(Bukan) Dari Mata Turun ke Hati

Dari 5 (lima) kali jatuh cinta, 2 (dua) yang terakhir aku cintai tanpa pernah bertatap muka langsung dengan mereka alias melalui dunia maya. Jadi, bagiku pepatah yang berkata: dari mata turun ke hati, tidak 100% adanya. Mungkin bagi orang-orang yang menomor satukan masalah rupa hal itu bisa saja terjadi, namun aku tidaklah demikian.

Salah seorang temanku, ketika bercakap-cakap denganku di udara pernah berkata begini: “Ben, aku tak percaya ada cinta yang berasal dari dunia maya tanpa menatap langsung orangnya.

Awalnya akupun tak percaya. Namun interaksi bisa membuat rasa itu hadir. “Tak kenal maka tak cinta,” begitulah kata pak lurah di desaku. Dan benar adanya, interaksi mampu membuat seseorang yang terpisahkan oleh jarak ribuan kilometer mampu jatuh cinta.

Baca Selengkapnya

Apa Kamu Tidak Malu?

Ben, apa kamu tidak malu menulis di blogmu tentang hal-hal pribadi tentang kamu?

Seorang teman pernah bertanya demikian padaku. Aku menjawab santai dengan tidak lupa memberikan senyuman khasku. “TIDAK!” Jawabku.

Hal-hal yang kuberitakan di blog ini bukanlah suatu berita besar, cuma beberapa kisah cinta, patah hati, dan hal-hal lebay lainnya yang memang aku membutuhkan aktualisasi diri. Tak mungkin aku pendam semuanya. Sebagian yang aku pendam cenderung terlupakan.

Aku tidak pernah membuat suatu diary khusus. Aku cuma memiliki sebuah blog, yang di sana aku menulis perjalanan hidupku, menulis kisah-kisah cintaku karena itu adalah bagian yang paling ingin aku kenang. Mungkin dengan berlebay-lebay bercerita di blog ini, pada suatu masa nanti aku akan kembali menelusuri setiap lembaran yang pernah aku ceritakan.

Andai temanku itu tahu, aku pernah kehilangan cinta karena blog ini.

Baca Selengkapnya

Karena Engkau Berharga

Di kesepian malam, entah mengapa jemari tanganku terus tergerak. Di antara berbagai jejaring yang kutelusuri, aku mengingat satu nama. Sebuah nama yang bagiku begitu berharga.

Aku mengetikkan www.google.com kemudian aku mengetikkan namanya. Sebuah nama yang terus menjajah alam pikirku selama ini, sebuah nama yang mampu membuat aku merenung hingga pagi berganti, sebuah nama khayal yang kutahu tak akan mampu kugapai. Bidadari ketiga.

Aku mengetik namanya. Aku menunggu. Google memberiku hasil, sederetan kunjungan persinggahannya di dunia maya, atau berderet-deret namanya di website yang memberitakan tentang dia.

Dia sama sepertiku, tidak menggunakan kekuatan anonymous di dunia maya. Aku melihatnya mengetikkan nama-namanya secara utuh, melihatnya memberikan email dan akses bagaimana cara menghubunginya. Aku tersenyum dengan semua itu, betapa utuhnya kami memiliki sifat yang sama. Aku seperti bercermin. Aku melihat aku dalam dirinya.

Baca Selengkapnya

I am Blogger !!!

1 November 2007 yang lalu, Aceh Blogger Community berdiri. Kini, genap sudah 2 tahun berdiri. Tak terasa berbagai kegiatan telah kami tempuh selama 2 tahun perjalanan kami. Dimulai dari pelatihan Blogging untuk anak-anak SMU seluruh Banda Aceh yang disponsori oleh Telkom Speedy dan Harian Aceh sebagai media partner, hingga penggalangan dana untuk muslim Rohingya yang terdampar di Aceh. Bahkan khusus untuk menggalang dana bagi muslim Rohingya tersebut kami membuat sebuah website dengan alamat www.saverohingya.com. Dari penggalangan dana, serta pelatihan blogging bagi siswa-siswi SMU se-Banda Aceh lah nama kami pun mulai berkibar.

Tak terasa pula sudah 2 tahun lebih saya ngeblog. Website ini dibuat pada tanggal 31 Maret 2007 bertepatan dengan ulang tahun saya pribadi. Tak terasa pula telah lebih dari 250 artikel dalam berbagai kategori, baik itu puisi maupun curhatan-curhatan saya yang dimasukkan ke sini. Banyak warna dalam kehidupan saya yang terekam. Entah itu duka, lara, nestapa, prahara, juga perasaan nelangsa dan sengsara. Sedikit sekali saya memberikan kebahagian saya melalui blog ini.

Blog ini adalah catatan kehidupan saya. Berisi hampir dari apa yang saya rasakan, tak dipungkiri penyampaian perasaan saya terkadang membuat beberapa pihak sakit hati bahkan para lelaki terkadang turun tangan menghubungi saya, mengkonfirmasi. Tak jarang beberapa adegan diedit sedemikian rupa agar tidak menyudutkan siapapun.

Blog yang penuh dengan subjekfitas. Demikianlah adanya.

Baca Selengkapnya

Bagaimana Dengan Bidadari

Lelaki itu berdiri di depanku. “Bagaimana dengan bidadari?” tanyanya membuka kata.

Aku terhenyak, baru-baru datang dalam ruang tanpa dimensi, dia malah bertanya itu. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Bagiku, jawaban atas pertanyaan itu bukanlah sekarang, ketika akupun belum dapat menentukan sosok bidadari itu.

“Mengapa diam?” desaknya.

Bidadari terakhir bagiku adalah “dia“, namun kami telah lama tidak saling berkirim kabar. Aku yang memulai atau dia dalam episode diam itu. Teramat lama hingga akupun lupa.

Baca Selengkapnya