danbo

Gelisahmu

Aku tidak tahu apakah ini kutukan. Seseorang pernah mengatakan padaku tentang ketidaksetiaannya. Aku menyanggah, mencoba buyar kan segala apa yang dikatakan orang tersebut walau kemudian akhirnya aku menyerah dengan segala apa yang hadir di depan mata. Dari dulu, aku selalu duduk dalam posisi mengawasi, bersabar dalam keadaan untuk terus melihat apakah dia akan kembali. Tapi yang aku dapatkan, dia terus mengulangi.

Saat dia ingin pergi, selalu aku katakan: nanti engkau kehilangan tempat untuk kembali. Mungkin karena alasan itu dia menjadi resah. Ingin bebas namun ingin juga merasa aman seperti dalam sangkar. Maka dia pun urung untuk melebarkan sayapnya untuk terbang tinggi, urung meninggalkan aku yang sendiri di dalam gua dalam tubuh penuh luka. Maka aku bersyukur tentang hal itu.

Walau aku terus melihat gelisah. Tentang jiwa yang ingin berkisah, tidak cuma terapung dalam danau dangkal lagi keruh. Jiwa yang ingin segera bebas, menembus langit tinggi dan cakrawala. Jiwa yang geram dengan semua yang hadir dalam mayapada.

Mungkin sebenarnya aku hanya ingin menghibur diri. Tentang takdir yang aku rasa berhak untuk aku miliki. Tentang jiwa yang aku kurung kebebasannya untuk terbang tinggi, agar tidak lagi aku sendiri di dalam gua lagi gelap dan sempit ini. Ya! Aku hanya menghibur diri.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms:

Master Oogway

Rahasia Bahagia

The more you take, the less you have.

— Master Oogway

Berapa banyak yang kita ambil, tetapi tidak pernah mencukupi. Kita terus haus untuk segala hal. Tidak pernah puas dengan segalanya. Kepuasan itu seperti lautan, kadang kita tidak mengenal sampai di mana dasarnya. Semakin ke dalam, semakin menyesakkan, semakin menjauh dari cahaya. Semakin membuat kita buta.

Mereka yang memberi, adalah mereka yang berkecukupan. Mereka yang tidak terikat. Mereka yang lepas dari segala jerat. Sesuatu yang sesungguhnya semua orang mencari, tapi tidak menemukan. Sesuatu yang kita sebut sebagai rasa puas.

Dunia itu seperti jaring. Mengekang dan menjerat. Kita terus menggali, menegak sampai kembung tapi tidak pernah membuat kita untuk berhenti. Bahkan, jika telah ada di langit ke tujuh, kita mencari langit ke delapan. Dan anehnya, saat kita memiliki banyak hal, kita tidak rela melepaskan sedikit hal.

Baca Selengkapnya

sufi

Menjadi Gila

Aku merasa ketakutan. Aku takut temanku akan menjadi seperti aku yang dulu. Mereka yang mencintai Tuhan lantas menjadi gila. Ya, mereka yang gila ketika merasa bahwa dirinya dan Tuhan adalah sama. Seperti Al-Hajjah dengan “Ana Al-haq“-nya.

Kepadanya berkali-kali aku ingatkan. Berhati-hatilah menempuh jalan yang itu. Jalan yang mudah membuatmu tersesat dan menyesatkan. Bahkan, seperti aku yang dulu, yang bahkan tidak menyadari kesesatan itu sendiri. Mereka yang berpikir tentang Tuhan sebagai tujuan dan mulai melupakan jalan. Mereka yang percaya, bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan. Tentang Tuhan yang tidak akan bertanya, dari jalan mana engkau menempuh. Tuhan yang abai, apakah engkau datang dari api atau dari berhala. Atau dengan sujudmu walau engkau berkata bahwa dia adalah yang bertiga.

Mereka yang berbicara tentang cinta. Dan sungguh engkau melihat mereka datang dengan cahaya dan air yang ada pada kedua tangannya, padahal sesungguhnya yang mereka bawa adalah api. Yang akan membakarmu tak bersisa. Yang akan meninggalkanmu dalam ronta. Mengikat lehermu, lantas menuntunmu menuju neraka.

Pernahkah engkau mendengar, tentang mereka yang telah berhasil disesatkan. Orang-orang yang menjadi engan berdiri, ruku, dan sujud. Bagi mereka, rapalan nama Tuhan telah sangat cukup. Bahwa mereka telah berada di atas tempat paling tinggi, di mana segala bentuk sujud menjadi nisbi. Atau tentang mereka yang menolak lapar, dan memasukkan segala bara ke dalam perut. Atau orang-orang yang berjalan di sisi jurang.

Baca Selengkapnya

Blind traveler

Kita Yang (Mungkin) Buta

Beberapa waktu yang lalu, aku bertemu dengan bapak itu. Saat baru kembali dari Rancabolang untuk mengantarkan buku hadiah bersama Ilham, temanku. Waktu itu kami telah terlambat sampai di Salman, jam telah menunjukkan pukul 16.38 WIB, terburu aku segera menuju tempat wudu untuk segera menunaikan salat Ashar. Aku melihat bapak itu setelah selesai wudu, dia bersama dengan seseorang yang mungkin istrinya, sedang mencoba memetakan arah dari tongkat yang ada di lengannya.

Aku bertanya, apa dia juga hendak berwudu?

Ketika dia meng-iya-kan, aku pun jeda untuk menunggunya sampai selesai. Berpikir untuk menuntunnya naik ke lantai Salman. Bahkan saat dia hendak shalat, dia bertanya soal kiblat. — Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban

Aku pun menutup mata. Berpikir betapa melelahkan ketika kita menjadi buta. Bingung soal arah. Hidup dalam episode gelap tanpa cahaya. Tidak melihat tentang warna, cahaya, dan seluruh rupa. Dan betapa beruntungnya aku, menjadi saksi untuk setiap babak di mana putih menjadi segala warna.

Baca Selengkapnya

Lubang

Lubang

Saat mataku membuka, aku tak mampu melihat apa-apa. Bahkan tak ada sedikit pun cahaya yang datang menari memberikanku warna. Cuma ada kegelapan di sini.

Aku terperangkap. Dalam sebuah lubang sempit yang tak menyisakan ruang pergerakan. Tanganku bebas namun seperti terikat. Ke mana pun arah mataku memandang, tak ada warna yang terikat dalam retina. Sebuah maha gelap di mana aku tak mampu berbuat dan bertindak. Aku seperti dalam lubang.

Entah berapa lama aku telah ada di dalam lubang, bersama seluruh manusia yang juga ikut terperangkap. Kami adalah mereka yang diramalkan, tentang manusia yang ikut, bahkan masuk ke dalam lubang biawak. Sepenggal demi sepenggal, tanpa tahu, tanpa mengerti, tanpa melawan. Aku memang tak melihat mereka karena betapa gelapnya di sini, namun mampu kudengar napas berat mereka yang terperangkap. Adalah aku, yang baru hanya berteriak, sedangkan yang lain sedang terlelap.

Baca Selengkapnya