Tahajud dan Piala Dunia

Tadi, khatib Jumat yang ada di mesjid dekat rumahku berbicara begini. Suatu pembicaraan yang membuat jantung berdetak lebih kencang. “Mengapa orang-orang rela terbangun untuk menonton piala dunia, namun untuk tahajud begitu susah?

Sebuah pertanyaan yang membutuhkan renungan lebih. Ya, membutuhkan renungan panjang. Bukan pertanyaan dengan jawaban singkat, karena untuk menjawabnya dibutuhkan suatu pencerahan kecuali cuma jawaban kosong yang tiada meninggalkan bekas. Butuh waktu untuk menjawab pertanyaan khatib tersebut.

Jelas aku tersentak. Aku merasa pertanyaan khatib itu adalah pertanyaan Tuhan yang dititipkan lewat mulutnya. Aku merasa Tuhan sedang ingin menyindirku. Seolah dia bertanya: “Kamu Baiquni, mengapa rela bergadang malam untuk hal-hal yang bersifat duniawi? Mengapa kamu rela duduk di depan komputer terus-menerus tetapi untuk membaca ayat-ayatKu saja kamu begitu susah. Mengapa untuk tersungkur sujud di hadapanKu kamu begitu angkuh. Sombong. Siapakah Tuhanmu?

Khatib tadi yang menjadi Kepala Bidang Dakwah di Dinas Syariat Islam juga bercerita. Mereka terkadang malam sering ke Ulee Lhue, mencegah muda-mudi untuk berpacaran di sana, tetapi apa jawaban mereka? “Kami mau masuk surga atau neraka ya itu urusan kami, apa urusan dengan Bapak?

Jika mengingat jawaban tersebut, aku teringat salah satu tokoh liberal Indonesia. Dia yang mengedepankan sikap liberal, namun aku melihatnya cenderung ke arah permisif. Itu yang paling kutakutkan dari wacana liberalisme. Sesuatu kebebasan yang tiada mengenal arah, dan cenderung pada akhirnya akan menjadi membolehkan apapun.

Letakkan sesuatu pada tempatnya.

Bagiku, saat ini mengedepankan nilai-nilai hukum adalah yang paling urgen daripada mengedepankan nilai-nilai liberalisme. Kita membutuhkan sikap masyarakat dewasa yang berakhlak untuk mengedepankan kebebasan, namun masyarakat yang cenderung sudah melewati aturan harus dididik dengan hukum. Jika wacana kebebasan lebih dikedepankan pada masyarakat kita dewasa ini, alih-alih bernilai positif, malah mungkin permisifisme bakal merebak.

Contoh sudah sangat banyak. Betapa banyak dosa yang terjadi dewasa ini. Betapa banyak anak-anak muda yang tiada menjaga harga dirinya lagi. Survey yang pernah saya dengar di internet, lebih dari 50% anak-anak muda sekarang TIDAK PERAWAN. Jika wacana kebebasan ditekankan, nilai tersebut akan semakin melebar.

Nilai-nilai moral akan mati. Makanya, dibutuhkan sekarang adalah wacana tentang hukum. Penegakan hukum. Dan Aceh khususnya adalah tentang syariat Islam.

Kembali ke topik semula. Dalam dunia sufisme, mungkin kebanyakan kita telah musyrik, walau dalam dunia syariat tidak. Mungkin kita tidak mengatakan secara langsung bahwa Tuhan itu tiga, atau mempersekutukan Tuhan, tetapi sadarkah kita? Kegiatan duniawi kita telah membuat kita memberhalakan mereka.

Jujur. Aku adalah salah satu manusia yang sedang kubicarakan ini. Aku pun kadang secara tidak sadar telah memberhalakan kesenangan-kesenangan duniawiku.

Berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk Tuhanku, dan berapa banyak yang kuhabiskan untuk duniaku.

Semoga tulisan ini mampu menjadi pelajaran bagi kita semua. Jangan sampai nanti ketika di akhirat kelak, jika ditanya: “SIAPA TUHANMU?” maka kita menjawab: “SEPAK BOLA !!!“.

  • bener sih….

  • ada deh

    wah, dah sadar ya. alhamdulillah, baguslah kalo begitu. tapi sejogjanya jangan cuma jadi wacana aja.
    lakukan………..lakukan………….