hantu

Hantu Lab

Sampai sekarang, saya masih berkeyakinan, bahwa di lab itu ada hantunya. Fadhli — teman saya — tetap aja berusaha meyakinkan saya kalau itu cuma halusinasi atau suara dari lab sebelah. Tapi, kok rasanya masih janggal.

Jadi ceritanya begini. Beberapa minggu lalu, saya ikut menginap dengan Fadhli di lab. Saat itu dia fokus mengerjakan tesisnya dan saya mencoba mengerjakan konsep rancangan untuk alat HITS (Horizontal Impact Testing System). Tiba-tiba lampu mati, sedangkan hujan di luar deras banget. Berbekal senter dari handphone, kita menuju ke student corner untuk makan dulu. Siap makan, kita kembali lagi ke lab.

Di lab, Fadhli mengambil wudhu dan shalat. Biasanya, kita shalat di ruangan S3, ada tempat shalat kecil di sana. Dan saat shalat itu, tiba-tiba Pak Kasda menelepon-ku. Saya katakan bahwa Fadhli sedang shalat, karena saya juga berada di ruangan S3. Ada suara seperti orang sedang shalat di balik lemari tempat yang biasa digunakan untuk shalat.

Yang mengerikan, saat saya selesai menutup telepon. Saya mengintip ke tempat shalat, untuk memberitahukan bahwa Pak Kasda tadi telepon. Eh, ternyata, tempat shalat itu kosong. Dan ketika saya beranjak ke pintu mau keluar (karena bulu kudu sudah merinding), tiba-tiba Fadhli muncul dari ruangan shalat yang lain yang ada di samping ruang kelas. Saat itu, bulu kuduk saya semakin merinding.

Baca Selengkapnya

anak sakit

Aku Sakit

Sudah seminggu aku sakit. Bahkan sekarang masih terasa lemas. Di mulai dari Senin lalu, sudah mulai flu dan puncaknya hari Selasa ketika aku melakukan presentasi konsep desain untuk alat yang akan dijadikan bahan tesis: Horizontal Impact Testing System (HITS).

Karena lemas, bahkan ke kampus sekarang aku masih nebeng dengan temanku. Biasanya dengan Pak Saiful atau dengan Fadhli.

Sakit itu tidak menyenangkan. Kepala pusing. Hidung bocor. Perut terasa berangin. Dan semua ketidaknyamanan di dunia rasanya terkumpul menjadi satu. Dan parahnya lagi, setiap sakit aku paling malas ke dokter. Apalagi dokter sekarang suka banget apa-apa kasih antibiotik. Terkadang, jika tidak tahan, aku biasanya minum Paracetamol, tetapi entah kenapa sepertinya sekarang ini Paracetamol tidak begitu berefek lagi.

Baca Selengkapnya

Packing

Pindah Kosan

Mulai tanggal 1 Desember 2015, aku resmi pindah lapak. Aku pindah kosan dari Cisitu Baru ke Kebon Bibit, dengar-dengar sih dekat dengan rumahnya Anisa Cherrybelle tapi aku ga tahu yang mana orangnya. Alasan aku pindah karena kosan di Cisitu Baru katanya akan diubah menjadi kosan cewek, atau kosan campur. Jadi, cowok di lantai atas dan cewek di lantai bawah. Daripada terjadi hal-hal yang diinginkan, ya lebih baik aku pindah. Hehehe…

Aku berterima kasih banget ke teman-temanku: Fadhli Dzil Ikram, Yura Muhammad, dan Faza Satria Akbar yang udah bantu-bantu aku packing dan pindahan. Mas Fadhli yang udah setia bantu aku angkat lemari, Yura yang mau dipinjam mobilnya buat bawa ini-itu, dan Faza yang bantu cari kardus sampai ke Dipatiukur. Entah bagaimana episode packing aku tanpa kalian di sisiku… hiks hiks hiks… #drama

Kamarku di Kebon Bibit tidak seluas di Cisitu Baru, mungkin setengah luas dari Cisitu Baru dan kamar mandinya pun di luar. Tapi tidak apa-apa, selama kamarnya memiliki jendela dan masuk cahaya matahari, bagiku sudah cukup. Toh, kamarku cuma digunakan untuk tidur dan belajar. Harga di sini juga lebih murah dan sudah termasuk cuci sama internet Indihome 10 Mbps.

Baca Selengkapnya

Ibu Warung

Ibu-ibu Warung

Beberapa waktu yang lalu aku menemukan langganan tempat beli nasi yang baru. Aku memilih karena harganya lebih murah dari tempat yang biasanya aku beli. Warung padang ini menurutku lebih murah, satu porsi nasi dengan lauk telur dadar cukup merogoh kocek sepuluh ribu. Sebenarnya ada tempat lain yang lebih murah, yaitu di warung padang Simpang Tigo yang dekat Mesjid Salman ITB. Aku diperkenalkan tempat itu oleh teman labku, mas Yonan. Dulu, di Simpang Tigo, pakai ayam cuma sepuluh ribu!

Singkatnya, aku pun mulai terasa akrab dengan ibu penjaga warung padang itu. Walau tidak sampai tahu siapa nama ibu itu, paling tidak setiap aku mampir untuk membeli si ibu langsung tersenyum. Hal yang tidak biasa dia lakukan ketika awal-awal aku membeli, menjadikan indikator bahwa tampangku sudah dikenal dan ditunggu. Aku juga mulai berani bertanya kekurangan lauk yang tidak hadir dalam porsi nasiku, terkadang. Misal, aku bertanya tentang kelangkaan daun ubi (di Bandung, orang lebih sering menyebutnya daun singkong .pen) yang aku suka. Dari kegiatan bertanya itu, aku mulai mendengarkan curhat-curhat ibu warung.

Ibu warung terkadang mengeluh, terutama saat aku bertanya tentang ini-itu pada lauknya. Tentang kelangkaan daun singkong, harga barang yang naik, dan sebagainya. Dan aku, dengan kalemnya cuma mengangguk manut tanpa menimpali.

Baca Selengkapnya

senja

Kemarahan

Sudah dua hari, seseorang cuek kepada saya. Jika dirunut, pasalnya sederhana, saya membandingkan Aceh dan Bandung. Saya merasa Bandung akhir-akhir ini panas sekali, bahkan ketika malam. Tidak ada beda dengan Aceh yang juga panas, baik siang maupun malam. Hanya saja, di Aceh, saat kepanasan saya memiliki sebuah AC di kamar untuk mendinginkan diri. Tidak di sini. Hal yang cuma mampu saya lakukan adalah membuka pakaian saya dan berharap kulit saya lebih cepat bertemu dengan angin.

Terakhir, saya mengirimkan sebuah surel (email .red) kepadanya, dengan sebuah judul “Permohonan Maaf“. Entah dia sudah membuka surel tersebut, entah surel tersebut masuk ke dalam SPAM Folder, atau entah langsung dibuang. Saya bukan cenayang, bukan mereka yang bisa melihat dari mata jin yang bergentayangan. Saya cuma manusia biasa. Tapi, sampai sekarang, surel yang saya kirimkan belum juga ada balasan.

Kemarin, saya mengirimkan video lucu. Karena tahu bahwa nomor WhatsApp di handphone-nya telah memblokir saya, maka saya mengirimkan video itu ke nomor yang lain, sebuah nomor WhatsApp yang ada di tablet-nya. Hasilnya, bahkan nomor saya di tablet juga ikut diblokir.

Baca Selengkapnya