No 34, Aku, dan Pak Bos, juga Sang Nama

Aku kesal dengan Pak Bos. Aku ungkapkan hal itu kepadanya. Kadang, dalam sebuah organisasi kita harus menjadi terang-terangan, jangan ditahan-tahan. Karena yang kita butuhkan adalah transparansi agar semuanya jelas dan masing-masing lebih mengerti agar tercipta suasana yang kondusif.

Pak Bos membuat aku kehilangan 1 kali Jamaah hari itu. Aku sudah berkali-kali telepon dia, kadang sms, tolong gantikan aku menjaga rental tempat aku numpang cetak sertifikat tetapi dianya tidak bisa. Padahal, kami berjanji akan membagi 3 pekerjaan itu.

Sebenarnya, murni kesalahan ada di aku juga. Aku memiliki cacat teknis ketika mendesain sertifikat di Microsoft Word. Jadinya, diawal terencana untuk mem-print A4 dibagi dua, namun untuk menyiasati harus diprint menjadi empat. Awalnya aku membuat dalam bentuk lanscape, namun ketika di print di A4, selalu muncul dalam bentuk pontrait, dan tidak bisa diubah ke lanscape, sehingga jatah A4 dibagi dua terbilang percuma.

Dari pukul 15.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB aku berada di rental. Cuma untuk nge-print!

Tetapi sebenarnya masalah kesalku sudah selesai semenjak Pak Bos menawari aku mentraktir kebab! Aku minta 3, namun dia menawar menjadi 2. Terpaksa aku setuju.

Baca Selengkapnya

Ebook Pertamaku: Lelaki Yang Berbicara Tentang Angin

Alhamdulillah. Ebook pertamaku sudah terbit, walau bukan dalam bentuk buku konvensional yang diperjual-belikan tetapi aku senang. Aku sangat menghargai pihak-pihak yang begitu apresiasi terhadap tulisan-tulisanku.

Summary

“Lelaki yang Berbicara Tentang Angin” adalah kumpulan cerita karya Muhammad Baiquni. Gaya berceritanya yang banyak menyelipkan metafora dan kalimat puitis adalah kekuatan utama yang menjalin antara cerita yang satu dengan cerita yang lainnya. Anda akan diajak mengepakkan sayap-sayap imajinasi bersama angin yang akan membuatnya terbang tinggi.
______

“Angin adalah dirimu, angin itu hatimu. Terkadang sesuatu berubah dengan sedemikian cepat, namun semua memiliki jeda,” lelaki itu berbicara seolah langsung menuju telingaku. Namun aku sudah cukup tuli untuk mendengar ocehannya.

Aku rindu. Apa engkau tahu?

Aku cinta. Engkau harus tahu!

Baca Selengkapnya

Sang Nama

Pak Bos adalah orang yang agak strict. Dia sangat menjaga pergaulan antara lelaki dan wanita. Cocok sekali menjadi ketua kaderisasi yang memang dibutuhkan untuk itu, terlebih dia sangat mencintai dakwah. Berbeda sekali denganku yang cenderung lebih bebas, dan kadang orang berpikir, lebih nyeleneh.

Suatu hari, di ujian kelas intensif I Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, aku menemukan sesuatu yang membuatku sangat kagum kepada seseorang. Orang tersebut aku beri nama “Sang Nama”, karena namanya aku lupa namun perbuatannya aku ingat selalu.

Malam harinya, kepada No. 34 aku bercerita tentang apa yang aku temukan tersebut. Iseng aku berikan penekanan, mungkin dia calon kandidat berikutnya.

Huh, dasar No. 34. Dia membocorkan hal tersebut kepada Pak Bos.

Baca Selengkapnya

Keterkaitan

Banyak orang sering sekali mencoba mengkait-kaitkan sesuatu dengan banyak hal yang terjadi dalam hidupnya. Dulu, aku pernah bertemu dengan seseorang yang bertanya hari apa aku lahir. Sepertinya dia mencoba mengkaitkan kecocokan antara hari lahirku dan hari lahirnya.

Tanggal lahirku 31 dan dia 13. Mungkin seperti itu yang coba hendak dikaitkan.

Aku pun pernah demikian. Mencoba mengkait-kaitkan keabsahan hati yang ada di dalam dadaku dengan pengujian kait-mengkaitkan. Dengan perhitungan angka-angka. Namun, itu bukan ramalan, cuma mengcoba menghibur hati kemungkinan-kemungkinan yang mungkin bisa terjadi di masa datang. Khayalan tepatnya.

Beberapa orang yang sedang mencintai seseorang juga sering sekali mengkait-kaitkan tanggal-tanggal lahir mereka yang dia cintai ke dalam bagian dari namanya.

Baca Selengkapnya

Jangan Berhenti Untuk Tersenyum

Tiba-tiba saja aku teringat seseorang. Dan aku mengambil sebuah pelajaran bermakna, bahwa apa yang kita tangiskan kemarin mungkin akan berbuah senyuman hari ini.

Dulu sekali, aku berharap dia akan mengisi hidupku. Dia adalah yang mengajari aku bangun di sepertiga malamku. Dan sekarang dia sudah menikah. Malah sudah hamil. Entah mengapa, aku pun berbahagia. Sangat bahagia bahwa orang yang dulu pernah aku cintai telah menemukan kebahagiannya.

Padahal, dulu ketika kami bersepakat untuk berhenti memberitakan malam. Ketika kami bersepakat, biarlah malam kami kejar, namun tak usah kami ceritakan. Biarlah sebuah sujud hadir karena bukan akibat bunyi dering yang membangunkan. Aku menangis ketika itu.

Bahkan aku pernah berharap. Kelak jika punggungku tegak, dia yang akan aku kabari untuk itu. Namun, sebelum punggungku tegak, dia telah menyelesaikan satu takdir terbaiknya.

Baca Selengkapnya