Puisi Untuk Jiwa

“Le, do you study poetry?” Confucius asked his son.

“No,” Le replied shamefacedly.

“He who does not study poetry is like a man with his face turned to the wall. Does a man with his face turned to the wall ever see anything beautiful?”

How The Great Religions Began (Joseph Gaer) –

puisi
sumber: kumpulremaja.blogspot.com
Puisi, nyatanya diciptakan oleh hati. Saya jarang membaca puisi yang tertuang oleh karena alam pikiran semata. Seringnya, saya membaca puisi-puisi yang ditulis dengan hati. Dan karena sebuah puisi ditulis oleh hati, maka yang membacanya pun harus menggunakan hati.

Semakin sering suatu puisi dibacakan, semakin indah dia. Seolah, antara dua hati sudah semakin mengenal. Pertama membaca, seperti malu tapi mau. Berikutnya membaca, seolah adalah seorang teman baru. Kemudian, lanjut menjadi sahabat lama. Lalu terjadi ikatan hati dan ada sebuah rindu dalam tiap bait kata.

Apa pernah mencium harum puisi? Tiap kata yang terpilih menjadi satu komposisi yang berbeda. Puisi seolah memiliki nyawa. Terkadang, ada puisi dengan harum kecut, ada pula yang mewangi. Untungnya, terlalu banyak mengkonsumsi puisi tidak akan menyebabkan obesitas.

Bacalah puisi. Semoga hatimu akan lembut karenanya.

Baca Selengkapnya

Merekam Kebahagiaan

“Pernah bahagia?” Tanyaku suatu kali kepada seorang teman.

Dia tersenyum — entahlah — aku tidak tahu. Kami cuma bertukar kata melalui komunikasi udara. Dan aku menduga, dia tersenyum saat katakan, “Pernah. Aku pernah bahagia.”

smile
merekam kebahagiaan
Kemudian aku melanjutkan, “Nikmati kebahagian itu. Belum tentu besok masih akan berlangsung.”

Manusia, hidup, dalam dua periode yang terus berulang dan akan terus demikian: kesedihan dan kebahagian. Entah kapan, tidak ada manusia yang mampu menduga bilamana kesedihan atau kebahagiaan yang akan datang. Aku pun demikian.

Maka teman, rekamlah olehmu semua kebahagiaan yang pernah terjadi kepadamu. Seperti sebuah tape perekam, putarkan kembali semua bahagia yang terjadi saat sedihmu tiba. Ada satu hal yang harus engkau ingat, bagaimanapun kesedihan menderamu, ada kebahagiaan yang akan datang menanti. Engkau cuma perlu meraih atau menanti.

Baca Selengkapnya

Karena Kita Bangsa Indonesia!

Paling Indonesia?!

Jika ditanya apa yang “PALING INDONESIA“, maka akan timbul beribu jawaban yang berbeda. Bahkan bukan tidak mungkin jika jawaban yang datang dapat membuat repot kita semua. Misal, para pesimistis di negeri ini, jika dihadapkan dengan pertanyaan yang sama, maka mungkin saja akan menjawab; “yang paling Indonesia adalah: korupsi, pertikaian antaretnis, kesenjangan sosial, FPI, surga para perokok, atau mungkin yang sedang hangat; menteri kondom!

Mungkin hal di atas adalah segelintir jawaban tentang apa yang Paling Indonesia. Kita memang telah terjangkiti banyak penyakit, namun bukan berarti sebagai bangsa Indonesia kita pasrah dan menjadi pesimis.

Indonesia adalah negeri yang kaya. Indonesia juga memiliki penduduk yang ramah serta terbuka. Kita punya potensi, kita memiliki modal untuk terus berdikarya, karena kita adalah Indonesia.

Tiga ratus lima puluh tahun dijajah oleh Belanda dan tiga tahun setengah oleh Jepang tidak membuat segerap rakyat dan bangsa ini menjadi pesimis, merasa kalah, dan harus menyerah. Di mana-mana gaung kemerdekaan digaungkan. Bangsa Indonesia selalu optimis bahwa ada banyak masa depan yang lebih indah yang bisa direkam oleh anak cucu kita nanti, dan kita menjadi langkah pertama demi kebahagiaan mereka.

Baca Selengkapnya

Olga, Istihza', dan Pelajaran Tentang Etika

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

olga syahputraSemua bermula Selasa (19/6) malam lalu. Saat Jupe — sapaan akrab Julia Perez — melalui telepon menyapa Olga, “Assalamu’alaikum.

Dengan maksud berkelakar, dibalas Olga dengan ucapan, “Lu assalamu’alaikum terus, ah kek pengemis, Lu.

Secara tidak langsung, Olga menyebut kalimat salam umat Islam tersebut sebagai ucapan pengemis. Mungkin dengan prasangka baik kita, maksudnya adalah bergurau agar penonton tertawa. Namun Olga rupanya tidak sadar, jika candaannya itu telah menyinggung SARA, menyinggung umat Islam. Banyak orang yang langsung mengadu ke situs KPI dan mendesak agar Olga segera diberikan tindakan tegas. Sejumlah ormas Islam pun menyatakan protes keras.

Ini sudah ke sekian kalinya Olga membuat sensasi. Kebanyakan menyinggung orang lain, bahkan SARA. Daftar panjang “catatan dosa” artis yang sering nampang di berbagai acara televisi ini dirilis oleh BeritaSatu.com. Berikut petikannya:

Baca Selengkapnya

Epigon: Saling Menginspirasi

Dalam sebuah kelas menulis, di sekretariat FLP Aceh, saat seorang Herman RN bertutur tentang plagiat aku mendengarkan istillah ini untuk pertama sekali. Epigon: terinspirasi.

Manusia, hidup dan bertutur, segalanya dari inspirasi. Beberapa orang menjadi inspirator bagi yang lain. Aku yang terinspirasi oleh kamu, pun demikian, menjadi inspirator bagi orang lain. Tidak ada yang salah dengan saling terikat, mungkin, tanpa bahkan dunia menyadari, orang yang menjadi inspirasiku boleh jadi terinspirasi olehmu.

Bumi selama ini menjadi inspirasi abadiku. Dari rupa-rupa yang hadir di wajahnya, aku menatap manusia. Penuh ke dalam mata mereka, aku mencari jiwa. Jiwa-jiwa apa yang terpendam di dalam hati manusia. Celakanya, sebagian jiwa aku temui dalam keadaan kotor, penuh duka, kesepian, perjuangan tiada henti, ketidakpuasan, dan tanpa bahagia.

Inspirator menjadi penting, saat ketika manusia berjalan dengan beban punggung yang ditanggung. Inspirator adalah cara manusia memahami proses. Dengannya, setiap bibit manusia, melihat, mendengar, berjalan, segalanya atas apa yang dikehendakinya. Inspirator membuat setiap manusia berbeda dalam melihat.

Penting untuk melihat: siapa yang menginspirasi kamu.

Mereka yang terinspirasi oleh Hitler, niscaya akan membunuh jutaan Yahudi. Mereka yang terinspirasi oleh Muhammad, niscaya akan mengasihi dengan tiada henti.

Baca Selengkapnya