kalimat pada bagian dalam cincin orang bijak tersebut, kalimat itu adalah: “tak ada yang abadi, ini pasti berlalu

Setelah cincin tersebut selesai diukir, orang bijak itu kembali melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanannya itu dia mulai bekerja sebagai buruh pada sebuah perusahaan besar yang dimiliki orang terkaya di kota itu. Orang bijak itu tekun bekerja malah lebih tekun dari kebanyakan buruh yang lainnya.

Seorang pekerja bertanya kepadanya, “mengapa kau bekerja dengan demikian giat padahal gaji dan kehidupan kita tidak akan berubah dengan bekerja lebih giat. Bekerjalah sesuai dengan apa yang mereka bayarkan untuk kita.

Orang bijak itu tersenyum dan cuma berkata, “ini pasti berlalu.

Baca Selengkapnya

Tolong Hargai Call Center

Beberapa waktu yang lalu saya baru tahu jika ternyata call center itu tidak memiliki hubungan langsung dengan Operator Telekomunikasi. Call center adalah out sourcing yang direkrut oleh pihak ketiga (third party). Orang-orang yang bekerja sebagai call center disebut dengan Call Representative.

Mengetahui hal itu, saya menjadi menyesal pada beberapa waktu yang lalu saya pernah begitu marah dengan call center yang bekerja dengan lamban serta tidak mampu menyelesaikan masalah saya sepenuhnya. Saya masih menganggap mereka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari provider telekomunikasi yang saya gunakan.

Kawan baik saya bekerja sebagai call center. Dia mengeluhkan betapa tingkat stress di call center itu sungguh tinggi. Hampir setiap hari dibuka lowongan untuk menjadi call center karena ada saja yang keluar setiap harinya, begitu juga yang masuk setiap harinya. Betapa ketatnya peraturan di call center dan selalu ada punishment dibandingkan reward yang berlaku.

Setiap call center harus berjualan (biasanya kalau kita menelepon call center pasti setelah diakhir kita akan ditawari apakah itu NSP atau pengaktifkan GPRS atau internet), biasanya ada minimal yang dipatok atau mungkin istillahnya break event point setiap bulannya untuk setiap call representative. Kawan saya bilang, dia dipatok harus mampu menjual sekitar 300rb per bulan. Jika hal tersebut tidak mencapai target, maka akan ada bimbingan lanjutan (sejenis punishment) dari pihak perusahaan.

Baca Selengkapnya