Sang Warna

Sang WarnaAku menyebutnya, Sang Warna.

Sang Warna merupakan sandi yang kuberikan seperti sandi-sandi lain yang pernah kutancapkan kepada orang-orang yang telah melukis namanya dihatiku ini. Seperti sandi MRN, sang puteri, taman surga, atau bidadari.

Mengapa harus Sang Warna? Karena aku tidak mengetahui siapa namanya.

Aku menyebutnya sesuai dengan warna jilbab yang dipakainya pada hari itu. Terkadang aku menyebutnya si hijau lumut, si hitam, si putih, si merah hati, atau si coklat.

Aku bertemu dengannya saat awal kerja praktek (KP) di Arun LNG. Dia peserta magang di sana, telah lebih awal dariku. Dia menjemput kami di balik gerbang Arun yang kokoh, bagai seorang bidadari yang menjemput kami dari balik-balik pintu surga. Aku terpesona.

Sang Warna berperawakan tinggi, putih, dan semampai. Sekilas seperti ciri orang uzbekistan.

Orang-orang bilang, aku tidak berdiri sendiri di posisi sebagai seorang pengagum. Ternyata aku banyak saingan, dan kesemua berjuang untuk mampu mengambil perhatiannya.

Berdiri di depannya, aku cuma mampu gugup. Sama seperti ketika aku berdiri di depan MRN atau sang puteri. Langkahku menjadi gontai dan lututku lemas. Dan reaksi menunduk menjadi pelepasan.

Sang Warna, demikian aku menyebutnya.

Aku aneh. Jujur aku menyukainya, namun begitu dia berada di dekatku maka aku langsung berpaling. Terlalu takut aku jika dia mengetahui betapa saat ini namanya melukis indah dihatiku. Dan terkadang aku merasa; dia juga memperhatikanku.

Terkadang aku merasa, sesekali dia mencuri pandang ke arahku. Bahkan pernah suatu kali mata kami bertemu pandang, dan dia langsung mengalihkan. Seperti maling tertangkap tangan mencuri, demikianlah adanya.

Ahh…

Aku jadi rindu kembali ke Lhokseumawe, kembali ke Arun, kembali bertemu dengannya. Andai aku punya keberanian, ingin kutanyakan padanya, “Berapa lama lagi engkau siap menikah? Berapa maharmu? Aku ingin menikahimu.”

Namun aku terlalu takut. Terlalu pengecut. Terlalu malu.

Sang Warna, semoga kisahmu mengalir indah dalam kehidupanku.