Teka-teki Sebuah Perjalanan

Hidup adalah teka-teki.
Hidup adalah perjalanan.
Hidup adalah teka-teki sebuah perjalanan.

Kita semua sedang menebak-nebak sebuah teka-teki mahapenting. Teka-teki yang kita namakan kehidupan. Sebagian dari kita berkata bahwa itu adalah sebuah perjalanan. Bagiku, hidup adalah rangkaian puzzle acak yang menunggu untuk disatukan. Puzzle tentang cinta, puzzle persahabatan, puzzle kesuksesan, dan puzzle Tuhan.

Tuhan akan marah jika kita berhenti mencoba. Karenanya, dia mengharamkan surga bagi mereka yang memutuskan mati sebelum semua puzzle lengkap terbentuk.

Puzzle kita adalah rangkaian takdir. Tidak harus indah, namun keikhlasan dalam menjalani serta doa yang selalu kita mintakan kepada Tuhan akan menjadi score penting, kelak suatu hari ketika puzzle-puzzle kita dinilai pada suatu sidang.

Baca Selengkapnya

Hacker dan Warna Hitam

Ga tahu kenapa ya? Para hacker entah mengapa suka sekali dengan warna hitam.

Apakah ini menunjukkan hubungan relasional atau satu arah (bahkan vertikal) antara para hacker dengan dukun? Soalnya setahu saya yang menikmati rupa hitam adalah para dukun.

Lihat saja rata-rata semua deface menggunakan warna hitam. Terkadang halaman website komunitas mereka juga berwarna hitam. Kecoak, Jasakom, Echo, X-Code, Antihackerlink, hayooo apa lagi? Semua website tersebut menggunakan warna dominan hitam.

Padahal yah, kebanyakan hacker itu berwarna kulit putih. Apakah warna hitam ingin menunjukkan bahwa kalau kena matahari kulit mereka bakal gosong atau hitam, atau menunjukkan bahwa mereka selalu bekerja di area yang serba hitam (malam) atau kecintaan mereka pada yang hitam-hitam.

Kalau toh mereka cinta yang hitam-hitam, kenapa pulak pacar dan istri mereka, yang mereka cari itu yang putih-putih dan cantik-cantik?

Baca Selengkapnya

Tahajud dan Piala Dunia

Tadi, khatib Jumat yang ada di mesjid dekat rumahku berbicara begini. Suatu pembicaraan yang membuat jantung berdetak lebih kencang. “Mengapa orang-orang rela terbangun untuk menonton piala dunia, namun untuk tahajud begitu susah?

Sebuah pertanyaan yang membutuhkan renungan lebih. Ya, membutuhkan renungan panjang. Bukan pertanyaan dengan jawaban singkat, karena untuk menjawabnya dibutuhkan suatu pencerahan kecuali cuma jawaban kosong yang tiada meninggalkan bekas. Butuh waktu untuk menjawab pertanyaan khatib tersebut.

Jelas aku tersentak. Aku merasa pertanyaan khatib itu adalah pertanyaan Tuhan yang dititipkan lewat mulutnya. Aku merasa Tuhan sedang ingin menyindirku. Seolah dia bertanya: “Kamu Baiquni, mengapa rela bergadang malam untuk hal-hal yang bersifat duniawi? Mengapa kamu rela duduk di depan komputer terus-menerus tetapi untuk membaca ayat-ayatKu saja kamu begitu susah. Mengapa untuk tersungkur sujud di hadapanKu kamu begitu angkuh. Sombong. Siapakah Tuhanmu?

Khatib tadi yang menjadi Kepala Bidang Dakwah di Dinas Syariat Islam juga bercerita. Mereka terkadang malam sering ke Ulee Lhue, mencegah muda-mudi untuk berpacaran di sana, tetapi apa jawaban mereka? “Kami mau masuk surga atau neraka ya itu urusan kami, apa urusan dengan Bapak?

Baca Selengkapnya

Kepribadian Ganda

Kalau tidak salah, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa aku ini memiliki kepribadian ganda. Itu hasil dari pandangan mereka, tetapi tidak bisa seenaknya dicetuskan bahwa seseorang itu adalah seseorang dengan kepribadian ganda. Diperlukan bukti psikologis oleh seorang psikolog atau psikiater.

Menurutku, mereka berpendapat seperti itu karena melihat ulah dan sikapku. Aku yang kadang terlalu baik, kadang menjadi terlalu buruk serta jahat. Mereka melihat aku di dunia maya yang kadang urakan, kadang tanpa sekat dan blak-blakan bahkan bisa dikatakan cenderung tanpa rasa malu.

Sedangkan ketika mereka melihat aku di dunia nyata rasanya berbeda. Kalau mereka mendengar percakapanku di telepon berbeda. Bahkan mungkin ketika sms mereka tiada menemukan aku. Terkadang, di dalam tulisan-tulisanku, si Baiquni itu pun sirna.

Baca Selengkapnya

Derita Setengah Hujan

Dalam keadaan apa menurutmu sesuatu itu paling menderita? Aku kata, dalam keadaan setengah. Tidak memuncak, tidak juga membumi. Pertengahan diantara keduanya. Itulah hal yang paling sangat membuatmu derita.

Jikalah kita ambil misal tentang cinta. Yang paling berbahagia itu adalah ketika kedua telapak bertepuk tangan. Anggaplah dia itu satu. Dan setengah adalah ketika telapak cintamu cuma bertepuk sebelah. Sakit sekali, teramat sakit.

Derita setengah hujan. Ketika engkau mengharapkan hujan turun, Tuhan tidak memberimu air, juga tidak memberimu kemarau. Cuma sejenak rintik yang tak mampu melegakan dahaga. Tiada pula mampu untuk mengisi danau-danau yang telah merekah retak tanahnya.

Baca Selengkapnya