Sebuah Beban

Masih ingat ceritaku tentang Surat Perjanjian di mana kakakku akan membelikan aku motor dengan syarat aku harus menyelesaikan kuliahku? Jujur, aku merasakan itu sebagai sebuah beban, terlebih ketika beberapa hari yang lalu aku berbicara dengannya.

Saat itu aku berada di mesjid Oman, Lampriet, bersama kawanku di FLP, Ibnu. Dari Dhuhur kami di sana sambil menunggu Ashar. Kira-kira pukul 15.00 lebih sedikit, Anda, kakakku telepon.

Pada suatu pembicaraan, Anda, kakakku bertanya apakah Yahdun (pamanku) ada datang ke rumah? Selidik, ternyata kakakku hendak mengambil kredit. Aku tanya untuk apa? Jawabnya, ya untuk membelikanku motor.

Mendengar jawaban itu, hatiku tertohok. Sangat dalam, namun aku mencoba menyembunyikannya di dalam tawa. Saat itu, aku merasa seperti sebuah beban. Aku merasa menjadi beban bagi orang lain. Aku tidak suka.

Baca Selengkapnya

My BlackBerry Cannot be Repaired

Ketika sedang mengaji di mesjid Oman, Lampriet, untuk menghabiskan jatah 9 halaman setiap habis shalat, aku dikejutkan oleh sebuah sms. Isi pesannya: “HP BB NYA TDK DPT D PERBAIKI, VIRTUAL COM

Sedih rasanya ketika membaca pesan tersebut. Bagaimana tidak, BlackBerry yang aku beli via eBay, dengan harga $245, belum sebulan digunakan, telah rusak.

Awalnya, sekitar 3 minggu yang lalu BlackBerry-ku terbanting dari tempat tidur ketika aku sedang bersih-bersih kamar. Aku tidak sengaja menjatuhkannya ketika aku hendak melipat selimut. Ketika sedang aku kepakkan selimutnya, eh BlackBerry-nya ikutan terangkat dan terjatuh.

Aku kira bakal sama dengan handphone-handphone-ku yang lain, alias tidak bakal terjadi apa-apa, namun kali ini berbeda. BlackBerry-ku padam, tidak hidup.

Baca Selengkapnya

Kepak Sayap-sayap Tumpul

EL!” pekiknya.

Aku menengadah ke atas, mencoba mencari El di atas langit-langit dunia. Pekikan-pekikan kami terbitkan, demikian seperti yang diajarkan para murshid. Pekikkan nama El di mana kalian butuh dia, kapan pun, di mana pun.

EL !!!” Aku ikut serta memekik. Semoga El belum lagi tuli.

Kau tahu? Aku hampir tidak percaya dengan keberadaan El. Aku rasa, omongan-omongan El yang sering kudengar lebih seperti mitos, atau dongeng-dongeng. Ketakutan manusia atas ketidakberdayaan mereka, lantas mencari sosok supreme untuk mampu membuat mereka merasa tenang. Diciptalah dia yang bernama El.

El adalah keberadaan. Ide mutlak dari setiap khayalan. Dia yang bahkan tidak memiliki nama, namun memberi nama agar mampu dimaknai. Dia yang ada dalam ketiadaan. Sesuatu yang tak mampu dibicarakan. Lebih ada dari semesta mayapada, lebih hening dari laksa labirin-labirin hitam ekstase. El, kerinduan.

Baca Selengkapnya

Diantara Tumpukan Email

Ga tahu kenapa, hari ini aku pengen bersih-bersih inbox email lamaku.

Aku adalah pengguna email dengan memanfaatkan akun di Yahoo! Mail. Walau diberikan kapasitas unlimited space, tetapi rasanya jika email terlalu banyak ya semak juga. Akhirnya kuputuskan hendak bersih-bersih email yang menumpuk.

Sebelumnya, aku sudah mencoba menerapkan sistem folderisasi untuk mendata email. Email yang dikirimkan oleh email-email tertentu secara otomatis akan masuk ke folder yang sudah aku setting. Misal, email-email notifikasi bahwa ada member baru yang mendaftar dilayanan web hostingku akan masuk ke dalam folder Customer Hosting.

Ternyata, dari email-email lama itu aku merasakan semacam dejavu. Semacam nostalgia tentang aku yang dulu. Ada beberapa email dari mereka yang penasaran dengan blog ini, merasa kisahnya sama denganku lantas mengirimkan email. Ada yang menyukaiku, dan lain sebagainya. Dan ada beberapa petikan surat-menyurat antara aku dan bidadari, dulu, jauh sebelum dia menikah.

Baca Selengkapnya