Ternyata Aku Posesif

ArieL FX: blog kmu napa ben?
baiquni: baiquni.net
baiquni: bang
baiquni: mo nanya
baiquni: bole ga
ArieL FX: iiah
ArieL FX: apa itu?
baiquni: dewasa itu gmn seh bang
ArieL FX: hahah
ArieL FX: itu susah definisikannya
ArieL FX: hnya org lain yg bisa menilai
ArieL FX: bukan diri kita sendiri
baiquni: kalo menurut abang
ArieL FX: dewasa itu ada pola berpikir yg matang
baiquni: kalo mnenurut abang
baiquni: beni dewasa ga
ArieL FX: ga
baiquni: abang liatnya darimana
ArieL FX: cara kamu berpikir
ArieL FX: yg kamu tuangkan lewat blog
baiquni: dari sana bisa dilihat ya bang
baiquni: mang ketidak dewasaan beni kelihatannya gmn
ArieL FX: yupz
baiquni: abang liatnya gmn
baiquni: beni sedang mencari arti dewasa bang
baiquni: beni pengen dewasa
ArieL FX: gag bisa di cari itu
ArieL FX: itu hanya org lain yg bisa mendefinisi dan mendeskripsikannya
ArieL FX: gag individual
baiquni: hmm
baiquni: kira2 cara orang mandang shingga bilang beni ga dewasa itu dmn bang
baiquni: dmna letak salah beni
ArieL FX: terlalu possesif
baiquni: possesif maksudnya
ArieL FX: google. posessif

lalu aku mencari di google arti dari posesif. POSESIF sering dikategorikan sebagai rasa tidak percaya diri dan tidak yakin diri, sehingga saat ada yang mencintainya dan mau menerima dirinya sebagai pasangannya, maka dia akan menguasai pasangannya karena selalu diliputi ketakutan kehilangan rasa cinta pasangan.
Baca Selengkapnya

Novelis Yusaku – Sang Psikolog

Semalam, baru kali itu aku begitu jujur pada seseorang. Dia kupanggil Afif. Sekarang sedang kuliah di psikologi jurusan klinis. Bahkan sebuah kejujuran yang tak pernah aku ungkapkan kepada orang lain sebelumnya. Tidak kepada Aik, Wendri, bahkan keluargaku pun tidak.

Sisi-sisi gelapku kuterangkan kepadanya. Siapa aku sebenarnya kujelaskan kepadanya. Hampir tak ada yang kututupi, termasuk dosa-dosaku. Semua kubicarakan.

Aku ingin berubah. Aku ingin dia menganalisa letak permasalahan diriku. Aku ingin Afif menuntunku ke tempat seharusnya aku berpijak, dan bagaimana agar aku mampu lepas dari kegelapan diriku yang bahkan diriku sendiri tak mampu memahaminya.

Perasaan kejam itu, perasaan beringas, benci, dendam, khayalan, juga rasa kasih, rasa ingin berubah, penyendiri, introvert, wajah yang penuh topeng, traumatisme, dan lain sebagainya. Aku ingin segera menghilangkan sisi-sisi burukku tersebut. Aku sangat ingin.

Ada beberapa halangan saat menghubunginya. Namun semuanya berjalan dengan lancar.

Namun semua langkah besar selalu diawali dengan langkah kecil terlebih dahulu, begitu aku katakan kepada Afif. Aku tidak mungkin berubah total dalam semalam, semua harus dimulai dari hal yang paling kecil dan mendasar. Hal yang paling fundamental.

Mungkin aku harus tetap menjaga konsultasiku dengan Afif untuk mencapai perubahan yang sempurna. Semoga saja Afif tidak merasa terganggu karena ada orang sinting dan gila yang akan berkonsultasi dengannya. Semoga saja.

