Catatan Kaki

Aku masih memantau. Ternyata dia masih melihat blogku saban hari. Hampir setiap hari.

Beberapa waktu yang lalu, sebelum keputusan besar aku ambil, aku berkonsultasi dengan No. 34 tentang masalahku itu, apa aku harus memblock dia agar tidak membaca catatan-catatan kakiku ini lagi. Bukankah dia bertekad hendak lupa dengan eksistensiku.

Kata No. 34, TIDAK USAH. Keputusanku meremove facebooknya sudah benar karena terkadang kita tidak bisa mengendalikan aliran pesan, status, dan komentar yang tercetak di beranda kita. Namun kalau soal mengunjungi blog ini, itu adalah keputusan mandirinya.

Bagiku, benar juga apa yang telah diucapkan oleh No. 34, bahwa mungkin dia sesekali ingin melihat beberapa catatan kakiku. Dan ketika dia membuka halaman demi halaman ini setiap hari, jujur, aku senang. Tetapi, bagaimana dengan dia?

Baca Selengkapnya

Bahagia, Benci, Iblis

Awalnya aku bahagia, namun ternyata berita langit berkata lain. Bahagia aku undur.

Bahagia berubah menjadi geram. Ya, sangat geram! Aku jadi benci. Benci sekali.

Iblis-iblis dalam hatiku bilang: makhluk yang aku benci itu adalah makhluk yang egois! Iblis tidak salah, aku sepakat dengannya. Makhluk itu memang sangat egois.

Mengapa egois? Karena dia cuma memikirkan dirinya sendiri. Dan aku selalu diajarkan oleh lelaki tua agar selalu memperhatikan orang lain. Aku makan hati!

Baca Selengkapnya

Bab Satu (I am Dummies)

Meleset. Tidak seperti yang aku pikirkan. Ternyata aku lebih dungu dari yang aku kira.

Aku tahu aku ini sebenarnya bodoh. Jelas, hasil tes IQ juga setelah aku lakukan secara online juga berada di bawah rata-rata. Nilai TOEFL-ku juga sangat buruk sekali, di bawah anak TK yang bisa berbicara bahasa Inggris. Pokoknya aku ini bisa dikatakan dummies sekalilah.

Bisa kuliah bahkan hingga semester 13 saja sudah membuat aku bangga. Kenapa? Karena aku bisa bertahan untuk tidak didepak secepat mungkin dari universitas ini. Bahkan bisa kuliah saja sudah membuat aku sangat bangga! Aku kira aku tidak akan pernah mengecap pendidikan tinggi ini jika mengingat betapa tumpulnya otak kiriku ini.

Tetapi ini tidak seperti yang aku duga. Aku lebih bodoh dari yang aku kira. Ini sudah kelewatan!

Baca Selengkapnya

Ruang Hati

Kemarin, aku memiliki sebuah ruang yang kunamakan ruang hati. Di tempat itu aku sering berteduh, bercerita, dan sesekali curhat tentang aku dan kehidupanku. Namun, ruang itu sekarang ketika aku melihat sudah disegel. Sebuah papan bertuliskan: “SEDANG DIRENOVASI” ditulis besar-besar menghalangi pintu masuk.

Aku bingung. Gundah. Tak mengerti.

Ruang itu terlalu sering aku gunakan, ketika hujan sepi datang di sekitar pekarangan jiwaku, ruang itu selalu aku masuki. Hujan sepi terlalu sering datang, dan aku dulu terlalu sering kehujanan. Cuma ruang hati itu tempat aku berteduh, sangat spesial, karena selain berteduh dari sepi, di sana aku juga menemukan kehangatan. Di sana cinta bersemayam, sering sekali memberikanku selimut untuk menghalau semua berkas hujan sepi yang membasahi diriku.

Aku kangen cinta. Aku sayang cinta. Aku mencintai cinta karena cinta.

Baca Selengkapnya