gelombang

Gelombang

Aku pernah ada di tempat yang paling tinggi. Pernah pula aku jatuh ke tempat paling rendah. Bahkan menari di antara keduanya. Laksana gelombang. Pasang-surut silih berganti. Semisal roda, kadang di atas kadang di bawah. Aku berputar tanpa henti. Menuju lelah. Mencapai akhir.

Lantas aku pun diam, pada satu titik. Berdiam yang lama sekali. Menyudutkan pandanganku cuma tertuju kepada bumi. Bertanya, sampai kapan aku akan terus begini. Hidup dalam gelombang. Hidup dalam pusaran yang tak pernah mengenal kata henti.

Aku ingin seperti dulu. Saat aku hidup di atas. Ketika jarak aku dan Dia sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi. Ketika aku benar-benar merasa, bahwa kedekatan kami begitu erat. Sampai kemudian iblis pun datang dengan merangkak, pelan-pelan masuk ke dalam hati. Saat dia bercerita, tidak ada lagi langit di atasku ini.

Baca Selengkapnya

Marhaban ya Ramadhan

Mungkin karena usia. Ramadhan yang dulu aku hadapi dengan perayaan tampak tertatih sekarang berjalan. Entah kemana perasaan gembira yang dulu akan selalu hadir, seperti perasaan seseorang menunggu pernyataan cintanya diterima: detik-detik mendebarkan yang dinantikan. Namun sekarang pupus.

Mungkin ini karena jiwaku yang semakin kosong. Boleh jadi karena semakin bertumpuknya dosa di dalam dada. Tentang kaki yang berselimut lumpur, dan lengan yang berkubang kesalahan. Hati yang lalai dan pikiran yang jauh dari memikirkan Tuhan.

Aku merindukan aku yang dulu. Manusia yang melihat manusia dengan seadanya. Tidak mengutuk mereka yang berdosa lebih dari seharusnya. Memaafkan mereka yang terlupa. Tidak berburuk sangka ketika berderma. Tak membutuhkan manusia membalas kembali seluruh cinta.

Baca Selengkapnya

Saya Takut!

closed
sumber: wired.co.uk

Beberapa waktu yang lalu, saya ngobrol dengan seseorang tentang keinginan saya menutup blog ini. Seseorang itu lantas bertanya, “kenapa?”

“Saya takut,” jawab saya saat itu.

Sudah beberapa hari ini saya takut dengan blog saya sendiri. Sesuatu yang mulai saya tulis sejak bertahun-tahun yang lalu. Tentang perjalanan hidup, sakit hati, menyakiti, disakiti, bahagia, kebanggaan, kekecewaan, dan segalanya. Namun, bukan itu yang saya takuti, tetapi lebih ketika saya menuliskan apa yang saya rasakan tentang Tuhan, dan bayangan-bayangan saya mengenai Dia.

Seperti tentang tulisan saya yang berjudul “Evolusi Terakhir“, bagaimana saya menceritakan tentang Tuhan yang memeluk, yang tersenyum, untuk segala lika-liku perjalanan hidup ini. Boleh jadi, apa yang saya tulisankan itu amat sangat tidaklah pantas.

Atau seperti cerpen saya yang berjudul “Kathmandu” dan “Kepak Sayap-sayap Tumpul“, betapa saya terlalu berani melangkah dalam kebutaan. Seperti para rabbi yang diceritakan, mereka yang mereka-reka tentang Tuhan.

Jika saya mati, apakah semua kesesatan yang pernah saya catat ini akan terus ada? Mengaliri dosa seperti umpama pada sedekah jariyah, maka ini adalah dosa jariyah. Itu yang saya takutkan.

Baca Selengkapnya

Laron dan Api

Terowongan Cahaya
sumber: devilockers.blogspot.com

Saat seseorang berbicara bahwa Tuhan berlaku tidak adil kepadanya. Ketika dia bercerita bahwa saat menjadi seorang ateis hidupnya baik-baik saja, namun ketika dirinya mulai mendekati Tuhan, maka seluruh keburukan yang tak pernah dia bayangkan hadir. Saat itu, aku menjadi terenyuh. Hatiku bergetar. Perlahan, air mata tumpah. Dia telah menyakiti Tuhan!

Bukankah emas tidak akan menjadi murni sebelum dipanaskan? Demikian pula iman tak akan murni sebelum diberi cobaan. Maka apakah kamu akan dibiarkan berkata bahwa “kami beriman” sebelum dicoba.

Tidak cuma sebuah hubungan. Bahkan ketika engkau merangkak menuju Tuhan, engkau pun akan dimintai bukti. Semurni apa cintamu padaNya. Bahwa cinta tidak cuma sekedar kata-kata. Agar tak menjadi basi dia adanya.

Baca Selengkapnya

Memungut Kerikil

kerikil
sumber: thewonderful7.blogspot.com

Pernah suatu ketika aku melihat seorang anak dengan hobi yang aneh: memungut kerikil. Karena tidak tahu dengan apa yang dikerjakannya, aku cuma berjongkok heran memperhatikan. Anak itu terus memilah, satu batu diambilnya, diperhatikan, lantas dibuang, batu yang lain pun demikian, sampai kemudian dia menemukan satu batu untuk disimpan.

Dasar anak-anak! Batu yang disimpan segera dibawanya pulang. Dan dalam perjalanan, ada raut kebahagiaan di wajahnya. Senyumnya mengambang. Terus berseri seiring langkahnya surut pulang.

Apalah arti sebuah kerikil, pikirku berhari kemudian. Namun, senyum semringah sang anak yang bahagia, sulit untuk aku lupakan. Sampai aku berkesimpulan: untuk bahagia, tidak perlu sesuatu yang wah. Cukuplah sesuatu yang sederhana untuk disyukuri.

Mengapa kita sering bersedih? Mengapa kita merasa bahwa dunia adalah kumpulan, irisan dari himpunan segala ketidakadilan dan ketidakbahagiaan. Bahkan, terkadang kita terus menguraikan segala alasan yang berujung kepada segala penderitaan kita. Sampai, pada satu titik, kita mulai menjadi mereka yang sering menyalahkan.

Tangan kita menunjuk si A adalah sumber penderitaan. Tak puas, kemudian kita menunjuk si B, si C, dan seterusnya. Bahkan setelah seluruh jemari telah habis menunjuk, tak luput kita membentangkan kertas dan mulai menuliskan nama-nama segala asal dari ketidakpuasan.

Baca Selengkapnya