Jejak Yang Hilang

Seharian aku stress. Bukan seharian, namun sepanjang tahun ini. Tepatnya sejak awal aku selesai Kerja Praktek (KP) di Arun. Tugas KP yang belum tuntas ku laksanakan, hingga… ah sudahlah, tak perlu rumit kuceritakan. Toh tak akan ada gunanya juga, tak pernah ada penyelesaian dari hanya beberapa komentar pembaca.

Namun ada satu yang kusadari, aku terlalu dalam menyimpan perasaan beku hatiku ini. Hingga kemarin, aku mencoba untuk lepas tertawa namun rasanya hatiku ini sesak. Bertingkah sok lebay namun diriku ini kosong hampa.

Beberapa hal telah ku coba. Apakah itu mengikuti perintah Tuhan atau turut nafsuku dicocok iblis. Semua hal telah, namun rasa sepi sunyi hampa ini tetap absolut tak pernah lekang oleh waktu. Tidak mengendur dia malah semakin menjadi.

Proses peluruhan diriku sedang berlangsung, dan dimulai hari ini.

Baca Selengkapnya

Jejak Setapak Menuju Langit

Langkah-langkah tak boleh terhenti seketika. Harus terus berjalan, melangkah menuju puncak langit. Menuju gelap langit yang tak biru akibat bias lautan, menuju langit hampa dengan hamparan bintang tanpa bingkai bumi yang mengkotakkan. Langit sebenar-benar langit.

“Bagaimana engkau mampu melangkah keluar dari kotak?” Tanya lelaki suatu ketika.

Aku, pria, menjawab. “Dengan sepenuh kekuatan.”

“Bagaimana dengan atmosfir yang membalut kotak? Ketika kau pergi daripadanya, maka secepat itu radiasi angkasa akan menghantammu. Menghancurkanmu, dan melepas rangkamu dari jasad. Kau akan mati detik itu juga.” Lelaki mengingatkan.

Baca Selengkapnya

Kemana Lelaki Melangkah

Sampai sekarang, aku belum tahu, belum memahami, belum mengerti kemana jejak langkah lelaki akan surut atau berhenti sama sekali. Bahkan ketika kaki-kaki lelaki telah mati, akan ada yang menyambung langkah mereka. Akan ada orang-orang yang menjadi panjangan lidah-lidah lelaki. Sungguh, lelaki tak pernah mati.

Kadang aku merasa tersindir. Lelaki mencibirku, “tak selayaknya pria selalu berbicara tentang cinta.

Aku yang ter-kick cuma mesem-mesem saja. Benar kata lelaki. Tak selayaknya pria selalu berbicara tentang cinta, walau cinta adalah variabel dasar manusia. Toh lelaki pun pria adalah manusia. Masih punya hati untuk merasa, juga punya hati untuk bisa disakiti dan sakit hati.

Lantas kemana jejak langkah lelaki harus diarahkan?

Baca Selengkapnya

Berbicara Tentang Cinta

Lantas cinta itu apa?

Apakah rasa dalam diri yang bergolak, atau cuma nyanyian nafsu yang menggebu? Sumpah, aku tidak mengerti.

Baru ku sadari, ternyata cinta pun memboyong nafsu, terlebih jika awal datangnya cinta dari pandangan, bukan dari kebaikan hati atau kekaguman. Lantas salahkah cinta jika dibarengi dengan nafsu? Sayangnya itu tidak salah sayang, sama sekali tidak salah. Tuhan yang menciptakan nafsu sebagai variabel dasar manusia untuk terus eksis di dunia ini, namun Tuhan pula memberikan akal pada cinta agar nafsu tidak memperbudak cinta, hanya memberi sedikit kembang gula padanya.

Bahkan Yusuf pun memiliki nafsu. Bahkan Daud, bahkan Sulaiman, bahkan Musa.

Ingatkah engkau ketika Tuhanmu berkata dalam kitab yang paling suci dan santun. Saat Dia bercerita: “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan yusuf, dan yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya . Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Q.S. Yusuf : 24)

Baca Selengkapnya

Rontokkan Saja Langit

RONTOKKAN SAJA LANGIT!

Tiba-tiba saja lelaki itu berteriak demikian. Keras, tegas, menggetarkan. Teriakan yang bukan hanya dari kerongkongan atau suara yang menyapu laring-laring. Itu teriakan hati, sebuah pemberontakan jati diri.

JIKA DIA MENJADI PENYEKAT ANTARA AKU DAN TUHAN, LEBIH BAIK LANGIT ITU RUNTUH.

Tersigap, aku mulai menepuk pundaknya. “Mengapa kau menghujat langit wahai lelaki?

Lelaki itu tidak berpaling, pandangannya tetap menuju atas langit. Aku tahu, dia tidak memandang awan yang menggumpal putih di sana. Lelaki itu menatap jauh melewati awan, melewati atmosfir bumi, melewati ribuan bintang dan planet, melewati galaksi. Dia menatap ke atas, langsung menatap mata Tuhan.

Baca Selengkapnya