Jejak Setapak Menuju Langit

Langkah-langkah tak boleh terhenti seketika. Harus terus berjalan, melangkah menuju puncak langit. Menuju gelap langit yang tak biru akibat bias lautan, menuju langit hampa dengan hamparan bintang tanpa bingkai bumi yang mengkotakkan. Langit sebenar-benar langit.

“Bagaimana engkau mampu melangkah keluar dari kotak?” Tanya lelaki suatu ketika.

Aku, pria, menjawab. “Dengan sepenuh kekuatan.”

“Bagaimana dengan atmosfir yang membalut kotak? Ketika kau pergi daripadanya, maka secepat itu radiasi angkasa akan menghantammu. Menghancurkanmu, dan melepas rangkamu dari jasad. Kau akan mati detik itu juga.” Lelaki mengingatkan.

“Dan langit akan merengkuh jasadku. Jika dia murka, maka dikremasi aku dengan balutan api matahari. Atau dibekukan aku dalam dekapan pluto. Atau menjadi aku sampah diantara puing angkasa yang beterbangan.” Jawabku sekena.

“Maka bergegaslah engkau pria. Semoga semua yang kau idamkan itu akan tercapai. Aku tak akan mengikat tanganku lagi menahanmu. Carilah bidadari itu dan secepat itu kau menuju surga. Lantas ceritakan kelak kepada anak cucu keturunanmu, tentang betapa gilanya Tuhan menciptakan cinta.” Lelaki itu berucap dengan geraham gemeratak.

… aku setitik diam. Aku, pria, terdiam.

Arahku memandang langit biru itu. Ada kerinduan keluar dari kotak bumi ini. Menikmati bebasnya langit, langit tak berbingkai. Menikmati hidup tanpa harus mengerti dualisme, tanpa meributkan segala jahat atau baik. Tanpa harus bersusah memilah, tanpa harus limpung dalam ruang abu-abu.

Tuhan, berapa lama lagi waktu yang kau sisakan untukku?

Mataku menutup terpejam. Kaki bersila. Duduk dengan posisi tegak. Mengatur nafasku, melangkah setapak menuju ekstase, menuju trance sempurna.

Untuk hari ini, catatan ini ku tutup. Catatan: “Jejak Setapak Menuju Langit“.

  • tulisannya terinspirasi dari cinta datul apa ben?

  • bukan… dari perenungan tentang manusia yang terlalu banyak intrik bang, manusia yang haus kekuasaan, manusia yang terlalu suka perang.

  • Don

    Ikan tak diajari brenang… Namun Burung pun tak pernah diajari untuk trbang…

  • namun manusia harus diajari bagaimana menjadi seorang manusia.

  • Don

    Be2n.. Jg trlalu mmaksakan diri tUk pgen mengajari ssorg ank manusia..

  • ijal

    langit pun tak menjawab..
    maka akupun bertanya pada bumi..
    sehingga akan pun lebih membumi..

    ntahpapa.. :p

  • fi, apakah benar seseorang untuk mampu berevolusi membutuhkan guru? Bagaimana dengan self-evolution? Belajar berjalan setapak menjadi manusia Tuhan

  • K

    πŸ™‚

    “Bagaimana engkau mampu melangkah keluar dari kotak?” Tanya lelaki suatu ketika.

    Aku, pria, menjawab. β€œDengan sepenuh kekuatan.” –> Iya kah? Mang qe bisa??

    β€œBagaimana dengan atmosfir yang membalut kotak? Ketika kau pergi daripadanya, maka secepat itu radiasi angkasa akan menghantammu. Menghancurkanmu, dan melepas rangkamu dari jasad. Kau akan mati detik itu juga.” Lelaki mengingatkan. –> Iya kah itu? Yang Qe piker gitu??

    β€œDan langit akan merengkuh jasadku. Jika dia murka, maka dikremasi aku dengan balutan api matahari. Atau dibekukan aku dalam dekapan pluto. Atau menjadi aku sampah diantara puing angkasa yang beterbangan.” Jawabku sekena.–> Kasihan juga, ya.. Makanya, waspadalah.. Waspadalah..!! (Hhehe..)

    β€œMaka bergegaslah engkau pria. Semoga semua yang kau idamkan itu akan tercapai. Aku tak akan mengikat tanganku lagi menahanmu. Carilah bidadari itu dan secepat itu kau menuju surga. Lantas ceritakan kelak kepada anak cucu keturunanmu, tentang betapa gilanya Tuhan menciptakan cinta.” Lelaki itu berucap dengan geraham gemeratak.

    … aku setitik diam. Aku, pria, terdiam. –> Jadi, kapan?? Apa qe dah siap dengan semua yang kan terjadi?? Apa pula lagi dengan “Lantas ceritakan kelak kepada anak cucu keturunanmu, tentang betapa gilanya Tuhan menciptakan cinta.”??

    Arahku memandang langit biru itu. Ada kerinduan keluar dari kotak bumi ini. Menikmati bebasnya langit, langit tak berbingkai. Menikmati hidup tanpa harus mengerti dualisme, tanpa meributkan segala jahat atau baik. Tanpa harus bersusah memilah, tanpa harus limpung dalam ruang abu-abu. –> πŸ™‚ Selamat berusaha..

    (hehehe.. Giling!! Cepat selesaikan kuliahan anakku..!!)
    :-))

  • ijal

    berat li pertanyaannya bro..
    kalo mnurut aku sih pasti butuh guru..soalnya manusia memang ga bisa belajar sndiri..dya butuh orang/makhluk lain..