Meradang Sepi

Meradang Sepi,
gigilku mengguncang bumi
langitpun patah-patah
“Mengapa kesepian bisa sedemikian hebat?”
dan Tuhanpun terbahak

lampion-lampion telah kumatikan semua
tak pernah ada yang tahu
ssttt… aku meringkuk sendiri
pojok sudut ruang dingin pengap dan lembab
jangan ada yang tahu: aku sedang meradang sepi

Cinta bergelut
memaksaku memayapada
namun aku berontak
“biarkan aku sendiri!”
menikmati keindahan sepi

langitpun gugur
rontoklah semua bintang
dan gunung-gunung berhamburan
ibu hamil melahirkan anaknya
semua orang berontak, berteriak, berlari tak tentu arah
dan bumi telah habis usia
namun aku terpaku diam, sepi sungguh lebih hebat dari itu

kemari… ayo kemari
menikmati secanggir teh dari kesunyian
dan melahap cemilan dari kesendirian
lalu terbaring pulas, setelah kenyang
kita bermimpi tentang kesepian

Owh,
lagi-lagi Tuhan terbahak
dikiranya lucu!
menuliskan jalanku di kitab dengan kosakata sepi
membiarkanku sendiri

Tidak,
telah ada yang salah
aku tidak sepi, aku tidak sendiri
masih ada Tuhan yang terbahak
menertawaiku meradang sepi

Lelaki dan Cinta

Lelaki itu nge-BUZZ Yahoo Messenger ku. Aku kira ada apa, mungkin kami akan membangun topik lagi tentang pergerakan-pergerakan Islam, atau tentang sikap kritis dia mengenai partai yang menginjak ranah kampus akhir-akhir ini. Atau tentang Tarbiyah dan masa depannya.

Ternyata tidak. Kali ini kami berbicara tentang cinta.

Lelaki itu sedang jatuh cinta, sekaligus patah hati. Wanita yang dia cintai juga ternyata aku mengenalnya, seorang wanita yang memang kuanggap baik, kritis, cantik, dan agak manja. Wanita itu bernama… ah sudahlah, tak perlulah ku sebut namanya. Biarkan waktu memainkan peran sebagai penjaga rahasia yang baik, hingga jika tiba waktunya semua akan terungkap dengan indah.

Kadang aku merasa lelaki itu patetik, sama sepertiku. Selalu tersungkur, terjungkal, dan kalah oleh cinta. Dan sekarang, dia mencoba-coba bermain api.

“Apa yang membuatmu menyukainya?” Tanyaku suatu ketika.

“Dia berbeda Ben,” jawab lelaki tersebut. “Tidak seperti wanita pada umumnya. Dia surfive. Dia kritis. Dia memiliki hidup. Dia memiliki jiwa.”

Baca Selengkapnya

Bahkan Lelaki Pun Menangis

Bahkan lelaki pun menangis…

Barusan aku membaca blognya Rifka, ternyata dia baru saja mencoba menulis sebuah cerita. Judulnya Jangan Lagi Satria*.

Membaca ceritanya aku seperti membaca masa laluku, tentunya dengan tokoh, karakter, setting, dan alur yang berbeda namun memiliki garis besar yang identik. Sebuah pengakuan masa lalu yang ingin ku kubur dalam-dalam. Sebuah corengan dimukaku.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra : 32)

Dulu, teramat dulu aku pernah menyukai seorang wanita. Seorang wanita yang dengan keinginan kuat ingin kunikahi, tentunya aku ingin menikahi dirinya sebagai aku yang dewasa, bukan aku yang dulu yang masih terlalu kekanak-kanakan dan tidak mampu mandiri. Wanita itu amat begitu berarti bagiku, bahkan antara dia dan illah seperti hanya dibatasi oleh garis tipis. Aku terlalu memujanya.

Wanita itu dengan berlangsungnya waktu lebih aku cintai daripada sang puteri. Walau mungkin hingga saat ini dia tidak akan pernah menyadari betapa berartinya dia bagiku, tetapi itu dulu. Aku menyebutnya: Taman Surga.

Baca Selengkapnya

Buku Lagi

Hehehe… hari ini aku berburu buku lagi di pameran buku AAC. Kali ini aku tidak datang sendiri, aku ditemani oleh Mirza temanku, mantan ketua himpunan mahasiswa mesin fakultasku. Aneh, dia ke pameran buku malah beli susu kambing. Memang seh di pameran buku tidak mutlak buku yang dijual, tetapi ada juga susu kambing, VCD, murattal, dll.

Beberapa buku yang kubeli adalah:
Baca Selengkapnya

Berburu Buku

Huff… capek!

Baru pulang dari pameran buku di AAC, 300.000 duitku habis dilahap para tukang buku itu. Tapi ada sedikit kekecewaan, andai duitku lebih banyak tentu lebih banyak buku yang bisa ku kantongi. Huehehe…

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Kamis. Sorenya ketika siap shalat Ashar di Mesjid Ulee Kareng yang ada di depan Solong, aku duduk-duduk dengan bang Cho dan seorang lagi abang-abang yang tidak ku tahu namanya. Ternyata abang-abang yang tidak ku tahu namanya itu abangnya si montir. Beda 180° dari si montir, abangnya itu terlihat kharismatik dan wajahnya teduh (khas orang PKS) sedangkan si montir… masya Allah, tidak perlulah ku jelaskan di sini.

Dari abangnya si montir, aku tahu info tentang pameran buku di AAC, Darussalam. Begitu mendengar kata buku, aku langsung semangat. Memang aku ditakdirkan menjadi pecinta buku sejati.

Demikianlah kronologisnya mengapa aku terjebak dengan promosinya abang si montir (walo abangnya itu tidak promosi seh). Dan akhirnya ini lah aku, sedang menulis blog sehabis pulang dari pameran buku, menghabiskan uang 300 ribu, penat, capek, namun masih saja kecewa karena andaikan lebih banyak uang tentu lebih banyak buku yang bisa kubeli. Hehehe…

Berikut ini adalah beberapa buku yang kubeli. DILARANG MINJAM !!!

Baca Selengkapnya