senja

Kemarahan

Sudah dua hari, seseorang cuek kepada saya. Jika dirunut, pasalnya sederhana, saya membandingkan Aceh dan Bandung. Saya merasa Bandung akhir-akhir ini panas sekali, bahkan ketika malam. Tidak ada beda dengan Aceh yang juga panas, baik siang maupun malam. Hanya saja, di Aceh, saat kepanasan saya memiliki sebuah AC di kamar untuk mendinginkan diri. Tidak di sini. Hal yang cuma mampu saya lakukan adalah membuka pakaian saya dan berharap kulit saya lebih cepat bertemu dengan angin.

Terakhir, saya mengirimkan sebuah surel (email .red) kepadanya, dengan sebuah judul “Permohonan Maaf“. Entah dia sudah membuka surel tersebut, entah surel tersebut masuk ke dalam SPAM Folder, atau entah langsung dibuang. Saya bukan cenayang, bukan mereka yang bisa melihat dari mata jin yang bergentayangan. Saya cuma manusia biasa. Tapi, sampai sekarang, surel yang saya kirimkan belum juga ada balasan.

Kemarin, saya mengirimkan video lucu. Karena tahu bahwa nomor WhatsApp di handphone-nya telah memblokir saya, maka saya mengirimkan video itu ke nomor yang lain, sebuah nomor WhatsApp yang ada di tablet-nya. Hasilnya, bahkan nomor saya di tablet juga ikut diblokir.

Baca Selengkapnya

Lubang

Lubang

Saat mataku membuka, aku tak mampu melihat apa-apa. Bahkan tak ada sedikit pun cahaya yang datang menari memberikanku warna. Cuma ada kegelapan di sini.

Aku terperangkap. Dalam sebuah lubang sempit yang tak menyisakan ruang pergerakan. Tanganku bebas namun seperti terikat. Ke mana pun arah mataku memandang, tak ada warna yang terikat dalam retina. Sebuah maha gelap di mana aku tak mampu berbuat dan bertindak. Aku seperti dalam lubang.

Entah berapa lama aku telah ada di dalam lubang, bersama seluruh manusia yang juga ikut terperangkap. Kami adalah mereka yang diramalkan, tentang manusia yang ikut, bahkan masuk ke dalam lubang biawak. Sepenggal demi sepenggal, tanpa tahu, tanpa mengerti, tanpa melawan. Aku memang tak melihat mereka karena betapa gelapnya di sini, namun mampu kudengar napas berat mereka yang terperangkap. Adalah aku, yang baru hanya berteriak, sedangkan yang lain sedang terlelap.

Baca Selengkapnya

gelombang

Gelombang

Aku pernah ada di tempat yang paling tinggi. Pernah pula aku jatuh ke tempat paling rendah. Bahkan menari di antara keduanya. Laksana gelombang. Pasang-surut silih berganti. Semisal roda, kadang di atas kadang di bawah. Aku berputar tanpa henti. Menuju lelah. Mencapai akhir.

Lantas aku pun diam, pada satu titik. Berdiam yang lama sekali. Menyudutkan pandanganku cuma tertuju kepada bumi. Bertanya, sampai kapan aku akan terus begini. Hidup dalam gelombang. Hidup dalam pusaran yang tak pernah mengenal kata henti.

Aku ingin seperti dulu. Saat aku hidup di atas. Ketika jarak aku dan Dia sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi. Ketika aku benar-benar merasa, bahwa kedekatan kami begitu erat. Sampai kemudian iblis pun datang dengan merangkak, pelan-pelan masuk ke dalam hati. Saat dia bercerita, tidak ada lagi langit di atasku ini.

Baca Selengkapnya