Jejak Yang Hilang

Seharian aku stress. Bukan seharian, namun sepanjang tahun ini. Tepatnya sejak awal aku selesai Kerja Praktek (KP) di Arun. Tugas KP yang belum tuntas ku laksanakan, hingga… ah sudahlah, tak perlu rumit kuceritakan. Toh tak akan ada gunanya juga, tak pernah ada penyelesaian dari hanya beberapa komentar pembaca.

Namun ada satu yang kusadari, aku terlalu dalam menyimpan perasaan beku hatiku ini. Hingga kemarin, aku mencoba untuk lepas tertawa namun rasanya hatiku ini sesak. Bertingkah sok lebay namun diriku ini kosong hampa.

Beberapa hal telah ku coba. Apakah itu mengikuti perintah Tuhan atau turut nafsuku dicocok iblis. Semua hal telah, namun rasa sepi sunyi hampa ini tetap absolut tak pernah lekang oleh waktu. Tidak mengendur dia malah semakin menjadi.

Proses peluruhan diriku sedang berlangsung, dan dimulai hari ini.

Proses yang begitu mengerikan, bahkan aku sudah tak segan lagi untuk meninggalkan persahabatan.

Mungkin terdengar aneh, aku pun tak mengerti apa yang sedang terjadi namun begitulah adanya. Sesuatu yang selama ini ku pendam ingin ku muntahkan dengan segera, namun aku tak ingin semuanya menjadi kacau dan orang-orang terluka. Namun walau demikian, beberapa orang pasti akan terluka.

Aku tak ingin lagi memainkan peran sebagai seorang Baiquni, namun aku ingin menjadi utuh jiwaku. Aku tak ingin orang memandangku sebagai Baiquni namun sebagai utuh manusia. Tanpa status, tanpa peduli aku, sama seperti ketika mereka awal memandangku asing. Aku yang tanpa nilai.

Namun sanggupkah aku? Memulai proses self-destruction tersebut. Menghilang dari semua-semua nilai dan tidak menganggap semuanya memiliki nilai.

Contoh, sanggupkah aku membakar laptopku ini? Jika tidak sanggup berarti aku belum mampu melangkah menjadi sesuatu tanpa nilai karena aku masih membutuhkan nilai, setidaknya aku masih memberi harga terhadap laptopku ini. Padahal sejatinya, semuanya adalah tanpa nilai. Tak ada nilai absolusitas.

Oh Tuhan, apa yang terjadi kepadaku?

Egoisme, ketakutan, masa lalu, harga diri, kebanggaan, nilai, semua harus kembali ke nilai awal: ketiadaan.

My self-destruction process is beginning…

  • ingat arun ingat sang warna

  • yah… bukan itu bang pembahasan kali ini

  • K

    🙂

    InsyaAllah Beni pasti sanggup..

    Semua bukan mau Beni..

    Hm,Ka di ingat lagu…

    “Kau bole saja benci. Salahkan saja padaku. Mungkin lebih baik bagimu, bila kau melupakanku. Tapi dengarlah ini,ku kan slalu berjanji, apapun yang terjadi nanti kau tetap selalu di hati..”

    🙂

    Masih panjang lagi lagunya..

    Alahai Beni, Jadilah Beni apa adanya..

    Maafin Ka tas mua2nya..

    Beni,berrubbaaaaaaaaaaaaah…!!

    Hehhe

  • pemuda badar

    drpd bakar laptop, mendeng kasi ke kita aja yach