Malam ini, aku menangis. Tepat saat seseorang memberikan tautan tentang sebuah tulisan berjudul “Karena Ukuran Kita Tak Sama” karya seorang Salim A. Fillah. Tulisan itu membuat aku ingin terus membaca tulisan berikutnya.
Dadaku bergetar, tentangnya yang dikisahkan oleh seorang Salim. Tentang banyak “nya” yang telah aku lupakan, terlupakan, atau memang sengaja aku ingin agar menjadi lupa. Dadaku hebat bergetar, hingga mungkin, rahang-rahang menjadi kaku setelahnya.
Sudah lama aku tidak menangis. Tidak seperti ini.
Terakhir aku menangis adalah kemarin. Saat gempa hebat melanda Aceh dan aku mengira kiamatlah hari itu akan tiba. Aku mengira tsunami akan kembali hadir di bumi ini. Dan aku, tetap aku, tanpa bekal yang cukup jika menghadap Tuhan nanti. Menangis di antara sujud-sujud yang lebih panjang dari biasanya.
Aku menangis. Aku tidak mengusapnya. Tidak mencoba agar ini berhenti. Aku membiarkannya. Memberikan diriku, hatiku, jiwaku, sedikit kesempatan untuk mengeja makna-makna yang Tuhan sampaikan melalui tangan-tangan yang lain. Aku ingin tangis ini tidak henti, tidak cukup sampai di sini.
Dulu,
Masih ingat
Minggu lalu, saya ikut pengajian mingguan. Biasanya, setiap pengajian, kami dibagikan rapor mingguan tentang peningkatan ibadah harian. Rapor saya sangat buruk. Amalan harian saya jauh sekali dari target normal yang seharusnya. Tilawah saya jarang, shalat jamaah pun kurang.
Baru saja aku berpikir tentang hidup yang seperti untaian benang. Namun, saat berikutnya aku malah berpikir, alih-alih seperti untaian benang, hidup lebih seperti jaring laba-laba. Satu getaran terbentuk, seluruh jaring ikut merasakan. Begitulah cara saat laba-laba mengetahui ada mangsa yang hinggap. Demikian pun kita, hanya saja, terkadang manusia alpa dengan banyaknya jaring yang saling mengikat, mengisi, dan berbagi. Terkecuali mereka yang peka.