Bagaimana Dengan Bidadari

Lelaki itu berdiri di depanku. “Bagaimana dengan bidadari?” tanyanya membuka kata.

Aku terhenyak, baru-baru datang dalam ruang tanpa dimensi, dia malah bertanya itu. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Bagiku, jawaban atas pertanyaan itu bukanlah sekarang, ketika akupun belum dapat menentukan sosok bidadari itu.

“Mengapa diam?” desaknya.

Bidadari terakhir bagiku adalah “dia“, namun kami telah lama tidak saling berkirim kabar. Aku yang memulai atau dia dalam episode diam itu. Teramat lama hingga akupun lupa.

“Dia” yang terakhir adalah yang mengajarkan aku sujud disepertiga malamku, setelah “dia”, aku tak lagi menemukan bidadari. Akupun teramat malu menyapanya lagi, kondisiku tidaklah seperti dulu. Aku yang sekarang adalah aku dalam kefuturan yang hebat. Aku yang menjadi suatu ambigu.

Pertanyaannya membuat akupun bertanya, “bagaimana “dia” bidadariku? Telahkah dia menemukan malaikat bagi hatinya, atau masih adakah ruang untukku menyapanya?”

Tersadar, akupun mengurung niat. Punggungku belum lagi tegak, belum lagi sesuai janjiku. Tunggulah nanti, ketika punggungku sudah tegak aku akan melamar, apakah engkau bidadari yang akan kulamar, ataukah yang lain.

Aku mulai mengerti maksud kedatangan lelaki itu. Pertanyaannya sebenarnya bukanlah, “bagaimana bidadari?” tetapi bagaimana dengan punggungku. Sudah tegakkah seperti yang kudampa, sehingga kelak akan lebih mudah aku mengikat kata.

Bagiku, cinta bukanlah sesuatu yang mutlak. Aku memilih rusukku bukan karena aku dalam keadaan cinta, namun aku memilih seseorang yang mampu berjalan bersamaku menegakkan punggung anak-anakku kelak. Seseorang yang menjadi jalan ketika aku mulai melenceng, bukan seseorang yang akan terus diam dibebek cinta ketika aku mulai melupakan Tuhan.

Namun aku terlalu takut. Takut jika Tuhan memilihkan seseorang yang setara denganku, karena aku tahu betapa jahilnya diriku ini. Semoga nanti, seseorang itu, seseorang yang akan menjadi sandaran bagi jantungku adalah seseorang di atasku, seseorang dengan kemuliaan jiwa dan ketulusan yang sempurna. Seseorang yang mampu menjadi sederhana.

Satu inginku. Kelak bidadariku adalah seorang wanita sederhana.

  • beni,.. blognya kok ngga ada yang kunjungi lagiii.. apa karena beni udah keasyikan dengan fb?
    amiin, semoga kelak bidadarimu adalah orang yang bisa menerimamu apa adanya dan sederhana ๐Ÿ™‚ seperti liza ๐Ÿ˜›

  • tulah liza, ntah napa ga ada yang kunjungi blog beni lagi (tepatnya ga ada yang komentar lagi)

    Sedih…

  • The Butterfly

    Buat iklan, gih!!

    Wakakakakk..

    Atau cak buat isi blog yang lain dari yang lain. Gak kek anak cengeng trus, gak kek kakek2 trus.. Hihihi..

    :))

  • aca hajriman

    Asw…
    bg baiquni…- saya boleh dunk minta ajari cara buat blog sprti blog pnya abg…???boleh ya???
    al nya blog abg bgus sih…!!!(jd iri…-iri tuk kabaikan kn gk pa2 ya…)
    makasih…
    was,,,,,,

  • Ayu al-jawi

    subhanallah……bgus bnget
    amiiiinnnn aja deh kk sgera brtemu dgn bidadarinya