Menilai Secara Adil

Menilai secara adil adalah salah satu bentuk tersendiri yang sulit untuk ditempuh. Sering kali ketika kita telah membenci seseorang, kita tidak mampu adil dalam menilai. Terlalu banyak distorsi yang terjadi saat kita menilai orang yang kita benci.

Dalam pergaulan, saya bertemu dengan orang-orang yang membenci orang lain. Di mata mereka, setelah datangnya kebencian maka hal-hal yang terbaik yang tercetus dari mereka-mereka yang dibenci pun tidak dianggap, malah dikategorikan sebagai salah satu kemunafikan. Mereka yang dibenci adalah orang-orang yang memang terlahir untuk salah.

Begitu pula sebaliknya. Ketika kita mencintai seseorang, maka kita memandang segala hal dengan sebelah mata. Mata seseorang yang sedang jatuh cinta sering kali buta, tidak mampu menilai letak kesalahan seseorang. Hal yang seharusnya salah dibenarkan dan yang memang benar lantas diagungkan.

Selanjutnya, manusia sering kali bingung dalam menilai secara adil bila itu berkaitan dengan dirinya. Ego manusia bekerja bagaimana dia tetap survive terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Karenanya tidak jarang kita melihat orang yang masih saja membenarkan segala kesalahan-kesalahan yang terjadi oleh pribadinya. Seringnya, kesalahan-kesalahan itu adalah bagian paling fatal yang seharusnya tidak diperbuat.

Tuhan pernah berkata. Kata-Nya pada suatu ketika, “Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.

Teramat benar! Terlalu sering, kita, ego kita, sekutu kita, menilai sesuatu dengan timpang dengan sudut pandang keegoisan. Segala sesuatu yang boleh jadi benar namun ketika dilakukan oleh orang-orang yang kita benci akan dianggap sebagai suatu kesalahan.

Pada beberapa waktu, saya sering mendengar orang-orang yang mencibir mereka yang melakukan kegiatan amal. Dalam cibiran mereka itu dikatakan bahwa para dermawan itu adalah sekumpulan munafik! Mereka adalah anjing berbulu domba. Aku bertanya, why? kenapa! Kata sekumpulan orang-orang itu, para dermawan itu sedang mencoba membeli iman-iman dari orang-orang yang mereka bantu. Jika memang demikian, mengapa bukan kita saja yang membantu, alih-alih mencibir para dermawan yang sedang memberikan sedikit belas kasihan mereka kepada sebagian yang lain.

Di lain sisi, kita sering kali menyindir dengan kata munafik kepada orang-orang yang sedang mencoba berbuat kebaikan. Kita mengeneralisir permasalahan. Suatu hari kita menuduh orang ini, orang itu, dengan munafik atas kesalahan-kesalahan kecil yang mereka lakukan. Orang-orang dengan jilbab lebar kita tuduh mereka munafik, ustad-ustad yang mencoba berbuat baik, mencoba menundukkan hawa napsunya kita tuduh dengan munafik. Kita lantas tertawa ketika berkata, “coba di depan si ustad ada miyabi, napsu juga dia.

Aneh! Sungguh aneh!

Bagaimana cara kita menilai tokok seperti Aa Gym dan coba kita bandingkan dengan Ariel. Aa Gym melakukan poligami, halal, dan tidak memungkiri bahwa manusia itu adalah makhluk yang diberikan napsu namun manusia diberi akal untuk menundukkan napsu itu. Namun kita lebih merasa memahami, menyetujui sebuah tindakan lain di mana sebuah tontonan manusia yang sedang bergelut dengan napsunya. Hal yang demikian tidak kita anggap kemunafikan.

Aneh! Sungguh aneh! Kita tidak mampu menilai secara adil.

Adil adalah ukuran yang kita berikan terhadap sesuatu. Bila batasan adil atau kebenaran adalah relatif, maka diperlukan suatu tolok ukur agar yang relatif menjadi absolut, atau minimal mengurangi sifat bias yang berlaku atas nama “relatif”. Ini tergantung dari sisi mana kita melihat sebuah keadilan.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, acuan apa yang kita gunakan dalam menilai suatu keadilan?

Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil” — Teman, cobalah menilai sesuatu itu dengan keadilan, kita emosi ikut campur dalam urusan menilaimu maka tangguhkan dulu penilaianmu hingga logika kembali di depan. Jika engkau belum mampu, sudah saatnya kita sama-sama belajar, mencoba menilai sesuatu secara adil.

Incoming search terms:

  • Risma

    Tentang cinta dan benci yang terlalu, bahkan Nabi Muhammad saw. telah mengingatkan kita bahwa jika mencintai dan membenci sekedarnya saja.

    Saya dulu ketika SMA kurang setuju dengan nasihat ini. Sampai akhirnya, saya merasakan sendiri kebenaran nasihat tersebut saat awal-awal kuliah. Saya yakin hubungan saya dengan sahabat saya akan baik-baik saja dan saya tidak pernah berpikiran jika pada suatu hari ia akan melakukan hal-hal yang membuat rasa cinta saya padanya luntur pelan-pelan. Sakit sekali rasanya ketika itu terjadi.

    Kembali pada nasihat indah diatas, saya benar-benar mengaplikasikannya dalam kehidupan saya sekarang. Bahwa membenci dan mencintai ala kadarnya saja, jangan sampai membuat batasan-batasan menjadi kabur.

    Tentang menilai secara adil, membutuhkan usaha untuk mampu mencerna setiap lakon, setiap pribadi, setiap situasi. Mungkin kitanya jangan berburuk sangka saja. karena saya percaya, yang kita lihat dengan mata kita belum tentu benar. Hehe, terkadang penampilan itu menipu. Maksud saya, ketika kita melihat seseorang yang sedikit bertampang kriminal (contoh), lantas kita dengan seenak hati membenarkan persangkaan kita. Pribadi seseorang tak bisa dinilai dari satu sisi.

    Nice posting! 🙂

  • Memang sulit melepaskan diri dari subyektifitas. Tapi bukan berarti tidak bisa. Saya juga belajar untuk menilai sesuatu secara adil, dan belajar bersikap wajar.. Salam hangat Mas..