Sang Warna

Sang WarnaAku menyebutnya, Sang Warna.

Sang Warna merupakan sandi yang kuberikan seperti sandi-sandi lain yang pernah kutancapkan kepada orang-orang yang telah melukis namanya dihatiku ini. Seperti sandi MRN, sang puteri, taman surga, atau bidadari.

Mengapa harus Sang Warna? Karena aku tidak mengetahui siapa namanya.

Aku menyebutnya sesuai dengan warna jilbab yang dipakainya pada hari itu. Terkadang aku menyebutnya si hijau lumut, si hitam, si putih, si merah hati, atau si coklat.

Aku bertemu dengannya saat awal kerja praktek (KP) di Arun LNG. Dia peserta magang di sana, telah lebih awal dariku. Dia menjemput kami di balik gerbang Arun yang kokoh, bagai seorang bidadari yang menjemput kami dari balik-balik pintu surga. Aku terpesona.

Baca Selengkapnya

Rontokkan Saja Langit

RONTOKKAN SAJA LANGIT!

Tiba-tiba saja lelaki itu berteriak demikian. Keras, tegas, menggetarkan. Teriakan yang bukan hanya dari kerongkongan atau suara yang menyapu laring-laring. Itu teriakan hati, sebuah pemberontakan jati diri.

JIKA DIA MENJADI PENYEKAT ANTARA AKU DAN TUHAN, LEBIH BAIK LANGIT ITU RUNTUH.

Tersigap, aku mulai menepuk pundaknya. “Mengapa kau menghujat langit wahai lelaki?

Lelaki itu tidak berpaling, pandangannya tetap menuju atas langit. Aku tahu, dia tidak memandang awan yang menggumpal putih di sana. Lelaki itu menatap jauh melewati awan, melewati atmosfir bumi, melewati ribuan bintang dan planet, melewati galaksi. Dia menatap ke atas, langsung menatap mata Tuhan.

Baca Selengkapnya