Mempertanyakan Kembali Keikhlasan

Di beberapa kami sempat terjadi perbincangan, tentang seorang ustad yang meminta dibayar mahal untuk berdakwah. Bagiku, dia seperti ustad palsu. Karena dia meminta dunia, bukan akhirat padahal sejatinya dakwah adalah pengorbanan harta dan jiwa. Bahkan seharusnya kita yang membayar agar orang mau mendengarkan dakwah kita.

Sejatinya dakwah adalah menukarkan dunia dengan akhirat.

Kita kembali mempertanyakan, adakah keikhlasan ustad tersebut dalam berdakwah? Taruhlah ustad tersebut berjiwa enterpreneur, namun apakah harus dengan membisniskan lahan dakwah? Padahal begitu banyak pahala yang diperoleh dari dakwah namun menjadi tiada nilai ibadah lagi ketika dia mengharapkan materi daripadanya.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.(Q.S. Al-Kahf : 28)

Baca Selengkapnya

Jika Ibu Adalah Kartini, Maka Siapa Ayah?

Beberapa jam lagi akan menjadi pengubah tanggal, dari tanggal 21 April menjadi tanggal 22 April. Lalu apa masalahnya? Masalahnya, semua pembicaraan tentang Kartini dan Perempuan akan lenyap, berganti dengan topik-topik lainnya. Ya, memang harus begitu, masa mau ngomongin hal yang itu-itu saja tiap harinya.

Yups, benar sekali. Tidak bisa disangkal, kalau sudah menyinggung tentang perempuan biasanya akan marak di tiap tanggal 21 April dan di 22 Desember. Inilah dua bulan kepunyaan perempuan. Setelah itu? Bablas. Boro-boro disinggung, diingat saja sudah sukur.

Wah, kalau begitu perempuan sepatutnya bangga, masih ada yang mau mengingat mereka meski hanya dua kali dalam setahun. Lalu bagaimana dengan Laki-laki? Jangankan disinggung, diingat saja syukur.

Baca Selengkapnya

Mungkin Salah Sangka

Si Nidya, alias suka kolah alias patkai, alias tukang ngepet lagi online. Beberapa minggu terakhir ini dia suka sekali online malam, ntah kenapa. Beberapa waktu yang lalu aku sempat telepon dan sms dia tetapi enggak dibalas.

Waktu dia online tadi, langsung kuserobot: “napa telepon ama smsku ga kowe balas?

Hp ku dipake ma mama aku,” begitu katanya dengan mukanya yang bego.

Akhirnya akupun curhatlah ke dia soal bidadari ketiga. Aku bilang ke dia, “ternyata memang benar bukan aku yang “dia” suka. Aku salah paham selama ini“. Gitu aku ngomong ke dia.

Baca Selengkapnya

Bertubi Rindu

Aku rindu dia. Bidadari ketiga.

Lama tak ada kabar, sudah dua hari lebih tak saling sapa. Aku rindu. Bertubi rindu. Rindu sekali.

Aku ingin bilang bahwa aku suka dia: tapi tak berani.

Aku belum mampu. Belum lagi tangguh, dan tegak punggungku berdiri.

Namun hati ini juga sakit. Awalnya kukira rasa yang tersimpan dalam hati ini memiliki celah untuk sebuah balasan, namun diagnosaku salah. Bukan aku yang sedang ada di dalam hatinya.

Aku tak peduli. Tak peduli dia cinta padaku atau tidak. Aku cuma mencintainya, cukuplah itu, telah tertulis hal tersebut dalam buku catatan takdirku.

Bertubi rindu. Menunggu balas, entah kapan tiba. Aku rindu.

Baca Selengkapnya

Ayo Bersabar !!!

Mempelajari kesabaran itu serta keikhlasan memiliki kedalaman seluas lautan. Kesabaran tidak mengujimu dari seberapa berat penderitaanmu, namun juga menguji seberapa sanggup engkau menerima sebuah kenikmatan. Kebanyakan yang diuji dengan kesulitan berhasil lolos, namun ketika diuji dengan kenikmatan, betapa banyak yang jatuh bergelimpangan. Zuhud adalah jalan untuk tetap bersabar dalam kenikmatan.

Tuhan menguji kesabaranku dengan cinta. Dijadikan aku seorang lelaki yang pemalu. Tak pernah berani mengunggapkan cinta kepada orang-orang yang kucintai, sehingga akhirnya mereka-mereka yang kucintai itu satu per satu melangkah pergi, digandeng oleh orang-orang yang berhasil memperoleh cinta mereka.

Tuhan juga memberiku begitu banyak kecemburuan dalam hati, sehingga seseorang yang mencintaiku akan ditimpa ujian berupa kecemburuan yang sangat dariku. Mereka pun pergi karena tidak tahan dengan kecemburuanku dan berujung akulah yang harus kembali bersabar.

Baca Selengkapnya