Masih ingat ceritaku tentang Surat Perjanjian di mana kakakku akan membelikan aku motor dengan syarat aku harus menyelesaikan kuliahku? Jujur, aku merasakan itu sebagai sebuah beban, terlebih ketika beberapa hari yang lalu aku berbicara dengannya.
Saat itu aku berada di mesjid Oman, Lampriet, bersama kawanku di FLP, Ibnu. Dari Dhuhur kami di sana sambil menunggu Ashar. Kira-kira pukul 15.00 lebih sedikit, Anda, kakakku telepon.
Pada suatu pembicaraan, Anda, kakakku bertanya apakah Yahdun (pamanku) ada datang ke rumah? Selidik, ternyata kakakku hendak mengambil kredit. Aku tanya untuk apa? Jawabnya, ya untuk membelikanku motor.
Mendengar jawaban itu, hatiku tertohok. Sangat dalam, namun aku mencoba menyembunyikannya di dalam tawa. Saat itu, aku merasa seperti sebuah beban. Aku merasa menjadi beban bagi orang lain. Aku tidak suka.
Baca Selengkapnya