Jam Dinding

Jam Dinding Yang Sekarat

Di rumahku, ada satu jam dinding yang tinggal menunggu waktu untuk “pergi”. Letaknya di atas kulkas yang ada di samping tangga menuju lantai dua, tegak lurus dengan mini bar yang menghubungkan ruang utama — tempat kami menonton tv dan wilayah Khansa (keponakanku .pen) dengan pertempurannya — dan dapur. Jam yang merupakan hadiah pernikahan kakak ketigaku dulu.

Kadang, ketika aku hendak menaiki tangga, jam tua itu seperti memanggilku dengan suara deritnya ketika menunjukkan jam-jam yang genap. Suaranya begitu menderit, bahkan nenekku masih terkesan jauh lebih muda daripada jam tersebut jika menilai dari suaranya saja. Suara derit jam itu ibarat sebuah pepatah lama: “hidup segan, mati tak mau“. Namun herannya, sejak 3 tahun lalu suara deritan itu tetap sama tetapi jam itu tidak juga mati. Sungguh semangat hidup yang patut diacungi jempol!

Baca Selengkapnya

Hantu Lab

Lab Untold Story

Masih ingat dengan kisahku soal hantu lab di tulisan ini. Nah, beberapa hari yang lalu aku mulai menemukan bukti bahwa di labku itu memang benar ada hantunya. Ini seperti, misteri yang tersimpan selama berabad-abad mulai terkuak.

Jadi ceritanya begini, beberapa hari yang lalu saat aku baru sampai di lab, tiba-tiba salah seorang staf lab mendekati aku dan Fadli, sambil berbisik pelan, “mas, tadi ada interaksi.” — seperti acara di dunia lain

Aku dan Fadli kebingungan. Interaksi apa?

Ternyata interaksi yang dimaksud oleh staf lab tersebut adalah tentang makhluk halus yang menjadi penghuni lab. Nama hantu tersebut adalah Nina. Ngakunya, hantu tersebut adalah jiwa yang belum mendapatkan kedamaian karena kehilangan sebuah cincin yang hilang entah ke mana pada saat kematiannya. Akunya lagi, hantu tersebut mati karena kecelakaan dalam keadaan hamil dua bulan, di luar nikah. Makin aneh saja cara jin menipu manusia.

Jadi, di lab ada sebuah kursi roda hasil perancangan mahasiswa di sini dan ternyata sepeda itu adalah barang mainan si Nina itu. Terus, dia ngotot agar jangan pernah sampai memindahkan kursi roda itu keluar dari ruangan lab. Dan tempat ngetem si Nina itu setelah magrib adalah di ruangan mushala dan di ruangan mengajar.

Baca Selengkapnya

hantu

Hantu Lab

Sampai sekarang, saya masih berkeyakinan, bahwa di lab itu ada hantunya. Fadhli — teman saya — tetap aja berusaha meyakinkan saya kalau itu cuma halusinasi atau suara dari lab sebelah. Tapi, kok rasanya masih janggal.

Jadi ceritanya begini. Beberapa minggu lalu, saya ikut menginap dengan Fadhli di lab. Saat itu dia fokus mengerjakan tesisnya dan saya mencoba mengerjakan konsep rancangan untuk alat HITS (Horizontal Impact Testing System). Tiba-tiba lampu mati, sedangkan hujan di luar deras banget. Berbekal senter dari handphone, kita menuju ke student corner untuk makan dulu. Siap makan, kita kembali lagi ke lab.

Di lab, Fadhli mengambil wudhu dan shalat. Biasanya, kita shalat di ruangan S3, ada tempat shalat kecil di sana. Dan saat shalat itu, tiba-tiba Pak Kasda menelepon-ku. Saya katakan bahwa Fadhli sedang shalat, karena saya juga berada di ruangan S3. Ada suara seperti orang sedang shalat di balik lemari tempat yang biasa digunakan untuk shalat.

Yang mengerikan, saat saya selesai menutup telepon. Saya mengintip ke tempat shalat, untuk memberitahukan bahwa Pak Kasda tadi telepon. Eh, ternyata, tempat shalat itu kosong. Dan ketika saya beranjak ke pintu mau keluar (karena bulu kudu sudah merinding), tiba-tiba Fadhli muncul dari ruangan shalat yang lain yang ada di samping ruang kelas. Saat itu, bulu kuduk saya semakin merinding.

Baca Selengkapnya

anak sakit

Aku Sakit

Sudah seminggu aku sakit. Bahkan sekarang masih terasa lemas. Di mulai dari Senin lalu, sudah mulai flu dan puncaknya hari Selasa ketika aku melakukan presentasi konsep desain untuk alat yang akan dijadikan bahan tesis: Horizontal Impact Testing System (HITS).

Karena lemas, bahkan ke kampus sekarang aku masih nebeng dengan temanku. Biasanya dengan Pak Saiful atau dengan Fadhli.

Sakit itu tidak menyenangkan. Kepala pusing. Hidung bocor. Perut terasa berangin. Dan semua ketidaknyamanan di dunia rasanya terkumpul menjadi satu. Dan parahnya lagi, setiap sakit aku paling malas ke dokter. Apalagi dokter sekarang suka banget apa-apa kasih antibiotik. Terkadang, jika tidak tahan, aku biasanya minum Paracetamol, tetapi entah kenapa sepertinya sekarang ini Paracetamol tidak begitu berefek lagi.

Baca Selengkapnya

Packing

Pindah Kosan

Mulai tanggal 1 Desember 2015, aku resmi pindah lapak. Aku pindah kosan dari Cisitu Baru ke Kebon Bibit, dengar-dengar sih dekat dengan rumahnya Anisa Cherrybelle tapi aku ga tahu yang mana orangnya. Alasan aku pindah karena kosan di Cisitu Baru katanya akan diubah menjadi kosan cewek, atau kosan campur. Jadi, cowok di lantai atas dan cewek di lantai bawah. Daripada terjadi hal-hal yang diinginkan, ya lebih baik aku pindah. Hehehe…

Aku berterima kasih banget ke teman-temanku: Fadhli Dzil Ikram, Yura Muhammad, dan Faza Satria Akbar yang udah bantu-bantu aku packing dan pindahan. Mas Fadhli yang udah setia bantu aku angkat lemari, Yura yang mau dipinjam mobilnya buat bawa ini-itu, dan Faza yang bantu cari kardus sampai ke Dipatiukur. Entah bagaimana episode packing aku tanpa kalian di sisiku… hiks hiks hiks… #drama

Kamarku di Kebon Bibit tidak seluas di Cisitu Baru, mungkin setengah luas dari Cisitu Baru dan kamar mandinya pun di luar. Tapi tidak apa-apa, selama kamarnya memiliki jendela dan masuk cahaya matahari, bagiku sudah cukup. Toh, kamarku cuma digunakan untuk tidur dan belajar. Harga di sini juga lebih murah dan sudah termasuk cuci sama internet Indihome 10 Mbps.

Baca Selengkapnya