Akhir Sebuah Kisah

Lelaki itu terbangun, lagi-lagi disepertiga malam menuju pagi. Mata lelaki itu tiba-tiba saja terbuka, tak ada reaksi yang memaksanya. Cuma tiba-tiba. Tidak juga karena terkejut oleh mimpi. Memang cuma tiba-tiba, secara otomatis, seperti sudah terprogram.

Sesekali dikejap-kejap matanya yang masih terlalu asing dengan spektrum cahaya yang berpendar dari lambu Philips 15 wattnya itu. Cahaya yang terang untuk selalu membuat silau matanya, padahal dulu dia telah terbiasa dengan lampu neon biasa.

Lelaki itu duduk. Badannya membungkuk. Ujung tumit lengannya ditekan ke mata, berusaha untuk menetralisir rasa buram karena cahaya. Rasa pusing yang berat membatui kepala.

Lantas setelah buram mulai memudar, lelaki itu kembali membaringkan badannya. Dipandangnya langit-langit kamar berwarna putih. Pikirannya melayang. Satu persatu benak mulai muncul. Hantu-menghantui mengumpul galau, lelaki itu meringis, matanya mulai berair, dia menangis.

Matanya kini terpejam. Lama. Semakin menekan kelenjar air mata yang tadi mengurai lembaran-lembaran tangisnya. Tangisnya belum juga usai, sama seperti galau yang menghantuinya. Semua belum usai. Lintasan-lintasan masa lalu, kegelapan, kepedihan, kebusukan. Semua seperti uraian benang-benang yang dicungkil dari kain-kain rapi terjahit.

Lelaki itu merasa begitu kerdil. Begitu hitam. Begitu kotor.

Sudah tak diingatnya lagi, berapa lama dia berhenti berbicara dengan Tuhan. Berhenti bercerita tentang lingkup hari-harinya. Dia merasa Tuhan selalu diam, dia merasa tak ada guna bercerita, toh Tuhan akan selalu tahu tentang dia. Dia merasa, Tuhan begitu jauh, begitu agung, tak pantas untuk menerima keadaan dirinya yang begitu kotor, ternoda, dan berdosa.

Lelaki itu masih menangis. Air mata itu tidak juga kering, malah semakin menderas seperti mata air atau seperti gleiser yang muntah dari tanah. Sesegukan mulai muncul, dari ketiadaan menjadi ada.

Hampir satu jam lebih lelaki itu larut dalam tangis. Guling dalam pelukannya pun telah remuk. Bantal penopang kepalanya basah. Dari sudut matanya tercetak garis-garis air yang tadi lewat, menuju pipi dia bermuara.

Akhirnya lelaki itu bangkit. Matanya telah merah, seperti warna saga.

Langkah-langkah berat akhirnya terayun. Lelaki itu ke dapur, mengambil gelas lalu menuangkan air dari despenser. Bulir-bulir reaksi dingin melewati kerongkongan, diteguknya berlahan. Dahaganya selesai.

Lelaki itu kini menuju kamar mandi. Berwudhu.

Diangkat tangannya takbir. Ini adalah takbir pertamanya setelah lebih dua tahun dia alpa. Diresapinya kenikmatan takbir sepertiga malamnya itu. Rasanya seperti ada sebuah kelegaan, sesuatu yang menggumpal rasanya menjadi terbebas, sebuah kerinduan.

Di sujud pertamanya lelaki itu menangis. Sesegukan. Air mata basah, ruah bercecak di sajadah lusuhnya.

Lama lelaki itu sujud. Air mata itu terus tumpah. Lelaki itu tak bangun-bangun lagi, kerinduan hebat menahannya. Itu adalah sujud terakhirnya. Bahkan setelah nyawa berpisah dari raga, air mata itu terus tumpah.

Di atas langit, seluruh malaikatpun menangis. Langit terbuka cerah disepertiga malam itu. Ketika itu, bumi hujan.

  • Waduh…cerita menarik. Fiksi atau realita ya. Hmm…mungkin hidayah telah turun pada lelaki itu. Eh, kuni maen-maen ke rumah aku juga sesekali yah…lagi coba2 ne.