Lelaki Yang Berbicara Tentang Angin

Lelaki itu kembali menggila. Kali ini dia berbicara tentang angin. Meracau betapa angin juga harus dihargai, angin merupakan bagian fundamental dari sistem jagat, angin adalah hal yang substansil.

Sumpah aku tak mengerti apa yang dikatakannya. Sumpah!

Aku sama seperti orang-orang lain yang hanya sekedar lewat melalui jalan itu, hanya sebuah kebetulan lelaki itu ada di sana. Hanya sebuah kebetulan! Aku sungguh tidak akan percaya jika ini bukan kebetulan, lelaki itu hanya membual saat berkata aku bukan kebetulan di sana. Dia memang pembual!

Selain tentang angin lelaki itu juga berkata tentang keterkaitan, berbicara tentang aksi-reaksi. Lelaki yang terus meracau tentang sesuatu yang tidak kumengerti. Lelaki yang benar-benar parah. Dia gila!

“Wahai lelaki yang selalu tertunduk, pernahkah engkau menatap angin?” lelaki itu meracau.

Tidak ada yang peduli, sama sekali tak ada yang peduli. Tidak! Masih ada yang peduli, peduli karena kasihan. Aku tahu itu cuma aku. Tidak yang lain! Lalu akupun menggeleng.
Baca Selengkapnya

Episode: Lelaki Kalah Perang

Lelaki itu menatapku lekat. Ada kehampaan dari matanya, kehampaan yang terlahir dari jiwa-jiwa letih yang penuh pengharapan namun harus tersungkur oleh kekalahan. Lelaki yang kalah oleh cinta.

“Ben, abang ga bisa melupakannya,” lelaki itu membuka suara. Seperti yang sudah-sudah, selalu tentang dia. Tentang wanita yang dimataku bukanlah apa-apa, wanita yang tak akan mampu menyandang predikat puteri atau bidadari. Wanita yang teramat biasa namun baginya adalah sebuah keharusan cinta. “Abang cinta banget sama dia.”

Aku diam, sengaja mencoba tidak memandang matanya memberikan waktu untuk melanjutkan segala keluh-kesah yang mengumpul dari jiwa-jiwanya yang gundah dan kalah.

…, tak ada lanjutan. Aku memandang matanya, mata yang layu kalah perang. Mata itu mulai mengkilat, mulai berair. Dia menangis.

Aku amat sangat mengerti apa yang dirasakannya. Aku pernah seperti itu.

Baca Selengkapnya

Lelaki Sepenggal Harap

Lelaki sepenggal harap
Mencoba menata hati dari kepingan yang terpecah
Belajar tegak berdiri dari keterpurukan
Mencoba berlari dari kesengsaraan hati
Lelaki yang selalu tertolak
Lelaki sepenggal harap

Lelaki itu terduduk pasrah. Baru saja kata-kata mematikan jiwanya, dia merasa amat sangat kalah. Tak pernah seperti ini, TIDAK PERNAH.

Wanita itu menolaknya, dengan suatu tolakan yang amat lembut namun laksana petir bagi jiwa-jiwa kecutnya, jiwa-jiwa yang tak pernah tersentuh oleh tantangan dan kedewasaan.

“Maaf, namun untuk saat ini saya tidak mau memikirkan itu,” wanita itu mencoba mengambil suatu alibi klasik untuk sebuah penolakan. Dalam hati wanita itu Sang Lelaki memang tidak pernah tercipta, tak pernah ada, bahkan walau hanya sketsa bayangan buram. Tidak pernah ada.
Baca Selengkapnya

LUGU

Kamu tidak bodoh ben, kamu hanya lugu… terlalu lugu.

Aku tak menghiraukan kata-katanya, tetap duduk melingkarkan tanganku pada lutut yang tertekuk. Separuh wajahku ngungsep dalam lipatan tangan berpangku pada lutut, hanya menyisakan sederet mata letih yang memandang aliran deras sungai.

Aku menarik nafas panjang, terlalu panjang rasanya untuk satu hirupan nafas, bagai bertualang rasanya ketika aliran oksigen bercambur uap air itu memasuki hidungku lalu menjalar dalam tenggorokku, berlalu cepat menuju paru-paruku dan dengan begitu cepat darah merampasnya, memperkosanya ke seluruh tubuh lalu nafas sisa kubuang. Satu hembusan yang panjang untuk sebuah kimia karbon dioksida yang kuhadiahkan kepada semesta.

“Terlalu lugukah aku?”, batinku sesak.
Baca Selengkapnya

Manusia Itu Berubah, TERAMAT CEPAT

Saya suka tersenyum ketika melihat anak-anak kecil, terkadang sambil berpikir; “Jika mereka dewasa, takdir seperti apa yang akan mereka tapaki ?“.

Hidup ini selalu berubah, terlalu cepat berubah malah. Pernahkah kita luangkan waktu sejenak untuk menatap masa lalu? Menatap masa kecil kita, menatap kembali saat-saat kita berusia tanggung, menatap masa-masa kita mulai belajar arti sebuah kedewasaan.

Teman-teman sering berkelalar, “Ben, kamu itu ga berubah ya dari dulu-dulu“ atau “Ben, kok kamu tuh masih macam kanak-kanak ?“. Jika saya menoleh ke kanan-kiri, ternyata mereka memang tidak berbasa-basi. Saya memang belum mampu untuk menjadi dewasa. Hidup dalam kemanjaan membuat saya selalu ingin dimanja, dan satu yang saya sadari bahwa terlalu berat rasanya meninggalkan kemanjaan itu.
Baca Selengkapnya