Ahh…

Waktu itu semakin dekat. Waktu untuk menghapus langit dan bumi. Aku mampu menghirup udara itu, udara ketakutan anak manusia ketika matahari terbenam di timur. Sebelum hari itu tiba, aku harus segera berubah. Aku ingin saat berjumpa dengan-Nya nanti, Dia tak mengacuhkan aku atau malah berpaling. Aku ingin Dia tersenyum padaku dengan senyuman hangat dan sambutan tangan terbuka.

Tuhan, aku rindu Kamu.

Jantung yang Kau titipkan telah semakin lemah. Itu berarti waktuku untuk menuntaskan takdir kali ini akan segera usai bukan? Aku tak sabar! Tak sabar merasakan pelukan hangat-Mu.

Baca Selengkapnya

Dialog Hari Ini: Aku – Andre

baiquni: ndree
baiquni: ;))
baiquni: aku dah plong
baiquni: nama cowok tu YUNA
baiquni: aku dah hubungi cowok tu semalam
baiquni: anak Calang
baiquni: memang dia cowoknya datul skrg
andryenatore: lama tu sakitnya ben
andryenatore: ko da liat fs miftah ?
andryenatore: da ada tu foto cowoknya
andryenatore: hahahah
baiquni: cuma 1 hari
baiquni: setelah bicara ama cwonya dia yg baru
baiquni: plong
baiquni: bagi gw datul bahagia
baiquni: kalo loe tau gmn datul kisahnya
baiquni: mgkn gw lebih sayang ke dia daripada cinta
baiquni: asal dia bahagia
baiquni: gw rela
andryenatore: ko da ngomong ama cowoknya ?
andryenatore: cerita apa ?
baiquni: ada
baiquni: aku tanya nama dia sapa
baiquni: trus aku tanya knal datul kapan
baiquni: mereka knal awal bln 5
baiquni: datul bilang si yuna lebih dewasa
baiquni: dia dewasa
baiquni: gw kan enggak
baiquni: jadi aku rasa ndri, datul bakal bahagia dengan yuna
andryenatore: yuna – yanif
baiquni: :))
andryenatore: brengsek !!!
baiquni: 🙂
andryenatore: ben
andryenatore: introspeksi ben
baiquni: maksudnya ndre
andryenatore: ko taulah
andryenatore: be better tomorrow !!!
andryenatore: itu yg aq lakukan
andryenatore: paling ga klo jumpa miftah aq ga ada rasa lagi
andryenatore: status aq diatas dy
baiquni: rasa itu jgn ditipu
andryenatore: n aq merasa dy lah yg patut rugi
baiquni: biarlah dia menjadi seperti sisa manisan dalam hidup
andryenatore: ga ditipu ben
andryenatore: skrg aja aq udah merasa gitu
baiquni: jgn diingkari
baiquni: biarlah semua itu tertanam dalam hati
andryenatore: karena aq bukan dia
baiquni: sambil berdoa, agar yang terbaik bagi kita dan dia. kita selalu punya rencana ndre, tapi Allah yang Mahatahu, yang terbaik untuk kita
baiquni: ndree..
baiquni: tau ga ndre, obat yang bikin aku cepat melupakan dan merasakan plong yang luar biasa
baiquni: padahal waktu kemaren pertama kali dengar dari kamu, aku tuh macam terkhianati banget dan sakit banget
baiquni: namun habis Isya semalam, semuanya begitu plong
andryenatore: wew
andryenatore: ga lama lagi umurko 😛

Semalam, setelah Shalat sunnah plus baca Quran, sedikit demi sedikit beban yang kurasakan begitu plong. Afif (Novelis Yusaku) sang psikologku juga membantu begitu banyak, walau bukan masalah tentang persoalanku tetapi lebih ke permasalahan diriku yang introvert.

Wendri juga membantuku di siangnya, aku dengan puas menangis (walau dia tak tahu). Ternyata Wendri juga sedang mengalami seperti yang aku alami. Tetapi dia memilih sikap: mencintai dengan hati.

