Laron dan Api

Terowongan Cahaya
sumber: devilockers.blogspot.com

Saat seseorang berbicara bahwa Tuhan berlaku tidak adil kepadanya. Ketika dia bercerita bahwa saat menjadi seorang ateis hidupnya baik-baik saja, namun ketika dirinya mulai mendekati Tuhan, maka seluruh keburukan yang tak pernah dia bayangkan hadir. Saat itu, aku menjadi terenyuh. Hatiku bergetar. Perlahan, air mata tumpah. Dia telah menyakiti Tuhan!

Bukankah emas tidak akan menjadi murni sebelum dipanaskan? Demikian pula iman tak akan murni sebelum diberi cobaan. Maka apakah kamu akan dibiarkan berkata bahwa “kami beriman” sebelum dicoba.

Tidak cuma sebuah hubungan. Bahkan ketika engkau merangkak menuju Tuhan, engkau pun akan dimintai bukti. Semurni apa cintamu padaNya. Bahwa cinta tidak cuma sekedar kata-kata. Agar tak menjadi basi dia adanya.

Saat kebencianku kepadanya mulai muncul, aku seperti membenci diriku sendiri. Aku seperti menatap cermin masa lalu, bahwa pernah ada masa-masa ketika aku mempertanyakan segalanya, terutama tentang nasib yang begitu pilu. Tentang hati yang terus terluka. Tentang lengan yang tak pernah mampu mengangkat punggung, menjadi tegak berdiri ia adanya. Tentang kaki yang terus berputar menari, tanpa mengetahui ke mana tujuan dia akan berhenti.

Apa yang engkau harapkan saat membaca novel atau komik, dengan semua jalan cerita yang menyenangkan tanpa tantangan. Bukankah kenikmatan sebuah cerita adalah ketika air mata mampu tumpah, dan dada berdebar hebat ingin terus membuka setiap lembaran. Apakah engkau menyerah setelah tetes air mata pertama, atau malah semakin menggebu membuka lembaran berikutnya?

Demikian pula hidup. Keindahan yang sama akan tercapai, ketika engkau berkali harus jatuh, namun tak ada kata menyerah untuk terus bangkit berdiri. Melanjutkan seluruh cerita hingga napasmu telah berhenti.

Tidakkah begitu indah, ketika seluruh catatan dibuka, di sana engkau melihat, tentang Tuhan yang bermain dalam hidupmu namun engkau tidak pernah menyerah. Tentang Dia yang tersenyum ketika melihatmu rida untuk seluruh jalan cerita yang sudah digariskanNya, dan semoga Dia pun akan rida terhadapmu dan seluruh jalan yang pernah engkau lalui.

Tiba-tiba saja aku teringat tentang laron dan api. Bahwa bukan api yang mendekati laron, namun laronlah yang berlari menuju api. Hingga seluruh raganya terbakar, menjadi abu, dan terlupakan. Demikian pula hidup, yang boleh jadi bukan kesukaran itu yang hadir, namun kitalah yang mengundangnya. Tentang kaki-kaki yang telah salah dalam memilih langkah. Tentang pion catur yang tak memiliki jalan untuk kembali.

Tetapi hidup tidaklah dihadirkan dalam suatu kekakuan. Bukankah Tuhan telah memberikanmu hati, juga air mata. Dan sebuah cerita, bahwa segalanya akan kembali berulang. Adalah tugas kita untuk memilih: ingin terus jatuh dalam lubang yang sama, atau belajar dari setiap kesalahan. Untuk menjadi lebih matang.

Incoming search terms: