Ego

Menggelitik. Hari ini aku mulai belajar memperhatikan egoku sebagai bukan bagian dari diriku. Aku menempatkannya di pelosok yang berbeda, dan aku memperhatikannya.

Gila. Begitu banyak keinginan yang ingin dicapai oleh egoisme tersebut. Tak cukup satu dia akan meminta yang lain, dan begitu tak terpenuhi sepenuh amarah menjalar. Dulu, amarah-amarah itu ku pendam. Sekarang, amarah-amarah itu ku pelajari, ku runut dimana letak keegoannya dan kemudian ku ulur hingga reda dia.

Ego itu terus bergolak. Kata guru-guru zaman, “biarkan ego itu mengalir, jangan dibebankan dan jangan pula ditahan, biarkan dia menikmati keegoisannya hingga segalanya menjadi begitu melelahkan dan selepas ego lelah maka jiwa yang memegang peranan. Tugasmu adalah memperhatikan.

Ada beberapa hal yang ego ilusikan pada kita; ketakutan, nilai, rasa, cinta, kebahagiaan, dll. Namun yang diilusikan adalah bagian terendah dari kadar-kadar. Ego memberikan alasan untuk setiap kebahagiaan, dengan memberikan nilai-nilai, rasa, atau ketakutan.

Baca Selengkapnya

Jejak Yang Hilang

Seharian aku stress. Bukan seharian, namun sepanjang tahun ini. Tepatnya sejak awal aku selesai Kerja Praktek (KP) di Arun. Tugas KP yang belum tuntas ku laksanakan, hingga… ah sudahlah, tak perlu rumit kuceritakan. Toh tak akan ada gunanya juga, tak pernah ada penyelesaian dari hanya beberapa komentar pembaca.

Namun ada satu yang kusadari, aku terlalu dalam menyimpan perasaan beku hatiku ini. Hingga kemarin, aku mencoba untuk lepas tertawa namun rasanya hatiku ini sesak. Bertingkah sok lebay namun diriku ini kosong hampa.

Beberapa hal telah ku coba. Apakah itu mengikuti perintah Tuhan atau turut nafsuku dicocok iblis. Semua hal telah, namun rasa sepi sunyi hampa ini tetap absolut tak pernah lekang oleh waktu. Tidak mengendur dia malah semakin menjadi.

Proses peluruhan diriku sedang berlangsung, dan dimulai hari ini.

Baca Selengkapnya

Jejak Setapak Menuju Langit

Langkah-langkah tak boleh terhenti seketika. Harus terus berjalan, melangkah menuju puncak langit. Menuju gelap langit yang tak biru akibat bias lautan, menuju langit hampa dengan hamparan bintang tanpa bingkai bumi yang mengkotakkan. Langit sebenar-benar langit.

“Bagaimana engkau mampu melangkah keluar dari kotak?” Tanya lelaki suatu ketika.

Aku, pria, menjawab. “Dengan sepenuh kekuatan.”

“Bagaimana dengan atmosfir yang membalut kotak? Ketika kau pergi daripadanya, maka secepat itu radiasi angkasa akan menghantammu. Menghancurkanmu, dan melepas rangkamu dari jasad. Kau akan mati detik itu juga.” Lelaki mengingatkan.

Baca Selengkapnya

Kemana Lelaki Melangkah

Sampai sekarang, aku belum tahu, belum memahami, belum mengerti kemana jejak langkah lelaki akan surut atau berhenti sama sekali. Bahkan ketika kaki-kaki lelaki telah mati, akan ada yang menyambung langkah mereka. Akan ada orang-orang yang menjadi panjangan lidah-lidah lelaki. Sungguh, lelaki tak pernah mati.

Kadang aku merasa tersindir. Lelaki mencibirku, “tak selayaknya pria selalu berbicara tentang cinta.

Aku yang ter-kick cuma mesem-mesem saja. Benar kata lelaki. Tak selayaknya pria selalu berbicara tentang cinta, walau cinta adalah variabel dasar manusia. Toh lelaki pun pria adalah manusia. Masih punya hati untuk merasa, juga punya hati untuk bisa disakiti dan sakit hati.

Lantas kemana jejak langkah lelaki harus diarahkan?

Baca Selengkapnya

Berbicara Tentang Cinta

Lantas cinta itu apa?

Apakah rasa dalam diri yang bergolak, atau cuma nyanyian nafsu yang menggebu? Sumpah, aku tidak mengerti.

Baru ku sadari, ternyata cinta pun memboyong nafsu, terlebih jika awal datangnya cinta dari pandangan, bukan dari kebaikan hati atau kekaguman. Lantas salahkah cinta jika dibarengi dengan nafsu? Sayangnya itu tidak salah sayang, sama sekali tidak salah. Tuhan yang menciptakan nafsu sebagai variabel dasar manusia untuk terus eksis di dunia ini, namun Tuhan pula memberikan akal pada cinta agar nafsu tidak memperbudak cinta, hanya memberi sedikit kembang gula padanya.

Bahkan Yusuf pun memiliki nafsu. Bahkan Daud, bahkan Sulaiman, bahkan Musa.

Ingatkah engkau ketika Tuhanmu berkata dalam kitab yang paling suci dan santun. Saat Dia bercerita: “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan yusuf, dan yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya . Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Q.S. Yusuf : 24)

Baca Selengkapnya