Sebongkah Lelah

Aku tak ingin maksud, untuk mewartakan semua lelah. Tentang jasadku yang mulai melemah, dan batinku yang semakin mengalah. Engkau tidak akan pernah tahu, di hadapanmu aku selalu tersenyum, menyimpan semua tangis berukir air dari pipi-pipiku. Aku simpan semua, agar engkau bahagia.

Bolehkah aku mengeluh? Barang sekali saja. Dan bolehkah aku meminta? Engkau diam dan dengarkan semua apa yang ingin aku sampaikan. Tentang penatku, lelahku, rinduku, juga cintaku.

Aku mencintai dengan tiada lelah. Harus engkau tahu itu. Terserahmu jika engkau bersikap tidak mau tahu.

Lelah yang aku tanggung ini bukan karena aku mencintaimu. Ini adalah lelah fitrahku sebagai lelaki, sebagai manusia, sebagai mereka yang terlalu banyak harap daripada kerja. Namun, bukan pula hendak ingin mengeluh. Aku cuma ingin dimengerti. Tidak lebih. Jangan pula kurang.

Baca Selengkapnya

My First Time

Hari ini adalah hari pertama aku menjadi moderator. Dadakan!

Awalnya bang Ferhat yang diminta kesediaan untuk menjadi moderator, karena bang Alimuddin maunya bang Ferhat. Soalnya mereka memiliki karakter unik yang sama: sama-sama lebay!

Tadi pagi, aku memoderasi acara perdana kelas intensif dengan tema besar: “Makna Sebuah Proses Kreatif Sehingga Menembus Media” dan aku merasa sangat tidak maksimal sebagai seorang moderator. Ada beberapa alasan, salah satunya adalah aku depresi karena ini adalah kali pertama aku menjadi moderator. Alasan kedua adalah, aku memiliki masalah dalam penyampaian verbal.

Asli banget, tadi itu aku merasa sangat gugup. Gak tahu harus bicara apa-apa. Otakku sama sekali blank. Parahnya, aku dalam kondisi demikian di hadapan ratusan peserta kelas intensif. Mana ada cewek-cewek cakep lagi, duh, jadi tambah grogi.

Baca Selengkapnya

Menulis dengan Hati

Si Jo Na menulis sebuah artikel yang berjudul “Menulis dengan Hati” dan aku ingin menuliskan pengalaman yang serupa. Sebenarnya, menulis dengan hati itu masih merupakan ilmu baru bagiku, sebelumnya aku masih berkutat dengan rima dan diksi. Jadi, kebanyakan tulisanku selalu aku usahakan memiliki rima dan diksi yang mudah mengena di hati jika dibaca keras atau dibaca dalam hati.

Menulis dengan hati aku dapatkan dari bukunya Gola Gong yang berjudul: “Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup

Di sana ditekankan bahwa ketika kita menulis, yang paling penting dari sebuah tulisan adalah isi. Sekali lagi ditekankan, isi-lah yang menjadi hal terpokok dalam sebuah tulisan dibandingkan dengan diksi, rima, gaya penulisan, dan sebagainya. Karena, apa yang akan dikenang oleh pembaca bukanlah gaya bahasa kita, bukan pula diksi, tetapi isi. Itulah yang akan selalu dikenang.

Baca Selengkapnya

Surat Perjanjian

Sepertinya status mahasiswa-ku telah membuat panik seisi dunia. Mulai dari Ayah, Mamak, sampai kakakku. Mulai dari nasehat, teguran, diam, dan sebagainya. Sebenarnya malu juga aku masih mahasiswa sementara teman-temanku yang lain sudah S2, kerja, atau beranak.

Tadi pagi, baru bangun aku disodorin Anda, kakakku, sebuah surat perjanjian. Isinya begini:

Baca Selengkapnya