Kita Masih Beruntung

Apakah kamu orang yang suka mengeluh?

Apakah kamu orang yang suka mendebat Tuhan untuk segala kekurangan yang kamu miliki?

Apakah kamu orang yang suka mencela sesuatu yang sebenarnya haruslah kamu syukuri.

Kita masih beruntung. Aku, kami, mereka, kita masih sangat beruntung.

Sekitar hari Jumat, aku bertemu dengan bang Norman. Dia mengajakku untuk bergabung disebuah lembaga yang bergerak dalam bidang kemanusiaan. Aku diminta untuk menjadi volunteer, seorang sukarelawan yang bekerja giat tanpa meminta bayaran. Nantinya, lembaga itu akan dinamakan dengan nama Aceh Initiatives, dengan alamat situs www.acehinitiatives.org.

Aku diminta untuk menjadi web master di sana. Tetapi untuk saat ini, jobdesk-ku adalah membuat email, lantas mendaftarkannya ke paypal agar orang-orang luar negeri dapat dengan mudah mendonasikan dana mereka ke kami dengan melalui paypal. Lembaga ini tidak sedikit pun akan memungut biaya dari kegiatan, semua berasal dari donatur. Karenanya, kantor kami adalah sebuah web agar semua hal bisa berjalan tanpa biaya.

Baca Selengkapnya

The Law of Diminishing Utility

The Law of Diminishing Utility. Jujur, aku sendiri kurang paham artinya. Istillah tersebut muncul dari si neng geulis waktu percakapan kami dihari menjelang pagi. Istillah itu muncul begitu saja ketika entah mengapa pembicaraan kami mulai mengarah kepada bidadari, bidadari ketiga, dan seorang lelaki.

Saat aku ceritakan kepadanya bahwa barusan bidadari sms aku, bahwa dia akan menikah 4 minggu lagi.

Apa itu The Law of Diminishing Utility?

Bisa diistillahkan begini: jika kita TERLALU mencintai sesuatu, maka cinta itu akan cepat habis. Contoh, jika kita suka sekali dengan nenas, kalau TERLALU dan KETERLALUAN banyak makan nenas maka kita jadi muak dengan nenas tersebut.

Tetapi menurutku, hukum tersebut bersifat dialektika. Antara YA dan TIDAK atas keumuman yang diutarakannya. Pada satu sisi bisa saja hukum tersebut bekerja, namun kita jangan menafikan adanya banyak ragam anomali dalam setiap sendi kehidupan.

Baca Selengkapnya

Logo BlackBerry Mirip Simbol Yahudi

Lagi liat-liat video BlackBerry Storm 9530, trus aku miringkan kepala ke kiri 45 derajat, eh trus merasa kok logo BlackBerry mirip simbol Yahudi, mirip ama bintang davidnya orang Yahudi gitu ya???

Trus aku konsultasi ama bang Pmen, katanya dia, “Enggak ahh, aku lihatnya mirip logo BB gitu.

Awalnya aku juga merasa begitu, eh tapi ga tau deh. Coba aja lihat gambar di belakang.

MUNGKIN ITU FAKTOR KEBETULAN SAJA… JANGAN JADI KAUM YANG SUKA MENGHUBUNG-HUBUNGKAN YAA, BEBERAPA TEMANKU SUKA BANGET MENGHUBUNGKAN, MACAM LOGO INDOSAT DIANGGAP LOGO YAHUDI LAH…

HAHAHA….

JUST FOR SHARING AJA

Baca Selengkapnya

Kepemimpinan Itu Seperti Pohon

Kemarin aku ikut Muswil FLP Aceh. Dalam muswil itu adalah pertanggungjawaban 2 tahun sekali presidium FLP dan pemilihan ketua baru untuk masa jabatan 2 tahun. Kali ini, seperti yang kuramalkan, Riza Rahmi terpilih sebagai ketua.

Aku suka dengan gaya Riza memimpin. Paling tidak, dalam rapat-rapat kepanitian aku melihat cara dia mengemukakan pendapat. Aku melihat dia sebagai seorang yang idealis, dalam, dan visioner. Entah, mungkin itu hanya pendapatku saja.

Kemarin ada 7 calon besarnya kemudian diadakan voting untuk memilih 3 calon besar. Riza Rahmi, Roby Anugerah Syahputra, dan Nuril Annissa adalah 3 calon besar tersebut. Dan kemudian, dari hasil musyawarah forum maka kami sepakat untuk memilih Riza Rahmi sebagai ketua yang akan menahkodai kami.

Semua calon awalnya menolak. Bahkan Riza pun setelah dipilih agak sedikit menolak. Dia berharap kami tidak seperti orang yang menjilat ludah kami sendiri (aku baru tahu istillah ini), ketika kami mengagungkannya saat kami mengusung namun kami berbalik arah ketika dia telah menjadi seseorang yang memimpin kami.

Baca Selengkapnya

Mempertanyakan Kembali Keikhlasan

Di beberapa kami sempat terjadi perbincangan, tentang seorang ustad yang meminta dibayar mahal untuk berdakwah. Bagiku, dia seperti ustad palsu. Karena dia meminta dunia, bukan akhirat padahal sejatinya dakwah adalah pengorbanan harta dan jiwa. Bahkan seharusnya kita yang membayar agar orang mau mendengarkan dakwah kita.

Sejatinya dakwah adalah menukarkan dunia dengan akhirat.

Kita kembali mempertanyakan, adakah keikhlasan ustad tersebut dalam berdakwah? Taruhlah ustad tersebut berjiwa enterpreneur, namun apakah harus dengan membisniskan lahan dakwah? Padahal begitu banyak pahala yang diperoleh dari dakwah namun menjadi tiada nilai ibadah lagi ketika dia mengharapkan materi daripadanya.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.(Q.S. Al-Kahf : 28)

Baca Selengkapnya