Dan Allah adalah yang paling berperan dalam menolongku kali ini. Dalam tahajud semalam, aku cuma mampu berdoa: “Ya Allah, berikanlah yang terbaik bagi Datul. Tuntunlah dia ke jalan-Mu. Beri dia hidayah dan lapangkanlah segala urusannya. Jangan buat dia menangis lagi. Bahagiakan dia walau kali ini aku harus menjadi yang tersiksa.

Ada sejuta sensasi plong yang menembus diri ini. Dan secepatnya, kebencian yang kurasa awal juga menjadi sirna.

Kali ini, jalanku semakin terbuka dan lurus ke depan. Jalan mencari ridha Rabb-ku dan jalan dimana diujungnya telah menanti seorang bidadari yang dipersiapkan untukku.

Bidadari, aku berharap itu dia. Tetapi aku tak ingin berspekulasi… Aku selalu menanti kejutan Rabb-ku, kejutan-kejutan yang indah.

Ya Allah, tanamkanlah cinta di dadaku tanpa setitik pun benci. Dan jadikan aku termasuk orang-orang yang bersabar dan berserah diri. Amien

Baca Selengkapnya

Puisi Kutukan

Menjadi terkutuk aku…
maka terkutuklah semua yang ada dibumi
termasuk dirimu yang membaca diriku

tak pantaskah aku menjadi pecundang?
mengapa memaksa aku eksis
biarkan saja aku di sini menggelepar
dalam sunyi, sepi, hampa

padamkan semua cahaya
biarkan semuanya tanpa warna
cahaya hanya memberi sudut, arah, dan ruang
membuat segala perbedaan terlihat jelas
membuat ego menjadi gamblang

makilah !!!
makilah aku yang berbicara tanpa terikat bait
makilah aku yang berteriak tanpa mengeja huruf
atau aku yang terbang di ujung langit

siapakah yang awal?
putih atau hitam?
cahayakah yang mengerangi gelap
atau gelap yang menutupi cahaya?

wahai kamu yang terombang-ambing
yang masih berperang dengan diri sendiri
aku sudah khatam tentang itu
dirimu itu ternyata tak bermakna
jauh ribuan jutaan kali terlahir dan mati
yang ada hanya hampa dan kekosongan
yang kau cari tak pernah hilang,
karena ianya tak pernah ada

mengapa mengutuk langit yang berwarna?
langit tak pernah salah, sedari awal ia tercipta tanpa warna
yang salah adalah cahaya
cahaya yang memberi warna

Baca Selengkapnya

Antara Langit Biru dan Safana Sepi

Ben, lihatlah lautan ini. Airnya begitu biru, begitu banyak dengan buih yang membasahi pantai. Negeri ini seolah tidak akan pernah kering.

Laut? Aku tidak mampu melihat laut yang engkau ceritakan itu sahabat. Aku tidak melihatnya.

Yang kulihat hanyalah safana. Safana yang maha luas. Safana yang sepi, hanya ada semilir angin yang menggoyang rumput-rumput, dan gemerisik daun yang bersentuhan. Aneh tetapi, di safana ini aku tidak melihat hidup.

Apa yang engkau maksud Ben, aku tidak mengerti. Sepenuh aku tidak memahami ucapanmu itu. Kau meracau! Lihatlah laut biru ini. Tidakkah engkau merasakan sensasi pasir yang menggelitik kakimu, kesatnya garam yang menyetubuhi kulitmu. Ah, lihat itu! Serdadu ikan berlomba menjamah langit biru, tetapi mereka tak akan mampu. Laut adalah hidup mereka, sedang langit hanyalah mimpi.

Apakah aku buta? Bagaimana laut eksis di safana yang begitu nyata dan luas. Tidakkah engkau merasa rerumputan yang menggelayut di kakimu? Ah, hanya sayang. Safana ini begitu sepi, tak ada kehidupan di sini. Bahkan rerumputan yang menyelimuti seluruhnya hanyalah rerumputan kering yang mati, menunggu terbakar hingga semuanya menghitam menjadi abu, lalu membusuk dan menjadi humus. Menjadi ibu baru untuk rumput lain yang akan segera hidup.
Baca Selengkapnya