Bahasa Langit

Menurutmu, langit mana yang paling indah? Langit pagi atau langit malam.

Langit malam!

Mengapa?

Suka ajah, saat gelap menyapu cakrawala di sana berjejal milyaran bintang. Momen yang indah. Tak seperti pagi, sinarnya terang menyapu benderang bintang. Pada saat itu pagi hanya memiliki satu bintang, matahari. Matahari terlalu sombong, berdiri absolut tanpa ingin diganggu. Aku tidak suka.

Bukankah saat pagi kau akan menemukan awan? Dan burung di angkasa dengan kepak sayap mereka yang kokoh dan kekar. Pernah melihat saat elang membungkus langit? Atau saat awan memutih seperti salju, atau saat tak ada awan ketika langit benar-benar biru.
Baca Selengkapnya

Kita Bukan Pecundang

Judul di atas tidak salah. Memang kita bukan pecundang, kita semua adalah pejuang. Terlepas dari menang atau kalah, kita tetap bukan pecundang. Pecundang hanyalah mereka yang kalah oleh diri sendiri, mereka yang tidak berani mencoba setelah tersungkur untuk kesekian kali.

Sadarkah kita bahwa sesungguhnya kita adalah pemenang kehidupan. Sebelum kita bersekutu dengan ovum, kita telah menyisihkan jutaan pejuang lainnya. Mulai sejak awal ejakulasi, kita bertarung sesama kita, adu cepat, adu tangkas untuk mencapai ovum yang kita kejar. Sungguh, kita adalah satu dari jutaan kontestan. KITA BUKAN PECUNDANG!

Namun terkadang, setelah tulang ini berbalut daging dan dibalut lagi oleh kulit dari epidermis-epidermis yang bersekutu, lantas mengapa kita menjadi pengecut? Kita menjadi takut kalah perang, kita menjadi begitu cengeng, dan hanya mengharapkan euforia. Teman, sadarkah engkau?

Apakah engkau tidak mengingat saat dimana dirimu hanya satu dari sejuta, lantas Kami keluarkan kamu daripada mani-mani untuk menjadi pejuang lalu Kami tentukan sesiapa diantara kamu yang paling berhak untuk maju menjadi pemenang. Dan diantara para pemenang ada yang Kami matikan sebelum menjadi darah dan daging, ada pula yang Kami matikan setelah teriakan pertama, dan ada yang Kami panjangkan umurnya hingga rambut memutih dan Kami jadi dia kembali ke asal. Sungguh, Kami telah menetapkan kamu agar selalu berjuang dan tidak berputus asa dari rahmat Kami. Sungguh Kami berkuasa atas segala sesuatu.

Sebel !!!

Selasa 25 September 2007

Baru kali ini aku begitu kesel dengan yang namanya abang leting. Jangan mentang-mentang abang leting lantas bisa seenaknya saja menggenjet adik leting. JANGAN SEENAKNYA!

Kebetulan ini berhubungan dengan jadwal kuliah, jika di luar masalah kuliah aku pribadi sih fine-fine saja, namun jika harus berhadapan dengan masalah kuliah, apalagi kalau aku benar-benar sudah ingin serius kuliah, apalagi aku ingin cepat-cepat selesai merampungkan kuliahku, apalagi aku ingin cepat-cepat melamar Taman Surga-ku. Aku tidak akan menyerah.

Awalnya saat lelah menunggu Pak Asbar untuk mengajar mata kuliah Analisa Tegangan Eksperimental akhirnya setelah jam 10.00 WIB Pak Asbar tidak juga datang, kami memutuskan untuk pulang karena jam 10.00 WIB Pak Asbar akan mengajar mata kuliah Sistem Pemipaan. Saat di jalan aku bertemu dengan abang leting yang pada lusa dulunya aku melihat dia membawa buku Teknik Otomotif jadi aku berasumsi bahwa dia juga mengambil mata kuliah Teknik Otomotif.
Baca Selengkapnya

Taman Surga

Sayang, apa yang engkau takutkan? Bukankah aku telah berjanji tidak akan poligami! Apakah itu tidak cukup bagimu?

Sayang, bukankah aku telah katakan padamu bahwa aku memilihmu bukan karena aku diterima atau ditolak oleh sang puteri, sama sekali bukan. Posisimu absolut di dalam hatiku, bukan sebuah perasaan hasil reinkarnasi masa lalu atau sebuah rasa yang tercipta oleh kenangan masa lalu. Sungguh sayang, aku tidak mencintaimu karena aku pernah mencintai seseorang yang mirip denganmu! Tidak juga aku membandingkanmu dengan sesuatu yang lain! Bukan karena kamu mirip chinese atau memiliki wajah yang polos, bukan itu sayang. Posisimu mutlak seperti saat aku mencintai cinta pertamaku.

Sayang, aku harap kamu mengerti. Kelak…
Baca Selengkapnya