Tidakkah Aku Pantas?

Menjerit Sekuat Tenaga
Sumber gambar: istockphotos

Hal yang paling mengerikan dari seorang wanita pintar adalah egoisme yang begitu tinggi. Perasaan ingin selalu dituruti. Keinginan untuk terus di atas. Selalu ingin dipahami tanpa ingin memahami. Maka terkutuklah semua pria bodoh, yang menjadi tunduk oleh keegoisan-keegoisan tersebut. Namun, memang, kecerdasan wanita adalah hal yang paling eksotik di dunia. Tak pun mampu dikalahkan oleh bentuk juga rupa.

Aku sangat mencintainya. Teramat dalam. Tak pernah mampu terlukiskan. Bahkan oleh perputaran waktu yang pernah lewat. Cinta yang lebih dalam daripada saat hadirnya sang puteri, taman surga, maupun bidadari kedua. Bahkan ini cinta yang mampu melebihi rasa yang dulu pertama kali hinggap saat aku SMA.

Aku menangis saat menuliskan ini. Mungkin kami sama-sama terlalu muda untuk urusan yang menjadi wilayah manusia dewasa. Atau kami terlalu egois, untuk mengalah bersama. Memperturutkan keinginan, ego, dan hawa napsu. Seperti anak kecil yang terus menjerit memperebutkan apa yang menurut mereka menjadi haknya. Dan para dewasa cuma mampu tertawa dan terbahak. Seolah apa yang terjadi adalah hal terlucu di dunia.

Aku paling benci saat aku tidak dihargai. Seperti sampah yang terserak tanpa dikehendaki. Seolah boneka yang bisa dipeluk lantas dibuang sesuka hati. Aku benci. Sepenuh benci.

Baca Selengkapnya

Manusia Tingkat Rendah

monyet
Sumber gambar: innercircleofsrcm.blogspot.com

Tahukah kamu, salah satu tingkatan manusia yang paling rendah? Yaitu mereka yang merendahkan orang lain. Baik dengan perbuatan mereka, ataupun perkataan yang menyakiti dengan tujuan merendahkan harkat dan martabat orang lain. Maka, sekali-kali, janganlah kamu termasuk kaum yang demikian.

Sering sekali kita berjumpa dengan orang-orang yang demikian. Mereka yang terdidik untuk merendahkan, yang mungkin juga dididik dengan cara yang sama seperti demikian. Lihatlah, bagaimana sedari awal, para anak yang belum begitu mengenal kebaikan dan keburukan dibiarkan mem-bully teman-temannya yang lain. Kita menganggap itu sesuatu yang lucu. Sampai kemudian, kita menjadi kewalahan dengan segala sifat yang sedari awal kita biarkan terjadi sedemikian rupa.

Kadang kita menjadi rendah saat membenci dan marah. Kita begitu mudah memaki, merendahkan, berusaha menghancurkan martabat seseorang ketika sedemikian hingga kebencian dan kemarahan telah memaksa mengambil peran akal sehat. Maka tidaklah jarang kita melihat pemukulan, makian, sering kali hadir dalam emosi yang memuncak. Patutlah nabi meminta kita berwudhu: untuk mengalihkan perhatian saat marah, untuk mendinginkan hati yang meledak, dan menghindari ulah setan yang akan ikut hadir dalam segala tindak.

Baca Selengkapnya

Rumah Lama

Lama aku tidak membuka blog ini. Blog yang bagiku adalah rumah tempat aku bercerita apa yang terlintas di dalam pikiranku. Yah, aku merasa telah terlalu lama aku alpa dengan semua yang mengalir di sini. Lama tak singgah, bukan berarti aku lupa. Hanya saja, aku bingung hendak menuliskan apa.

Rasanya rindu semakin menggebu, saat aku bercermin, telah banyak perubahan dalam diriku. Tidak cuma fisik, namun juga akal budi. Aku seperti kehilangan sosok aku yang dulu. Apakah dewasa yang mengubah segalanya, atau keadaan dan lingkungan. Tetapi, ada satu hal yang masih sama, aku tetap saja tidak mampu membuat lebih banyak persahabatan di sini. Seringku cuma duduk termenung di atas kasur yang dinding-dinding di sampingnya mulai berjamur karena lembabnya tanah di sini.

Satu alasan lain aku jarang pulang adalah aku seperti kehilangan akal untuk menuliskan segalanya lagi. Aku seperti tidak lagi memiliki ilham. Tangan-tanganku serasa terpasung terpenjara. Otakku seperti dalam sangkar. Dan pikiranku telah mati suri.

Tulisan ini aku paksa untuk tercipta, untuk membangkitkan kembali gairah yang aku ingin dia kembali bergelora. Masih teringat salah seorang petuah temanku, “alah bisa karena dipaksa.”

Sudah-sudah-sudah. Aku tidak tahu lagi harus menulis apa. Cukup!

Hampa

ruang kosong
sumber gambar: taufiqadi.wordpress.com/

Aku merasa hampa. Kali ini.

Kamu. Aku merasa sangat capek. Letih dengan hati ini. Aku merasakan kehampaan yang tidak dapat aku jelaskan. Rasa yang terus menumpuk dan terus aku tumpuk. Bingung dengan sikap semua manusia. Cemburu dengan segala situasi. Tolong mengertilah.

Apa kamu juga merasakan hal yang sama. Kekosongan pekat di dalam jiwa. Sesuatu yang ingin diisi namun mahabingung menyertai: harus diisi dengan apa kekosongan ini?

Kosong ini memang harus kosong. Kosong ini memang harus seharusnya hampa. Tidak terisi oleh apapun, kecuali oleh cahaya.

Apa kau merasakan hal yang serupa? Hampa yang tak terjelaskan ini? Dia yang berontak dari dasar, memohon cahaya, namun kau terus mengisi gelap di dalamnya. Dengan gelap semua perasaan manusia: dosa, cemburu, kemarahan, kepedihan, perasaan dikhianati dan terus ditinggalkan.

Baca Selengkapnya

Beri Aku Luka

It’s because I can feel pain that I was able to grow stronger.

— Sun Ken Rock —

Sun Ken Rock
Sun Ken Rock
Itu salah satu percakapan antara Sun Ken Rock dengan seorang lawannya. Aku membacanya di situs mangahere.com. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari di dunia ini, termasuk dari sebuah komik. Dan dialog tersebut sangat terasa bagi saya, sebagai salah satu fans setia komik Sun Ken Rock.

Manusia sering membutuhkan luka untuk belajar menjadi dewasa. Memang tidak menjadi keharusan, sebagian bisa dipelajari dari pengalaman hidup orang lain, namun untuk beberapa kasus, pelajaran cuma mampu didapatkan dari sejumlah luka.

Filosofi ini sering aku dapatkan ketika mengikuti ujian. Ketika ujian diberikan, pikiran terfokus berkonsentrasi untuk mencari sejumlah jawaban. Merunut ulang setiap apa yang telah dipelajari, membayangkan, membangun diagram dan sejumlah peta pemikiran. Biasanya, jika kita belajar ketika ujian sedang berlangsung, pelajaran itu akan lebih mengena. Atau, misal kita menyontek saat ujian, mungkin jawaban contekan itu akan terus terngiang.

Pelajaran dari luka yang menganga akan terus diingat sepanjang masa.

Baca Selengkapnya